SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Raja Ingin Bertemu Aya



"Hyaaa..." Pangeran Fathur memacu kudanya semakin laju. Kini dirinya sudah melewati pangeran Zein.


"Brengsek, kenapa aku harus berhenti. Jika aku tidak berhenti untuk menyapa wanita wanita itu pasti aku sudah sampai dari tadi."


"Hyaaaa.... " pangeran Zein memecut kudanya berkali kali.


"Hyaaaa.. hyaa..." Pangeran Zein sudah tidak fokus. Dia terlalu sering memecut kudanya dengan pelana hingga membuat sang kuda menjadi sakit.


"Aku harus menang, harus." lagi lagi pangeran Zein memecut kudanya dengan begitu kuat hingga membuat sang kuda menjadi marah dan bergerak tidak seperti yang diharapkan. Kuda menjadi sangat liar.


"Kita bisa, Kita bisa... Ayo, sedikit lagi. Fathur membelai kuda Macron kemudian memecutnya. Tinggal satu putaran lagi dan mereka akan menang.


Ayo, Ayo, Ayo pangeran... penonton bersorak memberikan dukungan kepada pangeran Fathur hingga menambah semangatnya.


"Aaaaagh Yeeeeeaaay..... " pangeran Fathur melewati pitanya dan ia berhasil. Wajahnya begitu bahagia. Ia tersenyum dengan begitu sumringah lalu memeluk Macron saking bahagianya.


Tidak beberapa lama Zein muncul lalu terpental dari kudanya hingga membuat ia merasa sangat malu. Kudanyapun berlari dengan sangat liar dikejar oleh beberapa pangawal.


"Hemh, kamu tidak akan menang jika aku tidak berhenti. Kemenanganmu hanya karena diriku berbaik hati memberikan kepadamu." pangeran Zein tersenyum pahit melihat kemenangan Fathur.


"Benarkah, bukankah karena wanita wanita yang ada disana hingga membuatmu lupa diri."


"Kamu...." Pangeran Zein mencengkeramkan tangannya di kerah baju pangeran Fathur lalu meninju wajah tersebut. Fathur dengan cepat mengelak sehingga membuat pukulan tersebut hanya melayang diudara dan panitia yang melihat keadaan tersebut berlari dengan cepat untuk meleraikan keadaan.


'Awas kamu." pangeran Zein begitu murka karena kekalahannya hingga membuat ia menjadi kalap mata.


Macron serta Aya dengan cepat menarik tangan Fathur untuk membuat keadaan kembali tenang. Kemudian tidak berapa lama panitia pun mengumumkan kemenanganpertandingan pacu kuda yang dimenangkan oleh pangeran Fathur.


"Brengsek, pertandingan ini tidak sah. Kita harus mengulanginya lagi." teriak Zein yang memberontak karena tidak terima kepada panitia.


Raja yang melihat keadaan langsung bangun dari duduknya dan kembali ke istana sementara sang ratu hanya menggenggam tangannya karena kecewa melihat keadaan yang diinginkan tidak terjadi lalu dengan berat hati turun ingin melihat keadaan anaknya.


"Ayo kita pulang pangeran, saya akan obati luka anda." Aya menatap wajah Fathur.


"Baiklah." Fathur berjalan dengan tertatih tatih akibat terpental dari kuda.


"Tunggu."


Fathur serta rombongan berhenti lalu menoleh keasal suara.


"Siapa dia? bukankah peraturannya jika ada orang baru wajib melaporkan kepada pihak kerajaan agar tidak terjadi masalah dikemudian hari. Apalagi anda adalah seorang pangeran. Bukankah lebih baik memberi contoh kepada yang lainnya?" Alexa menatap sinis ke arah Aya.


"Aku akan melaporkannya." Fathur meninggalkan ratu Alexa.


"Macron, buatkan biodata diri tentang Aya lalu berikan kepada pihak kerajaan yang berwenang."


"Baik tuan."


Macron meninggalkan mereka untuk melakukan tugas penting.


Aya mengantarkan Fathur hingga masuk kedalam kamar.


"Saya akan mengobati anda pangeran." Aya mencoba merobek celana diposisi lutut yang terluka.


"Baiklah, tapi jangan gunakan kekuatanmu. Obati saja aku dengan cara yang normal.


"Baik pangeran." Aya mengambil obat obatan lalu membersihkan luka dan membalurinya dengan obat yang tersedia didalam kotak yang diambilnya.


"Nona Aya."


"Iya pangeran."


"Aku akan membuatkanmu biodata palsu. Jadi kamu jangan pernah menceritakan tentang dirimu diluar sana."


"Baik pangeran, terimakasih." Aya yang lagi berlutut mengobati luka pangeran mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Fathur.


