
Suasana subuh sudah mulai terlihat. Suara ayam yang sedang bernyanyi terdengar saling sahut menyahut membangunkan manusia untuk mencari sesuap rizki dan keberkahan disubuh hari. Didalam sebuah ruangan terbuka pangeran Zein sedang terlihat melakukan olahraga rutin dipagi hari.
Tetesan keringat yang mebasahi rambutnya dan juga sekujur tubuhnya membuat penampilan dirinya kelihatan begitu sexy ditambah lagi dengan tubuh proposional yang ia miliki sangat memanjakan mata wanita yang akan melihatnya.
Setelah rasanya cukup dengan olahraga yang telah ia lakukan. Pangeran Zein menuju sebuah kursi goyang yang ada disudut. Disana sudah ada Lexdo yang tidak tahu kapannya datang sedang menunggu pangeran Zein untuk menyampaikan laporan.
"Sejak kapan kamu disini?"
"Sekitar dua puluh menit yang lalu pangeran."
"Bagiamana dengan gadis itu tadi malam?" ucap pangeran Zein sambil menyeruput minuman yang sudah tersaji diatas meja. Lexdo menjelaskan apa yang dilihatnya tadi malam secara detail. Pangeran Zein yang sudah sangat yakin jika apa yang diucapkan pangeran Fathur tidak bohong. Tidak begitu terkejut mendengarnya.
"Heh benarkah?" pangeran Zein menggoyangkan kursi goyangnya sambil memejamkan matanya mendengarkan penjelasan dari Lexdo.
"Iya pangeran. Semua barang bergerak dengan sendiri dalam gerakan yang begitu cepat. Dalam hitungan detik selesai begitu saja. Mataku tidak salah lihat."
"Hem baiklah. Aku percaya padamu. Bagaimana dengan lukisannya. Apakah kamu sudah mendapatkan informasinya. Pangeran Zein bangun dari kursi goyangnya dan memandang kolam ikan yang ada didepannya.
"Sudah tuan. Di daerah kekuasaan kita ini tidak ada satupun yang mengenali lukisan tersebut. Saya akan mencari tau di wilayah lain. Saya ingin meminta izin kepada pangeran untuk keluar dari istana ini selama seminggu."
"Baiklah. Minggu depan kamu ku izinkan untuk melakukan perjalanan tersebut dan kamu bisa membawa beberapa orang prajurit yang kamu butuhkan."
"Terimakasih pangeran." ucap Lexdo berlalu pergi meninggalkan pangeran Zein yang masih menatap kolam ikan dengan beraneka ragam ikan hias.
Sepeninggalan Lexdo pangeran Zein bergelut dengan fikirannya sendiri.
"Siapa gadis itu? Dia pasti bukan gadis biasa. Kehadirannya yang tiba tiba di tambah lagi dirinya seperti memiliki keinginan untuk mendekati pangeran Fathur dan juga keluarga kerajaan."Batin Pangeran Zein.
"Apa mungkin gadis itu adalah seorang pengawal kerajaan yang menyamar? Dari lukisan yang ditemui Zeya dikamarnya jelas terlihat wanita dan lelaki itu adalah seorang raja dan ratu. Dari kerajaan manakah ia berasal?" guman pangeran Zein kemudian ia memutuskan untuk kembali karena ia tidak mendapatkan jawabannya.
Pangeran Zein menuju kedalam kamarnya untuk membersihkan diri dan melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Setelah terlihat sempurna pangeran Zein keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian santai. Hari ini dia tidak memiliki kegiatan yang penting.
"Lexdo, temani aku keperpustakaan. Aku ingin membaca buku disana." ucap pangeran Zein yang kutu buku.
"Baik pangeran. Apa kita perlu membawa Aya?"
"Tentu saja. Bukankah itu tugasnya. Lebih sering kita menghabiskan waktu bersamanya lebih banyak kita tahu rahasianya dan siapa dia. Itu lebih baik."
"Saya akan memanggilnya pangeran."
"Baiklah. Jangan terlalu lama."
Lexdo menuju sebuah ruangan tempat pelayan bersantai jika mereka sedang off.
"Dimana Aya?" ucap Lexdo kepada seorang pelayan.
"Kami tidak melihatnya seharian."
"Benarkah? Apa dia masih tidur. Kalian cari dia sekarang juga. Pangeran Zein sedang menunggunya.
"Baik tuan." Semua pelayan yang lagi off mencari Aya di kamar dan di setiap sudut ruangan.
"Itu dia." ucap salah seorang pelayan.
"Aya.....! teriak salah satu pelayan. Aya yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh kearah suara dan dengan cepat bergerak menuju pelayan tersebut.
"Pangeran Zein menunggumu.
