
"Singa?"
"Panah?"
"Maksudmu ada Seekor singa yang tertusuk panah. Bukankah begitu Zeya?
"Iya tuan Macron. Ada seekor singa yang baru datang dan terluka. Pangeran Fathur sangat menyayanginya begitu juga sebaliknya.
"Baiklah Zeya, apa tidak ada kabar tentang gadis yang bersama pangeran Fathur?"
"Ada tuan, Wanita itu kemaren malam sampai di peristirahatan dalam keadaan penuh dengan luka. Pangeran Fathur menggendongnya langsung hingga menuju kedalam kamar."
"Apa kejadiannya sama dengan kedatangan singa?"
"Kelihatannya seperti itu tuan."
"Baiklah Zeya, kamu bisa kembali."
Panglima Eben duduk memandang ketempat peristirahatan Fathur. Fikirannya mulai mencari jawaban atas laporan Zeya.
"Sepertinya ada sebuah rahasia yang ditutupi oleh pangeran Fathur.
"Pengawal."
"Ya panglima."
"Ayo, kita temui prajurit yang menjaga gerbang istana."
"Baik, panglima." Pengawalpun dengan cepat bergerak mengikuti langkah kaki panglima Eben.
Sesampainya di depan gerbang istana, panglima Eben sibuk mencari tau siapa yang berjaga malam disaat pangeran Fathur pergi berburu. Setelah sampai di gerbang istana. Panglima Eben memanggil salah seorang prajurit yang tidak jauh dari dirinya berdiri.
"Kamu, kemari!"
"Baik panglima."
"Siapa yang bertanggungjawab menjaga pintu gerbang disaat pangeran Fathur pergi berburu?"
"Saya tidak tau panglima."
"Apa ada yang tau siapa yang menjaga gerbang disaat pangeran Fathur pergi berburu?" teriak panglima Eben melihat kearah prajurit yang ada disekitar.
"Penjaga malam itu bernama Wero, panglima." ucap seseorang yang lagi berdiri menjaga gerbang istana.
"Panggil dia dan bawa dia kesini."
"Dia tidak ada panglima. Dia pergi menuju tempat peristirahatan pangeran Fathur." ucap temannya.
"Bugh... " Sebuah tinju melayang kearah teman Wero. Temannya yang tidak mengerti hanya bisa pasrah jika sudah berhadapan dengan panglima Eben yang terkenal dengan berhati iblis tersebut.
"Cepat kejar dia!"
"Dia sudah pergi sejak dua jam yang lalu dan sampai sekarang belum kembali panglima." ucap prajurit tersebut ketakuta.
"Argh..." teriak panglima Eben dan menendang apa yang ada didekatnya lalu pergi meninggalkan gerbang istana.
"Aku terlambat. Seharusnya aku yang lebih dulu menemui penjaga itu. Sekarang pasti Macron menyuruhnya untuk tutup mulut. Jika aku menyiksanya pangeran Fathur akan curiga."
"Bugh..." Eben meninju sebuah dinding yang ada didepannya. Kemudian sebuah ide tebersit dikepalanya.
"Pengawal."
"Iya panglima."
"Panggilkan beberapa orang yang gesit dan lincah kesini."
"Baik panglima." Prajurit tersebut bergerak mencari teman temannya lalu tidak beberapa lama muncullah lima orang yang berbadan kecil namun gerakannya sangat gesit.
"Kalian kuperintahkan untuk melepaskan singa dari kandang yang ada dihalaman pangeran Fathur dan bawa kemari. Jika ia melakukan perlawanan lumpuhkan dia."
"Baik tuan." Mereka berlima menghilang dalam sekelip mata dengan gerakan gesitnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB dini hari. Aya yang sudah berada dikamar sedang menatap keluar jendela. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar dirinha bisa mengalahkan kekuatan iblis terkutuk yang ada didalam tubuhnya sendiri. Ia tidak mau orang yang disayang satu persatu akan pergi meninggalkankan dirinya sebagai tumbal atas kesalahan dirinya.
"Aku tidak ingin menjadi seperti Selena hidup sendiri. Aku tahu aku salah telah memilih jalan ini. Tapi aku tidak ingin pasrah oleh keadaan. Aku ingin memiliki kekuatan ini tapi aku tidak ingin mereka yang kusayang mati dengan sadis dihadapanku."
