
"Heh... Apa segitu saja kemampuanmu." ucap Aya kepada putri Liana dengan tatapan membunuh.
"Dasar pelacur murahan." ucap putri Liana mendorong tubuh Aya. Pangeran Fathur yang ada didekat mereka mencoba untuk menenangkan putri Liana.
"Ayo kita pergi." ucap pangeran Fathur.
"Tidak. Kita harus membawa gadis itu bersama Redolf. Kita harus menghukum dan menjebloskannya didalam sel agar dia sadar diri." ucap putri Liana berapi api.
"Redolf sedang terluka Liana." ucap pangeran Fathur lembut.
"AKU MAU BAWA DIA SEKARANG BEGITU JUGA DENGAN WANITA MURAHAN ITU." Teriak putri Liana kepada pangeran Fathur.
Sementara Aya sudah tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi disekelilingnya. Dirinya lebih memilih untuk melepaskan anak panah yang tertancap dibadan Redolf.
"Prajurit, tangkap wanita itu dan bawa singa itu." Teriak putri Liana.
Prajuritpun berjalan menghampiri Aya dan Redolf lalu memaksa untuk memisahkan Aya dan Redolf.
"HENTIKAN." Teriak pangeran Zein yang mulai kesal dengan keributan yang terjadi.
"Keluar kalian semua dari tempatku. Bawa orang orangmu pergi pangeran Fathur." Pangeran Zein menatap pangeran Fathur dengan tatapan membunuh.
"Ayo kita pergi semua. Bawa gadis itu dan juga Redolf."
"Tidak. Kamu tidak bisa membawa mereka. Keputusan ada ditanganku. Ini wilayah kekuasaanku."
"Heh.... Apa kamu berani melawanku Zein? Kita lihat saja sebentar lagi raja dan ratu akan murka jika mendengarkan calon permaisuri terluka. Aku rasa kamu akan sama satu sel dengan dia." ucap pangeran Fathur sinis.
"Tidak apa. Aku malahan ingin berada satu sel dengan Redolf. Siapa tau yang dikatakan Aya benar. Redolf itu adalah sahabat mendiang ibumu." Ucap pangeran Zein membisikkannya ditelinga pangeran Fathur.
"Brengsek." Pangeran Fathur mencengkeram kerah pakaian pangeran Zein.
"Kenapa kamu marah? Apa kamu sekarang merasa takut jika yang dikatakan Aya itu benar. Redolf adalah sahabat mendiang ibumu." ucap pangeran Zein sinis.
Pangeran Fathur melepaskan tangannya lalu berlalu pergi. "Ayo. Semuanya kembali. Tinggalkan saja gadis itu dan Redolf. Kita serahkan saja masalah ini kepada panglima keamanan."
Pangeran Fathur berlalu pergi dan diikuti putri Liana dengan tatapan membunuhnya. "Urusan kita belum selesai." ucapnya kepada Aya.
Aya melihat semua pergi begitu juga dengan pangeran Zein dan yang lainnya. "Terimakasih." Ucap Aya kepada pangeran Zein.
Pangeran Zein sedikitpun tidak menoleh kearah Aya. Dirinya masih marah dan kesal dengan keributan yang ada sejak kehadiran Aya.
Sepeninggalan pangeran Zein. Aya menatap Redolf dengan tatapan sendu. Aya mengobati luka yang ada ditubuh Redolf hingga darahnya tidak lagi keluar. Ia membaca beberapa mantra agar luka Redolf kembali tertutup. Selanjutnya Aya mencium aroma anak panah yang sudah dilepaska. Aya ingin mengetahui adakah panah tersebut mengandung racun atau tidak.
"Panahnya mengandung racun. Aku harus mencari ramuannya." gumam Aya. Aya mengelus pipi Redolf lalu memutuskan untuk pergi mencari ramuannya. Aya sangat paham tentang ramuan obat obatan.
Aya melihat sekitar dan kebawah. Dilihatnya prajurit lagi berkumpul dihalaman depan dan hanya sedikt berjaga tiap sudut.
"Whoooooooooosh..." Aya melompat dari balkon ke halaman samping. Aya mengendap endap mengambil salah satu kuda lalu memacu kudanya dengan begitu kencang.
"Pangeran... Gadis itu kabur." Teriak salah seorang prajurit. Pangeran Zein dan yang lainnya langsung bergerak cepat mengejar Aya. Pangeran Zein yang sangat gesit dan penciumannya yang sngat tajam mengikut kemana arah aroma melati.
