SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Pangeran Zein Mulai Mengetahui Tentang Aya



"Letakkan saja diatas itu" ujar pangeran Zein kepada Lexdo.


Pangeran Zein membukakan paket yang dibawa oleh Lexdo dan melihat semua judul buku yang diantarkan oleh kepala perpustakaan. Mata pangeran Zein beralih kesebuah lukisan kecil. Lukisan tersebut menggambarkan seorang raja Alexandro sedang bersama sang ratu dan juga seorang bayi kecil. Disudutnya tertuliskan sebuah tanggal kelahiran bayi tersebut dan juga sebuah nama "Putri Carraya".


"Lexdo, apakah bayi ini sama dengan Aya?"


"Saya tidak bisa memastikan pangeran karena lukisan ini diambil disaat baru lahir sementara nona Aya sekarang sudah tumbuh menjadi wanita dewasa."


"Benar juga." Pangeran Zein menganggukkan wajahnya tanda mengerti.


"Lalu bagaimana dengan tulisan dibawah ini?" pangeran Zein menunjuk sebuah tulisan tangan yang jika dirangkai bacaaannya menjadi "Putri Carraya.


"Sepertinya itu nama bayi yang digendong oleh ratu Alexandro."


"Apakah putri Carraya adalah orang yang sama dengan Aya?"


"Bisa jadi pangeran. Jika kita lihat dari tanggal kelahiran putri Carraya berarti sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis cantik berumur kisaran 25 tahun."


"Lebih baik kamu jangan pergi dulu keluar dari kerajaan ini sebelum aku membaca semua informasi yang bisa aku dapati dari buku ini."


"Baiklah pangeran."


"Ayo, kita keluar. Ada sesuatu yang ingin kukerjakan. Jangan bawa gadis itu lagi."


Pangeran Zein dan Lexdo pergi meninggalkan tempat peristirahatannya menuju sosok yang dicari.


Sementara itu Aya yang sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian kelihatan lebih segar dari tadi. Dirinya mencari dimana keberadaan Lexdo dan pangeran Zein. Setelah ia memastikan kedua pria tersebut sedang tidak ada ditempat iapun memutuskan untuk kembali keperpustakaan.


"Aku harus membaca buku itu. Aku penasaran dengan apa yang tertulis disana." batin Aya.


Aya melangkahkan kakinya langsung menuju ruang dimana ia berada bersama pangeran Zein tadi pagi namun disaat ia ingin masuk keruangan tersebut ia dicegat oleh penjaga perpustakaan.


"Anda tidak boleh masuk kedalam nona?"


"Kenapa? Saya ingin membaca buku."


"Anda boleh membaca buku yang ada disekitar sini dan lantai bawah nona. Namun di ruangan sini hanya keluarga istana yang boleh masuk."


"Saya hanya sebentar."


"Tidak bisa nona."


Disaat terjadi sebuah perdebatan kecil antara Aya dan penjaga perpustakaan. Kepala perpustakaan datang menghampiri mereka.


"Ada apa?"


"Oh kepala perpustakaan. Saya ingin masuk membaca buku yang belum selesai saya bacakan namun penjaga istana melarang saya. Bolehkah anda izinkan saya sebentar?"


"Baiklah nona. Ini semua karena anda orangnya pangeran Zein. Silakan."


"Terimakasih kepala perpustakaan."


Aya pun masuk kedalam ruangan dan bergegas menuju rak buku dimana ia menemukan buku tentang kerajaaannya. Namun hampir satu jam dirinya mencari ia tidak menemukannya kembali.


"Dimana buku itu?" gumam Aya.


"Ada yang bisa saya bantu?" ucap salah satu pelayan yang bekerja diperpustakaan. Pelayan tersebut sedang merapikan buku yang ada diruangan tersebut.


"Oh, saya lagi mencari buku yang saya baca tadi?"


"Apakah anda.menemukannya?"


"Tidak." ucap Aya muram.


"Maafkan saya nona. Saya tidak bisa membantu. Terkadang pembaca disini begitu. Mereka tidak mau lagi meletakkan buku dimana mereka mendapatkannya. Mereka membiarkannya dimeja dan akan diambil oleh pelayan yang membersihkannya. Nanti akan disusun kembali oleh pegawai kerajaan."


"Jadi dimana buku itu sekarang?"


"Biasanya ada diruangan paling atas dan tidak boleh dimasuk oleh sembarang orang."


"Kapan akan disusun kembali?"


"Biasanya setiap sebulan sekali pada tanggal 1. Semua buku akan diletakkan pada tempatnya berdasarkan abjad dan judul.


"Mengapa lama sekali?"


"Biasanya mereka melihat ada sesuatu yang rusak atau tidak dahulu. Jika ada yang rusak atau sobek mereka akan memperbaikinya. Selebih itu saya tidak tau nona. Begitulah peraturannya.


"Hem baiklah. Terimakasih."


Aya melangkahkan kakinya keluar dengan berat hati dan kembali ketempat peristirahatan. Didalam perjalanan pulang ia bertemu dengan segerombolan prajurit yang sedang bergosip.