"Aku tidak akan bertanya kamu siapa dan asal usulmu dari mana. Jadi tolong jaga kepercayaanku jika aku sudah menjadikanmu orangku untuk saat ini. Setelah kamu keluar. Itu adalah urusanmu."


"Baiklah kamu boleh keluar." Aya kembali ke kamar dan mengunci pintunya untuk istirahat.


"Apa yang harus kulakukan dengan dendam ini, apa aku harus melanjutkan balas dendam kematian orang tuaku terhadap raja Abraham sementara dilain sisi anaknya begitu percaya terhadap diriku? Ibu aku sangat merindukanmu." Aya teringat dengan Yoena yang selalu setia menemaninya kemudian ia menekukkan kepalanya diatas lutut.


"Pangeran." Macron memanggil pangeran yang sedang duduk menghadap taman.


"Ada apa."


"Raja ingin bertemu dengan nona Aya."


"Hem."


"Apa kita harus mengajari nona Aya bagaimana cara menghadapi raja."


"Tidak perlu, kita lihat saja. Lagian memang setiap orang baru datang ke istana, raja akan meminta untuk menemuinya. Dia sangat teliti dan takut jika ada mata mata disini."


"Panggil saja gadis itu untuk bersiap dan minta Ela untuk membantunya. Dandan dia secantik mungkin. Fathur tersenyum memikirkan sebuah ide q yang hanya dirinya yang tau.


Pukul 07.30 malam waktu yang ditentukan tiba. Aya akan menghadap raja Abraham serta akan ditemani oleh pangeran Fathur. Aya yang belum tau kemana akan pergi hanya menatap heran saja Ela yang sibuk mendadaninya bak seorang putri.


"Nona Aya... anda cantik sekali." mata Ela takjub melihat sosok bak bidadari dihadapannya.


"Hem, benarkah?"


"Iya, Ayo kita keluar. Pangeran sudah menunggu."


Aya dan Ela keluar dari kamar.


"nona Aya, saya kebawah sebentar ya," ucap Ela yang dibalas dengan sebuah anggukan oleh Aya. Aya pun memilih duduk menghadap kamar Fathur.



Fathur sudah siap menggunakan pakaiannya, lalu membukakan pintu kamarnya dan takjub melihat pemandangan indah yang ada dihadapan matanya. Fathur memilih untuk menikmati wajah Aya yang sedang suntuk menunggu dan lagi melamunkan sesuatu.


"Ehem." Fathur menyadarkan Aya dari lamunannya.


"Pangeran, anda sudah siap." ucap Aya yang langsung berdiri namun karena bajunya yang panjang. hak tingginya menginjak sebagian gaun yang jatuh kelantai hingga membut tubuhnya tidak seimbang lalu jatuh didalam pelukan Fathur.


"Ehem, maaf pangeran." ucap Aya menahan malu.


Fathur yang merasakan tubuhnya dihimpit oleh tubuh Aya hanya terdiam membisu ditambah lagi dengan aroma tubuh wanita yang ada didepannya. Wewangian apa yang diberikan Ela kepadanya Ayapun tidak tahu. Yang jelas baik Aya maupun Fathur sangat menyukai aroma tersebut.


"Ayo kita berangkat."ucap Fathur mengusir keheningan mereka.


"Baik."


"Apa kamu tidak mau tahu kita kemana." Mereka berdua melangkahkan kakinya keluar perkarangan peristirahatan lalu masuk kedalam sebuah istana yang sangat besar dan megah.


"Mau pangeran, tapi saya tidak mau membuat anda tidak nyaman dengan saya. Makanya saya hanya menunggu anda untuk memberitahu."


"Ooo begitu." Fathurpun hanya diam.


"Memang kita mau kemana pangeran?" Aya merasa risih dengan pandangan beberapa wanita yang ingin mencabik cabik dirinya.


"Bukannya kamu sendiri bilang tidak ingin membuatku nyaman, tapi kenapa sekarang kamu bertanya." ucap Fathur dingin.


Aya tidak menjawab pertanyaan Fathur ia hanya berlari mendekati Fathur dan memegang ujung pakaian Fathur sambil mengikuti langkah Fathur yang cepat. Aya merasa tidak nyaman masuk kedalam istana kerajaan miliknya pangeran Abraham. Jumlah pelayan dan pengawalnya lebih banyak dibandingkan yang ada ditempat Fathur.


"Apa kamu tidak bisa melepaskan pakaianku?"


"Oh ya pangeran, maaf! Fathur yang melihat Aya merasa tidak nyaman, menghentikan langkahnya.


"Selagi kamu berada disampingku. Kamu akan aman."