SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Fathur Menampar Aya



Hampir tiga jam Aya bersemedi diatas lantai. Disaat ia merasa sudah cukup sehat ia menghentikan aktivitasnya kemudian bangun berdiri dan menggerakkan seluruh badannya. Badannya terasa kembali bugar dan sehat.


"Haus." batinnya.


Aya mengambil gelas kristal dan menuangkan air yang berada dalam teko ke gelas tersebut lalu meminumnya. Iapun kemudian terasa begitu sangat lapar hingga akhirnya memutuskan kelantai bawah untuk melihat sesutu yang bisa dimakan didapur.


"Redolf!" ucap Aya kaget melihat Redolf yang sedang menjilati tubuhnya sendiri dengan lidah miliknya sedang berada didepan pintu kamarnya. Redolf yang melihat Aya berdiri dihadapannya langsung menghentikan aktivitasnya dan pergi meninggalkan Aya.


"Heh, dasar singa sombong. Apa karena kamu lebih tua dariku makanya sok belagu?" Aya mendengus melihat tingkah Redolf sementara Redolf menghentikan langkahnya dan menatap Aya dengan tajam.


"Apa lihat lihat? pergi sana. Hus.. hus...!"


"Erghm....." Redolf mengeram marah menggertakkan giginya.


"Weeekkk...!" Aya menjulurkan lidahnya.


"Auuummmmmmm...." Redolf tiba tiba meraung membelah sepinya malam seakan akan ia juga kesal dan marah kepada Aya.


"Huzzzz... diam. Tenang ya tuan Redolf. Maaf. Ayo kita makan bersama." ucap Aya menenangkan Redolf. Redolf yang melihat gerakan Aya ingin mendekat menghampiri dirinya langsung bergerak menjauh dan keluar dari tempat peristirahatan.


"Heh.. Dasar sama saja dengan tuannya. Memberi perhatian terus pergi menjauh." Batin Aya.


Aya pun melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Setelah apa yang di ingini didapatinya Aya berniat untuk pergi menuju kamarnya. Disaat ia ingin melangkah menuju tangga ia mendengar suara ******* seorang wanita. Iapun kemudian menghentikan langkahnya.


Aya memejamkan matanya mencari arah suara tersebut datang. Aya bergerak dengan senyap menggunakan kekuatan sihirnya agar tidak terdengar bunyi langkah kakinya kemudian bergerak menuju sebuah ruangan dimana asal suara tersebut berasal.


"Alexa...." gumam Aya pelan. Aya membelalakkan matanya melihat Alexa yang sedang berada diatas tubuh seorang prajurit.


"Acccch.... achhhhh..... Alexa menggoyangkan pinggulnya dengan cepat sekali kali keatas dan kebawah sambil meremas *********** sendiri."


"Apa ia melakukan ini sama semua prajurit yang ada disini. Aku fikir dia hanya selingkuh dengan panglima Eben." batin Aya sambil bergerak menjauh seperti hembusan angin menuju kamarnya.


Aya yang dari tadi sangat kelaparan tiba tiba mendadak kenyang melihat aksi panas Alexa dengan seorang prajurit yang ada di ruangan bawah.


Aya mecoba untuk membaringkan tubuhnya diatas kasur namun bayangan Alexa tanpa busana kembali terbayang dipelupuk matanya. Disaat ia ingin mencoba memejamkan matanya lagi Aya langsung terbangun dan kembali ke ruangan Alexa bermadu kasih tadi. Ia teringat ada sesuatu yang aneh terjadi.


"Argh..." ucap Aya keras sambil menjambak rambutnya.


Ratu Alexa dan prajurit tersebut sudah tidak ada lagi ditempat. Aya mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebuah petunjuk. Ia melihat ada beberapa helai rambut panjang bewarna coklat kemerahan. Aya mengambilnya dan menyimpannya kedalam sebuah botol kaca kecil.


"Sial. Kenapa aku baru menyadarinya? ada yang aneh dengan wajah Alexa disaat ia berada diatas tubuh pria tersebut. Ia kelihatan lebih tua dari biasanya ditambah lagi dengan sorot matanya yang merah. Aku yakin ada sesuatu yang dirahasiakannya."


Aya melangkah pergi dan menaiki tangganya dengan wajah yang menunduk kebawah. Ia memaksakan dirinya untuk berfikir.


