
Aya dan pangeran Zein mengendap endap menuju anak tangga yang menghubung ke pintu keluar. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil keluar dari jebakan.
"Ciiiiittttt...." Sebuah suara pintu didorong untuk terbuka. Aya dan pangeran Zein saling pandang. Aya dengan cepat menarik tangan pangeran Zein menuju sebuah lorong. Aya takut pangeran Zein salah jalan.
"Bagaimana kamu bisa begitu paham dengan bangunan tua ini?" ucap pangeran Zein kepada Aya. Aya tidak menggubris pertanyaan pangeran Zein. Dirinya lebih memilih untuk melihat kehadiran seseorang dibawah sana.
"Fathur...." Lirih pangeran Zein.
"Huzzz..." Aya spontan menutup bibir pangeran Zein agar pangeran tidak mengucapkan kata kata yang lain. Pangeran Zein terkejut dengan reaksi Aya yang tiba tiba. Jantung pangeran Zein berhenti berdetak disaat Aya meletakan tangannya didekat bibir miliknya.
Pangeran Fathur berjalan dengan tergesa gesa menuju patung singa yang ditemui Aya tadi. Aya masih tetap menutup bibir pangeran Zein dengan tangannya sambil melihat pangeran Fathur dari sebalik tembok.
Pangeran Fathur sekarang sedang memegang sebuah kapak besar ditangan kanannya. Dirinya sedang membicarakan sesuatu namun Aya dan pangeran Zein tidak mendengar apa yang dikatakannya.
"Prang...." Tiba tiba pangeran Fathur memukul patung singa tersebut dengan membabi buta. Kini tingkah pangeran Fathur berubah menjadi seperti seekor binatang buas yang sedang membabi buta.
Aya melepaskan tangannya yang berada dibibir pangeran Zein lalu menutup mulutnya. Aya benar benar tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya sementara pangeran Zein memikirkan sesuatu.
"Kenapa dia begitu? Apa yang dilakukannya? Bukankah itu peninggalan mendiang ibunya?" batin Aya.
"Huaaaaa... Haaaaa... Haaaaaaa..." Pangeran Zein tertawa menggema dibangunan tua tersebut.
"Aku adalah raja Fathur. Sebentar lagi aku akan menguasai kerajaan ini. Semua raja akan tunduk kepadaku. Redolf kamu tidak bisa menghalangiku. Teriak pangeran Fathur duduk di sebuah kursi besar.
Tidak berapa lama pangeran Fathur pergi memasuki sebuah ruangan untuk mengambil sesuatu lalu keluar lagi dan berlalu meninggalkan bangunan tua tersebut.
Sepeninggalan pangeran Fathur. Aya dan pangeran Zein saling pandang lalu Aya menarik pangeran Zein menuju sebuah tempat yang sangat diinginkannya untuk masuk dari pertama memasuki bangunan tua ini dahulu bersama pangeran Fathur.
"Ayo.. hati hati. Kamu harus mengikutiku dan jangan menyentuh yang lain." ucap Aya memperlakukan pangeran Zein layaknya anak anak.
Pangeran Zein hanya diam dan tersenyum sinis namun dirinya menikmati saja apa yang dilakukan Aya. Mereka berdua melewati ruangan yang sangat gelap. Kini Aya dan pangeran Zein berdiri disebuah pintu yang sangat besar. Suasana dari luar sangat seram sekali namun Aya tetap penasaran apa yang terjadi didalamnya.
Pangeran Zein mengambil inisiatif membuka pintu tersebut perlahan lahan lalu mereka berdua memasukinya. Ruangan tersebut gelap gulita. Aya membuat sebuah penerangan dari telapak tangannya lalu terlihatlah semua yang ada disana.
Didalam ruangan tersebut tidak ada apa apa. Hanya ada sebuah peti mayat yang ada ditengah tengahnya.
"Apakah kamu ingin melihatnya?" ucap pangeran Zein kepada Aya.
"Ayo. Aku penasaran. Kata pangeran Fathur. Ini ruangan terlarang di bangunan tua ini."
"Benarkah. Itu menarik."
Pangeran Zein membukanya perlahan lahan. Disaat peti mayat tersebut terbuka pangeran Zein dengan spontan menutup mulut Aya. Lagi lagi Aya dan pangeran Zein dikejutkan oleh sesuatu. Aya membelalakkan matanya seakan tidak percaya.
Seorang mayat wanita cantik sedang terbujur kaku didalam peti tersebut. Mayat tersebut masih utuh namun sudah mati. Mayat tersebut sepertinya diawetkan.