"Baiklah. Terimakasih." ucap Aya sambil berlari kecil. Dirinya baru saja melakukan latihan pedang. Keringat yang membasahi tubuhnya menyebarkan aroma melati yang sangat harum hingga memenuhi ruangan.
"Apa kalian mencium aroma melati?" ucap salah satu pelayan.
"Ich.. apa jangan jangan disekitar sini ada hantu." ucap seorang pelayan sambil bergidik ngeri.
"Hus dasar. Itu bau aroma parfum gadis yang baru kerja tadi. Namanya Aya."
"Apa kalian yakin itu aroma parfum. Mana mungkin pelayan seperti kita bisa memiliki parfum. Kalian taukan parfum itu hanya untuk kaum bangsawan. Harganya mau satu bulan gaji kita."
"Sudah. Kalian taukan kepala pelayan tidak suka kita saling menceritakan teman sesama pelayan. Siapapun yang sudah berada didalam sini adalah keluarga kita. Kita dilarang iri, cemburu, dengki ataupun berprasangka buruk. Bisa dihukum kita."
"Iya. Ayo kita kembali ke tempat kita." Mereka semuapun pergi menuju tempat santai selama off.
Sementara Aya yang sudah sampai didepan pangeran Fathur. Dirinya menghentikan langkah lalu membungkukkan badan.
"Maaf telat pangeran. Ada apa pangeran?" ucap Aya sambil ngos ngosan dan tubuh yang dipenuhi oleh tetesan keringat namun pakaiannya tidak basah.
"Ayo. Ikuti aku." Pangeran Zein melihat Aya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dirinya melihat Aya yang sangat berantakan namun masih terlihat cantik dan sangat harum sekali.
"Apa kamu menggunakan parfum?"
"Tidak pangeran. Ada apa?" ucap Aya sambil hidungnya mengendus bau badan tubuhnya. Dirinya menjadi salah tingkah.
"Tidak ada." Pangeran Zein berlalu pergi dan diikuti Lexdo.
"Apa tubuhku bau. Apa karena keringat yang membasahi tubuhku ini? Batin Aya menjadi kurang percaya diri.
"Ech, ada pangeran Zein." ucap Putri Liana yang sedang berjalan menghirup udara pagi bersama pangeran Fathur.
"Selamat pagi putri Liana." ucap pangeran Zein ramah dengan senyum menggoda. Pangeran Fathur yang melihat gelagat pangeran Zein menjadi emosi.
"Apa kamu memang menyukai apa yang sudah menjadi milikku Zein?" ucap Fathur menyunggingkan senyumnya.
"Mungkin bisa jadi ya dan bisa jadi tidak." ucap pangeran Zein tersenyum.
"Kurasa iya. Bekas kusaja kamu mau."
"Maksudmu?"
"Apa kamu pura pura tidak mengerti. Bukankan pelayan disampingmu adalah bekasku." Semua mata tertuju kepada Aya. termasuk prajurit yang menemani putri Liana dan pangeran Fathur.
"Ha... ha... ha... Apa maksudmu bekas?" Apa kamu mengumunkan kepada kami semua bahwa kamu sudah tidur bersamanya. Itu bukan urusanku."
"Cih. Siapa juga yang mau tidur sama pelayan. Apa kamu fikir diriku sama dengan dirimu. Aku tidak serendah dirimu."
"Terus apa maksudmu bekas? bagiku jika bekas itu apabila sudah kamu pakai tidur bersamamu. Bukankah begitu putri Liana?" ucap pangeran Zein sambil mengernyitkan matanya kepada sang putri hingga membuat pangeran Fathur makin kesal.
"Bukankah dia dulu orangku dan sekarang menjadi orangmu."
"Ha.ha.ha.... Putri Liana, sepertinya kamu harus menjaga calon suamimu dari gadis ini. Apakah hanya aku saja yang merasa dia cemburu kepadaku karena gadis ini bekerja padaku." ucap pangeran Zein berlalu dan meninggalkan rombongan putri Liana.
Pangeran Fathur menatap Aya dengan penuh amarah. Tatapannya seakan akan ingin mencabik tubuh Aya
"Dasar gadis tidak tau diri! Sudah ditolong malah menikam dari belakang." gumam pangeran Fathur.
Aya melihat sekilas kearah pangeran Fathur kemudian mengikuti pangeran Zein.
"Aku salah menilai tentang dirinya. Hampir saja aku menceritakan rahasiaku kepadanya. Ternyata sifatnya sangat kekanak kanakan. Disaat dirinya tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dia menghujani diriku dengan berbagai peluru yang selalu bisa membunuhku." batin Aya mengingat tingkah pangeran Fathur yang sangat labil.
Pangeran Zein sesekali menoleh kearah Aya yang larut dalam fikirannya. Aya tidak menyadari jika pangeran Zein sedang mencari tahu reaksinya atas apa yang barusan terjadi.