"Darimana saja kamu?" ucap Alexa sinis.


"Alexa...!"


"Kenapa kamu terkejut? apa kamu lagi menyembunyikan sesuatu?" ratu Alexa melirik ke tangan Aya namun dikarenakan gaun tidur Aya yang panjang, botol kaca yang ada digenggamannya yang berisikan rambut ratu Alexa tidak terlihat.


"Menurutmu? Apa ditempat peristirahatan ini ada yang bisa kucuri?"


"Apa kamu tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu. Oh ya aku lupa kamu yatim piatu." Alexa menyunggingkan bibirnya mengejek Aya.


Aya memandang Alexa dengan tatapan sinisnya lalu beranjak pergi tanpa menggubris ucapan Alexa agar pembicaraan mereka tidak panjang lebar kemana. Namun disaat Aya melewati Alexa. Alexa dengan cepat menarik tangan kanan Aya yang terdapat botol kaca.


"Apa yang ada digenggamanmu? Serahkan padaku."


"Apa yang membuatmu tertarik dengan botol kaca ini. Apa kamu fikir ini berisikan dengan intan berlian."


"Mana aku tahu jika aku belum melihatnya?"


"Tidak. Ini milikku. Jika aku tidak ingin menyerahkan kepadamu apakah itu masalah bagimu."


"Kita lihat saja. Pengawal.....!" teriak ratu Alexa membangunkan beberapa pengawal untuk memaksa Aya menyerahkan botol kaca ditangannya.


"Ya ratu.." ucap beberapa pengawal yang berkumpul disekitar tangga.


"Tangkap gadis ini dan ambil botol yang ada digenggaman tangannya."


"Baik ratu."


Pengawal mendekati Aya dan memaksa Aya untuk menyerahkan botol kaca tersebut namun belum sempat mereka mengambil Aya sudah melakukan perlawanan hingga membuat keributan dimalam hari. Ratu Alexa hanya menatap Aya dengan amarah dan melihat pengawal yang tidak bisa menangkap Aya dengan penuh emosi.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN MALAM BEGINI? teriak raja Abraham penuh amarah karena keributan yang terjadi membuat tidurnya terganggu.


"Sayang, gadis itu menyembunyikan sesuatu." ucap Alexa manja sambil menatap Aya dan pangeran Fathur yang tidak jauh dari dirinya. Pangeran Fathur menoleh kearah Aya melihat sesuatu yang ada digenggaman tangannya.


"Apa yang kamu sembunyikan Aya?" ucap pangeran Fathur.


"Tidak ada apa apa. Hanya sebuah botol kaca yang berisikan barang milikku." ucap Aya sambil menyembunyikan kegelisahannya. Aya tidak mungkin menggunakan ilmu sihir disaat ini. Jika ia menggunakan ilmu sihir maka raja Abraham dan ratu Alexa akan mengetahuinya karena Alexa adalah seorang penyihir dan raja Abraham sangat mengerti tentang ilmu sihir.


"Serahkan kepadaku gadis kecil." ucap raja Abraham dengan tatapan tajam sambil mengulurkan tangannya. Aya menoleh sekelilingnya dengan ragu lalu melihat Redolf tanpa sengaja.


"Redolf, bantu aku. Aku mohon. Aku mohon Redolf." gumam Aya didalam hatinya sambil menatap Redolf yang jauh berada diluar sambil menatap dirinya.


"Cepat berikan padaku. Jika tidak ada yang kamu sembunyikan." Bentak raja Abraham membuat Aya sedikit terkejut.


"Aya. Serahkan kepada ayahku. Apa yang kamu takutkan jika kamu tidak menyembunyikan sesuatu." ucap pangeran fathur kesal.


"Redolf, Apa kamu tidak ingin membantuku? Didalam botol ini ada rambut Alexa. Aku hanya ingin mengetahui sesuatu yang dirahasiakan Alexa. Aku janji jika kamu menyelamatkanku aku akan mencari tahu kematian mendiang majikanmu. Ratu Ishna." Gumam Aya pasrah menatap Redolf.


"CEPAT." bentak raja Abraham.


Aya sedikitpun tidak bergeming hingga membuat pangeran Fathur menjadi kesal dan marah. Pangeran Fathur menghampiri Aya lalu mendorong Aya hingga terjatuh dan mengambil botol kaca tersebut dengan paksa dari Aya hingga terjadilah aksi saling rampas.