"Iya. Sejak dipenginapan kerajaan Zimba. Aku tidak pernah bertemunya lagi. Dia menghilang begitu saja."


"Tapi kenapa tidak ada yang menyadarinya?"


"Kita sibuk disaat itu."


"Tapi aku melihatnya malam itu pergi bersama ratu Alexa. Namun hingga pagi dirinya tidak kembali kekamar."


"Huz.. kamu. Jangan sembarang ngomong."


Aya menoleh kearah prajurit yang sedang menggosip. Prajurit tersebutpun langsung membuabarkan diri.


"Siapa yang menghilang dikerajaaan Zimba. Apa pria yang bercinta dengan ratu Alexa waktu dimalam hari itu?" Aya langsung ingat momen disaat ia melihat ratu Alexa sedang melakukan adegan **** dengan seorang prajurit dimalam hari dan Aya mengambil sehelai rambut Alexa.


"Dimana rambut itu?" gumam Aya. Aya langsung berlari dan menuju kamar yang ditempatinya selama di peristirahatan pangeran Zein. Hampir satu jam ia mencari disetiap sudut namun ia tidak menemukannya.


"Oh tidak. Aku tidak menemukannya. Mengapa akhir akhir ini aku begitu sial. Kenapa dewi fortuna tidak berpihak kepadaku?" Aya terduduk lemas di sudut sambil melipatkan kepalanya dilutut.


"Aya.....!" teriak seseorang dari luar.


"Iya." Aya bangun dan berjalan dengan langkah gontai menuju pintu kamar.


"Pangeran Zein mencarimu."


"Hm baiklah."


Aya meninggalkan pelayan wanita tersebut dan pergi menuju dimana pangeran Zein berada.


"Ayo. Ikuti aku. Kita harus pergi kesuatu tempat."


"Baik."


"Gunakan ini." ucap Lexdo kepada Aya sembari melemparkan penutup wajah untuk digunakan oleh Aya dan juga baju jubah besar.


"Sebaiknya selama disana kamu jangan pernah mengeluarkan suara."


"Baiklah."


Mereka bertigapun menaiki kuda dan pergi menuju sebuah tempat dengan senyap senyap. Kali ini mereka sedang melakukan penyamaran. Hampir dua jam mereka melakukan perjalanan kini akhirnya mereka sampai disebuah tempat yang sangat ramai.


Suara wanita yang sedang memanggil manggil pria mendayu dayu ditelinga Aya. Para wanita tersebut hampir semuanya menggunakan pakaian yang terbuka disana sini. Mereka menggoda setiap pria yang lewat dengan suara manja dan menggoda. Sementara pria yang sedang duduk dimeja sibuk meneguk minuman keras dan sibuk ketawa sambil meraba raba wanita yang ada disampingnya.


"Ich menjijikkan. Kenapa mereka membawaku kerumah bordil?" batin Aya.


Pangeran Zein duduk disebuah sudut sambil matanya berkeliaran mencari sosok yang dicari sementara Lexdo memperhatikan bahaya yang mengintai.


Tidak berapa lama kemudian datang pelayan mucikari menawarkan wanita kepada mereka. Lexdo menolaknya namun memberikan satu kantong emas kepada mucikari sambil membisikkan sesuatu. Mucikari hanya mengangguk tanda mengerti lalu pergi dari sana.


"Ini pesanannya. Silakan dinikmati.


"Terimakasih."


Aya melihat pesanan yang diantar oleh mucikari tersebut. Dirinya merasakan ada aroma aneh dari hidangan yang diantar. Ia menatap Lexdo dan memberi isyarat bahwa hidangan tersebut jangan dicicipi.


Lexdo menatap Aya dengan tajam dan mengerutkan dahinya. Lexdo tidak begitu percaya dengan kemampuan Aya karena dirinya belum pernah melihat kemampuan Aya.


Pangeran Zein yang sedang fokus mencari sosok yang dicari tidak begitu fokus dengan Makanan yang dihidangkan dan juga tingkah Aya dan Lexdo.


Tanpa disadari Lexdo, pangeran Zein mengambil sebuah makanan yang ada diatas meja dan ingin memasukkan kedalam mulutnya.


"Plak...." Aya memukul tangan pangeran Zein hingga membuat makanan terjatuh kelantai. Pemilik rumah bordil tersebut menatap Aya dengan penuh marah.


"Apa yang kamu lakukan?" ucap pangeran Zein kesal. Aya memberi isyarat kembali bahwa itu berbahaya. Pangeran Zein langsung melihat kehidangan dan mengamatinya.


Pangeran Zein kemudian melihat kearah mucikari dan pemilik bordil. Dari wajah mereka terlihat kalau mereka kesal pangeran Zein tidak jadi makan.


"Lexdo. Ini racun." bisik pangeran Zein kepada Lexdo.


"Apa? aku barusan memberikan mereka sekantong emas dan meminta mereka menghidangkan makanan yang tidak memabukkan."


"Kenapa kamu lakukan hal itu?"


"Maafkan saya pangeran."


"Sepertinya mereka curiga kepada kita. Siap siap mereka akan menyerang dan menangkap kita. Kita harus berpencar dan melarikan diri.


"Baiklah pangeran."