"Ratu Ishna. Ternyata mayatnya disini." Batin pangeran Zein. Pangeran Zein menutup peti mayat tersebut dengan cepat lalu meraih tangan Aya untuk membawa Aya keluar dengan segera.
Dan benar saja firasat pangeran Zein. Disaat dirinya sudah keluar dari bangunan tua tersebut. Langit tiba tiba berubah menjadi hitam gelap. Petir saling menyambar.
"Ayo. Kita harus kembali." ucap pangeran Zein menurunkan Aya setelah sampai didekat kuda milik Aya yang diikat.
"Iya. Baiklah. Maafkan aku." Pangeran Zein hanya diam tanpa menjawab apapun permintaaan maaf Aya.
Pangeran Zein memacu kudanya dengan cepat begitu juga dengan kuda yang di tunggangi Ayapun memacu dengan kencang. Hujan begitu deras turun. Disaat Aya dan pangeran Zein sudah memasuki gerbang istana dan sedang turun dari kudanya Mereka melihat pangeran Fathur sedang menunggangi kudanya dengan sangat kencang keluar dari gerbang. Pangeran Fathur kelihatan seperti sedang terburu buru.
"Apakah dia pergi kebangunan tua itu pangeran Zein?" Ucap Aya memperhatikan kepergian pangeran Fathur.
Mendengar ucapan Aya, pangeran Zein menjadi murka lalu mendorong tubuh Aya didekat pohon dengan tatapan tajamnya. Kini jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
"Jangan pernah kamu sebut tempat itu lagi. Jika kamu ingin hidup. Kamu anggap saja semua ini hanya mimpi. Bukankah kamu sudah melihatnya sendiri. Tempat terkutuk itu?" ucap pangeran Zein.
"Maafkan aku. Aku hanya khawatir dengan pangeran Fathur." Aya menundukkan pandangannya karena merasa bersalah sudah membawa pangeran Zein dalam masalah.
"Apa kamu lebih khawatir dengannya daripada nyawamu sendiri. Jika dia tahu kamu memasuki tempat itu apa kamu akan dibiarnya hidup. Kamu terlalu senang mencampuri urusan orang lain Aya. Tidak tahukah kamu jika itu lancang?"
"Aku tidak memikiki niat seperti itu pangeran." Ucap Aya dengan menatap manik mata pangeran Zein.
"Lalu kejadian barusan apa? Tidak ada diistana ini setauku yang mengetahui bangunan tua itu? Bagaimana dengan dirimu yang berani masuk tanpa sepengetahuan pemiliknya? Bukankah tadi pagi kamu juga masuk ke kamar milikku?" Kini pangeran Zein menatap Aya dengan tatapan penuh selidik.
Aya menelan salivanya dan tidak mengucap sepatah katapun. Hujan yang mengguyur tubuh mereka berdua membuat suasana menjadi semakin intim. Pangeran Zein menjauh dari Aya karena tidak sanggup mencium aroma melati yang semakin menggoda ditambah lagi tubuh Aya yang basah semakin menampakkan lekuk tubuhnya.
"Kembalilah. Urusan kita belum selesai. Apa kamu tidak khawatir dengan Redolf?" Pangeran Zein mencoba untuk tidak terlalu keras menghukun Aya. Mendengar kata Redolf Aya dengan cepat berlari dan meninggalkan pangeran Zein.
"Dasar. Memang benar dia wanita tidak tau diri dan tidak tau sopan santun." Gumam pangeran Zein kesal lalu kembali ke peristirahatan.
"Dimana gadis itu Zein?" Rezya melihat kearah pintu masuk.
"Diatas. Dirinya hanya berjalan."
"APA? BERJALAN??"
"Bisakah kamu tidak berteriak." Ucap pangeran Zein kesal.
"Diatas mana? Aku ingin melihatnya?"
"Ditempat Redolf." Belum selesai pangeran Zein berbicara Rezya melongo melihat pintu masuk. Redolf dan Aya kini sedang bercanda sambil mandi hujan. Pangeran Zein yang heran dengan tatapan Aya dan juga prajurit serta pelayan yang lainnya menoleh kebelakang kearah pintu masuk.
"Heh... Apakah dia tidak sadar. Dirinya bisa membuat orang jantungan dengan kejadian kejadian yang diciptakannya." Batin pangeran Zein berlalu pergi menuju kamarnya.
Setelah membersihkan diri pangeran Zein duduk melihat hujan yang masih turun. Pangeran Zein mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.
"Bukankah selama ini semua orang mengatakan mayat ratu Ishna tidak ditemukan. Tetapi kenapa bisa ada disana. Apakah pangeran Fathur sengaja menyimpannya?" Batin pangeran Zein mengingat cerita tentang kematian ratu Ishna.