"Plak..." Sebuah tamparan mendarat dipipi Aya.


"Serahkan padaku. Aku memberimu tempat disisiku bukan untuk dirimu injak. Benar kata orang jangan mempercayai orang yang terbuang sembarangan." ucap Fathur emosi. Aya menggigit bibirnya menahan rasa sesak didadanya. Matanya berkaca kaca.


"SERAHKAN" Bentak Fathur sekali lagi hingga membuat ratu Alexa tersenyum penuh kemenangan.


"Sabar sayang." Ratu Alexa mengelus pundak Fathur.


"Orang miskin selalu begitu. Jika mereka diberi sebuah kebaikan ia akan melonjak. Jika ada kesempatan ia akan merampas semua yang kamu miliki. Mereka sangat rakus." ratu Alexa tersenyum melihat Aya yang tertunduk.


"Mulai hari ini aku tidak akan mempedulikan dirimu. Kamu bebas untuk pergi kemana saja." ucap pangeran Fathur.


"Aya, serahkan saja. Jangan membuatnya rumit." ucap pangeran Zein yang datang tiba tiba menghampiri Aya. Pangeran zein iba menatap Aya disudutkan.


Pangeran Fathur mengambil botol kaca yang ada di tangan Aya. Aya tidak menahannya. Ia membiarkannya Fatur mengambil.


"AOOOOOOOOOOOOOOMMMMM." Redolf mengaum dengan sangat kuat lalu berlari dengan cepat menuju pangeran Fathur. Langit tiba tiba mendung dan angin berhembus dengan sangat kencang.


"Prang..." beberapa barang terjatuh.


Redolf merampas botol kaca yang ada ditangan pangeran Fathur lalu duduk disamping pangeran Fathur sambil menjilat jilati tubuhnya. Anginpun berhenti berhembus dan langitpun kembali seperi biasa.


"Kembalikan Redolf." ucap Fathur kesal sambil mengambil botol kaca yang ada didalam lipatan tubuh Redolf. Fathur menyerahkan botol kaca kepada raja Abraham.


"Sebuah liontin." ucap raja Abraham mengeja huruf yang ada diliontin tersebut.


"A Y A " tulisan huruf yang ada diliontin tersebut dieja oleh raja Abraham hingga membuat Aya mengangkat wajahnya dan melihat liontin tersebut. Ratu Alexa menatap Aya dengan penuh amarah.


"Alexa... Apa ini yang kamu ributkan?" ucap raja Abraham marah kepada Alexa lalu menyerahkan liontinnya kepada Alexa dan berlalu pergi.


Aya menoleh kearah Redolf lalu mengucapkan terimakasih lewat tatapan matanya. Kemudian Aya menundukkan kepalanya kepada pangeran fathur dan Macron lalu beranjak pergi tanpa sepatah katapun.


Pangeran Zein mengambil liontin tersebut dari genggaman ratu Alexa dan menghampiri Aya ke kamarnya.


"Aya, Ini milikmu. Jangan terlalu difikirkan. Beginilah jika kamu masuk kelingkungan istana. Ini hal yang biasa. Bersabarlah." ucap pangeran Zein lembut.


Aya menoleh ke dalam manik mata pangeran Zein terlihat dari sorot matanya bentuk sebuah ketulusan.


"Terimakasih pangeran Zein. Aku hanya terkejut karena ini yang pertama kalinya."


"Ha..ha..ha.. Kamu tidak cocok sedih begini. Aku lebih suka disaat kamu tersenyum sinis penuh kemenangan mengerjain orang. Ayo semangat."


"Makasih." ucap Aya tersenyum.


"Aku kembali dulu. Istirahatlah. Besok kita akan melakukan perjalanan jauh kembali ke istana."


"Baiklah." Pangeran Zein pun melambaikan tangannya dan kembali kedalam kamar dan disaat ia ingin kembali kekamar tidak sengaja matanya saling bertatapan dengan pangeran Fathur. Pangeran Zein hanya melihat sekilas lalu meninggalkan Fathur.


"Argggh.... " pangeran Fathur mengusap wajahnya kasar karena menyesal melakukan tindakan yang ceroboh dan telah kasar kepada Aya.