SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Ketahuan



"Ada apa dengan dirinya?"


"Pangeran Fathur nona, bukan dirinya." Macron berkata dengan penuh penekanan dan menatap tajam kearah Aya. Dia mulai kesal dengan sikap Aya yang terlalu lancang memanggil pangeran Fathur dengan sebutan dirinya. Sementara Aya sudah tau jika Fathur adalah seorang pangeran.


Aya memutar bola matanya tidak menggubris Macron, lalu mendekatkan tubuhnya untuk melihat Fathur lebih dekat.


"Berhenti, anda tetap disana saja."


"Minggir kamu, Aya menepiskan tangan Macron hingga membuat tubuh lelaki tersebut terpelanting. Aya membelalakkan matanya seakan akan tidak percaya dengan hal yang barusan dilakukannya, ia kaget melihat Macron yang terduduk disamping tembok sambil mengerang menahan rasa sakit padahal ia hanya menepis tangan Macron agar tidak menyentuh dirinya. Aya tidak menyadari kekuatan yang dimilikinya dari hari ke hari makin bertambah kuat.


"Maaf, aku tidak sengaja tuan." Aya mengulurkan tangannya untuk membantu Macron namun ditepis oleh Macron.


"Kalau tidak sengaja, apa namanya nona."


"Aku benar benar tidak tau jika aku sekuat ini tuan."


"Ya sudahlah jangan dibahas lagi. Lebih baik kita bahas tentang kepulangan anda. Sepertinya kepulangan anda ditunda nona." Ucap Macron dengan nada sedikit kesal karena mengingat bagaimana dirinya terpelanting di sisi tembok.


"Tidak bisa tuan, kamu saja yang menunjuk arah jalan keluarnya, setelah sampai di pintu istana kamu bisa kembali ke tempat peristirahatan pangeran biar aku yang pergi sendiri."


"Tidak. Pangeran akan murka nona, lebih baik kita tunggu dia kembali sadar saja."


"Bukankah kamu sendiri yang katakan tadi sore, jika pangeran mengantarku maka nyawanya akan menjadi taruhannya. Apa kamu mau pangeran di hukum dan dibenci oleh raja jika keluar lagi dari istana ini. kamu hanya perlu menunjukkan arah untukku." Ucap Aya mempengaruhi Macron agar ia mau menuruti permintaan Aya.


"Tapi nona, penjagaan diluar sana sangat ketat."


"Aku belum mencobanya tuan."


Aya sebenarnya bisa membuat Fathur sadar namun ia sengaja tidak melakukan hal itu. Agar ia bisa mudah pergi tanpa dibantu oleh Fathur. Aya melihat Macron masih ragu. Iapun tidak tinggal diam. Ia terus mempengaruhi Macron dengan kata kata.


"Tuan Macron, jika saya disini terlalu lama maka cepat atau lambat saya akan menjadi sebuah akar masalah. Akan ada beberapa pengawal atau pelayan yang curiga kenapa dilantai atas ini dijaga begitu ketat jika pangeran tidak ada. jika hal ini sampai di telinga Alexa atau sang raja. Apa anda tidak bisa bayangkan apa yang dilakukan oleh Alexa. Apa anda tidak terfikir sejauh itu tuan Macron."


Macron mulai terpengaruh dengan kata kata Aya, karena yang dikatakan Aya ada benarnya juga. Macron mengingat kejadian disaat ibu suri menemui pangeran, mengirim beberapa prajurit, lalu mengajak makan malam hingga membuat pangeran tertidur.


"Tuan Macron"


"Tuan." Yoena menggerakkan tangannya di depan mata Macron untuk menyadarkan dirinya.


"Oh ya nona." Macron terbangun dari lamunannya.


"Bagaimana, apa kamu setuju."


"Ya, baiklah. Setengah jam lagi kita akan bergerak. Macron memanggiil dua orang prajurit setianya untuk menjaga Pangeran. Prajurit yang kemaren ikut kedalam hutan belantara.


Aya bersama Macron sudah bersiap siap untuk pergi. mereka berdua melangkahkan kakinya kedalam sebuah ruangan khusus yang ada di dalam kamar Fathur.


"Ayo, masuk."


Macron membukakan sebuah pintu rahasia yang terdapat didalam ruangan khusus tersebut. Aya mengikuti langkah kaki Macron dengan perlahan lahan. Mereka berdua menutup pintu itu kembali. Lalu menuruni beberapa anak tangga untuk sampai kedalam sebuah lorong bawah tanah yang sangat gelap. Macron menghidupkan api bor untuk memberikan mereka cahaya lalu melanjutkan perjalanan.


"Aku akan mengantarmu sampai ujung nona, setelah itu kamu harus melawati beberapa pengawal."


"Baiklah tuan."


Setelah sampai di tengah perjalanan mereka mendengar suara langkah kaki orang berjalan. dengan sigap Macron mematikan apinya. mereka melihat dari kejauhan ada beberapa prajurit yang sedang berada tidak jauh dari sana.


"Mengapa mereka ada disini." lirih Macron.


"Tentu saja mereka sedang berjaga tuan."


"Ruangan ini hanya pangeran dan aku serta dua orang pengawal yang barusan kuperintahkan untuk menjaga pangeran yang mengetahuinya."


"Berarti ada penghianat diantara kalian berempat."


Macron spontan menatap Aya lalu tiba tiba berlari meninggalkan Aya.


"Hei tuan, mau kemana?"


"Mau melihat keadaan pangeran, nona."


"Bagaimana denganku?"