Aya membalikkan badannya untuk menuju ranjang empuk namun tiba tiba langkahnya terhentikan karena matanya tidak sengaja melihat ada sekelebat bayangan hitam yang ada dibawah. Ia pun kembali berada ditepi jendela sambil mengintip dibawah sana.
"Lho, ada apa dengan pengawalnya. Kenapa mereka semua tidak bergerak. Mereka tertidur atau pingsan." Aya pun akhirnya memutuskan untuk melihat langsung dari dekat.
"Whoosh..." Aya meloncat ke bawah lalu bersembunyi disebalik pohon. Setelah merasakan di sekelilingnya aman ia menghampiri prajurit yang tidak jauh darinya.
"Mereka pingsan."
"Bugh... bugh... bugh..." Aya mendengar suara orang saling memukul di halaman belakang. Iapun terbang ke atas pohon lalu meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain.
"Apa yang ingin mereka lakukan dengan singa itu? Bukankah itu singa yang ada dihutan belantara itu."
Orang suruhan panglima Eben berhasil melumpuhkan pengawal yang bertugas menjaga tempat peristirahatan Fathur. Mereka membekap semua hidung pengawal dengan ramuan yang bisa membuat orang terlelap apabila menghirupnya. Setelah rasanya selesai mereka membuka kandang singa yang lagi tertidur.
"Bagaimana cara kita membawanya? ucap temannya kepada yang lain.
"Kita semprotkan kandang ini dengan ramuan ini. Agar ia terelap tidur dan tidak terbangun. Setelah itu kita bawa ke hadapan panglima Eben.
"Setuju."
Aya yang melihat dan mendengarkan rencana mereka langsung menggerakkan semprot itu dengan kekuatan sihirnya kearah orang suruhan panglima Eben.
"Hei, Apa yang kamu lakukan?"
"Kamu akan membuat kita tertidur disini."
"Aku tidak tahu, semprotannya bergerak dengan sendiri." ucap temannya yang masih memegang botol semprotan.
"Bugh." temannya memukul dirinya hingga ia terjatuh dan mengambil botol semprot. Namun disaat ia menyemprotkan kearah singa, botol semprot tersebut mengarah kepada dirinya dan teman temannya seperti kejadian teman yang pertamanya.
"Akukan sudah bilang kamu tidak percaya sich." ucap temannya yang mendapat sebuah pukulan tadi.
"Iya, bagaimana ini."
"Ayo kita pergi dari sini." Merekapun berlari sekencang mungkin namun belum jauh mereka berlari ramuan penenang tadi sudah berfungsi ditubuh mereka hingga membuat mereka merasakan pusing lalu terjungkal ke tanah.
"He he he... Kalian salah masuk kandang." Gumam Aya tersenyum geli lalu menggerakkan tangannya membentuk tali seperti jaring laba laba lalu menggantungnya diatas pohon yang besar.
Kemudian Aya membangunkan semua pengawal dengan sebuah cahaya cahaya dan melemparkannya keudara.
Aya kembali ke kamar lalu membaringkan dirinya diatas ranjang sambil menatap langit langit.
"Cepat atau lambat mereka akan tahu siapa diriku? Mereka pasti sudah mulai mencurigai diriku. Begitu juga dangan dirinya. Aku tidak boleh jatuh cinta kepadanya. Aku hanya punya dua pilihan aku yang akan membunuhnya atau dia yang akan membunuhku." ucap Aya lirih sambil mengingat pangeran Fathur.
Sementara dilain sisi pengawal yang sudah terjaga langsung saling bertatapan.
"Dimana dia? Dimana?" Mereka sibuk mencari penyelusup yang baru masuk tadi. Mereka berkeliling mencari namun tidak ketemu.
"Hei lihat, diatas sana!"
Beberapa pengawal memandang kearah yang ditunjuk temannya. Mereka berlihat ada beberapa orang berpakaian serba hitam sedang berada diatas pohon. Mereka digantung oleh sebuah jaring.
"Siapa yang melakukannya. Apakah tuan Macron atau pangeran Fatur?"
"Aku tidak tahu. Yang jelas bukan kita. Kita semua tertidur."
"Ya sudah kita tunggu besok pagi saja."
"Bagaimana dengan mereka?"
"Kita harus memgawasinya agar mereka tidak kabur sampai pagi. Agar tuan Macron tidak marah."
"Baiklah." Para pengawalpun berbagi tugas untuk menjaga orang suruhan Eben yang masih pulas dalam tidur mereka.