Aya memberhentikan kudanya lalu meletakkan tidak jauh dari tempat yang dituju.
"Kamu tenang disini dulu ya. Aku tidak akan lama." ucap Aya dengan kuda yang sudah diikatnya sambil membelainya dengan penuh kasih sayang.
Ayapun mulai melangkah menuruni tanjakan. Sementara itu pangeran Zein yang baru saja sampai berhenti didekat kuda yang aya ikat.
"Mengapa dia kabur kesini?" gumam pangeran Zein merasa aneh.
Dalam diam pangeran Zein bergerak dengan sangat cepat mengikuti Aya dari belakang.
"Aku baru tau ada anak tangga disini. Kemana anak tangga ini pergi?" batin pangeran Zein didalam hatinya.
Setelah menuruni anak tangga yang begitu curam kini sampailah Aya didepan bangunan tua milik mendiang ratu Ishna. Ibu kandungnya pangeran Fathur.
Pangeran Zein terkejut ada sebuah bangunan tua yang sangat aeshetic di kerajaan Andromela ini yang tidak dirinya ketahui.
"Bagaimana bisa gadis ini tau ada bangunan ini disini. Apa yang ingin dilakukannya?" Pangeran Zein menyelinap masuk mengikuti gerakan Aya. Sampainya didalam pangeran Zein berdecak kagun dengan pemandangan yang dilihatnya.
Bangunan tua ini dari luar kelihatan sangat tidak menarik namun setelah masuk kedalamnya semua hiasan berlapiskan emas dan perak.
Sebuah foto ratu Ishna terpampang dengan besar bersama seekor singa.
"Apakah ini milik ratu Ishna. Orang tuanya pangeran Fathur." lirih pangeran Zein.
Pangeran Zein telah kehilangan jejak Aya. Bangunan tersebut sangat luas dan besar. Terdapat ada 4 anak tangga tiap penjuru. Pangeran Zein bingung mau memilih arah yang mana.
Akhirnya iapun memutuskan untuk berkeliling dilantai bawah. pangeran Zein melihat beberapa lukisan. Lukisan tersebut seperti lukisan yang hidup. Setiap lukisan seperti menceritakan tentang sebuah kisah.
Sementara Aya kini sudah sampai didepan patung singa yang sangat besar. Singa ini seperti hidup. Aya menatap mata singa tersebut lalu membaca beberapa mantra. Aya menunjukkan kepada patung singa tersebut kondisi Redolf yang terluka di tusuk panah.
"AOOOOOOOOOOOOOOOMMMMM...."
"AAAAAAAARGGGGGGHHHHHHHHH..." Patung tersebut mengaum dengan begitu kuat hingga terdengar ditelinga pangeran Zein. Pangeran Zein memasang indra pendengarannya dengan tajam lalu berlari menuju ke arah suara tersebut.
Sesampainya dilantai tempat patung tersebut. Aya bersembunyi dibalik bangunan. Pangeran Zein melihat Aya yang sedang berhadapan dengan seekor singa yang sangat besar. Tubuh Aya disekelilingnya penuh dengan aura bewarna kemerahan. Manik mata Ayapun begitu. Tubuh Aya mengudara diudara.
Patung singa tersebut perlahan lahan mulai meleleh dan bergerak menjadi singa sungguhan.
"BERIKAN INI KEPADA REDOLF. RACUNNYA AKAN HILANG DAN GUNAKANLAH BATU PERMATA INI DILEHERMU. AGAR KAMU TERLINDUNG DARI KEKUATAN JAHAT." Ucap singa tersebut yang hanya dipahami oleh Aya.
Setelah Aya mengambil barang yang diberikan kepadanya. Patung singa tersebut kembali kebentuk semula begitu juga dengan Aya. Aya merasakan seluruh tubuhnya lelah karena menggunakan kekuatan yang terlalu besar ditambah lagi kondisinya yang belum sehat.
Pangeran Zein menatap Aya dari jauh. Dirinya mau membantu namun tidak mau terjadi salah paham karena dia sedang mengikuti Aya.
Pangeran Zein mundur kebelakang ingin kembali pulang namun dirinya menabrak sebuah dinding hingga keluarlah sebuah jebakan.
Aya menoleh kearah pangeran Zein dengan tatapan kesal namun di tempat Ayapun kini ada sebuah jebakan. Jika mereka salah langkah maka tubuh mereka akan ditusuk oleh tombak.
Aya mencoba perlahan lahan untuk keluar begitu juga pangeran Zein. Jika mereka tidak cepat tidak tau jebakan apa lagi yang akan datang.