"Keselamatan pangeran lebih penting nona."


Aya berlari mengikuti langkah kaki Macron dengan penuh kekecewaan. lagi lagi kepergiannya ditunda.


"Tunggu, siapa kalian." beberapa prajurit menghadang langkah kaki mereka.


Whooosh... Whooosh...Woosh...


Suara pedang Macron berhasil mengalahkan dua orang prajurit tanpa bantuan Aya. Aya pun hanya melewati beberapa pengawal yang telah tersungkur dibawah tanah.


Macron terus mempercepat langkahnya untuk melihat keadaan pangeran. Merekapun sekarang sudah berada disebalik pintu rahasia. Macron ingin membuka pintunya. Namun Yoena menghalanginya karena Yoena mendengar ada suara langkah kaki seseorang dibalik pintu tersebut.


"Dimana pintu rahasianya." terdengar suara seorang lelaki sedang membentak kepada seseorang.


"Diruangan ini panglima."


"Iya, tapi mana." Cari sampai ketemu. Jika tidak ketemu akan kupotong lidahmu.


pengawal yang diperintah dengan cepat mencari pintu rahasia yang lantainya semua kelihatan sama.


" Sudah ketemu belum?"


"Belum tuan."


"Tarik dia keluar, hukum dia karena sudah berani membohongiku."


"Tidak tuan, Aku tidak bohong. memang ada ruang rahasia dibawah ini tuan."


"Tuan, Tuan, Tuan."


Panglima Eben tidak menggubris teriakan pengawal tersebut. Ia melangkahkan kakinya untuk keluar lalu berhenti sejenak menatap wajah Fathur yang sedang tertidur.


"Heh dasar bocah ingusan, baru dicambuk sudah tidak berdaya gini kamu." ucap Eben sambil berlalu melangkahkan kakinya pergi menuju tempat Alexa. Panglima Eben tidak tau jika pangeran Fathur tertidur karena efek ramuan yang diminumnya.


Setelah merasakan semua orang pergi, Macron dan Aya membuka pintu rahasianya untuk masuk. Macron mengunci pintu sambil berharap tidak akan ada yang curiga.


"Apa kamu yakin panglima Eben tidak akan menemui pintu ini? ucap Aya sambil tersenyum sinis.


"Akupun kurang yakin, prajurit yang kita serang tadi pasti akan memberi informasi kepada Eben.


"Apa kamu bisa membantuku? ucap Macron yang sebenarnya malas mau minta pertolongan Aya.


"Apa yang akan kudapati setelah menolong kalian? mengusahakan aku untuk keluar dari sini saja kalian tidak berdaya." Ucap Aya melenggang pergi meninggalkan Macron menuju kamar. Namun langkah kaki Aya berdiri mematung.


Macron menarik nafasnya lalu meninggalkan ruangan tersebut untuk melihat keadaan pangeran. namun tanpa dia sadari Ibu Suri sudah ada dikamar pangeran Fathur. Ibu suri yang awalnya terkejut melihat kedatangan Aya, kini lebih terkejut melihat Macron ada dibelakangnya.


"Macron, dari mana saja kamu? kata pelayan kamu keluar lalu kenapa kamu tiba tiba ada muncul di ruangan ini." Bentak ibu suri.


Ibu suri yang mendengar kabar panglima Eden datang ketempat peristirahatan Fathur langsung bergerak cepat untuk melihat keadaan cucunya. Ia sempat bertemu dengan Eben di pintu keluar. Namun ia hanya menatap tajam Eben lalu langsung menuju ke kamar.


Aya yang melihat situasinya canggung, ia berbalik badan untuk bersembunyi.


"Berhenti, siapa kamu?"


Aya menelan salivanya, Ia hanya menatap Macron.


"Apa kamu meninggalkan ruangan ini hanya demi wanita ini Macron? Ucap Ibu suri murka.


"Tidak ibu suri."


"Apa kamu tidak tau karena kepergianmu, Eben dengan mudahnya masuk ke kamar ini. Belum lagi semua pelayan kamu perintahkan untuk berada dibawah. Apa kamu bersekongkol dengan ratu Alexa."


Macron tidak tau mau menjelaskan bagaimana, karena pangeran masih juga belum sadarkan diri. Dia takut jika salah bicara pangeran Fathur akan dihukum lagi.


"Baik, jika kamu tidak mau bicara kita tunggu pangeran bangun, gadis itu akan kubawa ketempatku agar tidak kamu sembunyikan."


"Jangan ibu suri."


"Kenapa kamu takut berpisah dengan gadismu atau jangan jangan dia gadisnya pangeran?"


Ibu suri mendekati Aya, diangkatnya dagu Aya lalu mata mereka saling bertatapan. Aya sedikitpun tidak berkedip membalas tatapan ibu suri, sorot matanya fokus seakan akan menantang.


"Dia bukan wanita biasa, dia bukan dari keturunan jelata. Jika dia wanita biasa maka sorot matanya tidak akan seperti itu. Gadis ini didik untuk menjadi pemimpin. Dia pasti keturunan bangsawan." gumam ibu suri didalam hatinya lalu melepaskan tangannya.


Dilihatnya tubuh dan kulit Aya yang cantik, seakan akan mengingatkan dirinya kepada seseorang. Namun ia lupa siapa orang tersebut.


"Dia milikku sampai pangeran terbangun."


"Dia tidak akan melarikan diri ibu suri. bukankah pengamanan sangat ketat.


"pengawal, bawa gadis itu" Ibu suri meninggalkan Macron tanpa menggubrisnya.