SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Membawa Redolf



Disaat ratu Ishna dinyatakan sudah tidak ada. Raja Abraham sedang bepergian. Hanya ada Selena, ratu Ishna, aku dan juga pangeran Fathur.


Waktu itu Selenala yang dinyatakan bersalah. Selenalah yang menyebabkan kematian ratu Ishna karena disaat itu Selena yang sedang bersama ratu Ishna.


Menurut cerita ratu Alexa dan beberapa saksi mata. Disaat hari kematian ratu Ishna. Ratu Ishna sedang berdebat dengan sangat sengit hingga mereka bertengkar hebat. Ratu Ishna menyerang Selena begitu juga sebaliknya hingga ratu Ishna menjadi murka dan pergi. Ratu Ishna disusul oleh Selena dan juga ratu Alexa.


Setelah mereka pergi tidak beberapa lama ratu Ishna pulang kembali ke istana dalam keadaan penuh luka dan berlumuran darah lalu pergi membawa pangeran Fathur.


Disaat prajurit mengejar ratu Ishna ingin menyelamatkan beliau. Ratu Ishna ditemukan sudah tidak bernyawa di sebuah taman.


Prajurit membawanya ke istana namun mayat menghilang begitu saja hanya menyisakan debu. Lalu bagaimana bisa mayat ratu Ishna disaat ini ada dibangunan tua itu?" Gumam pangeran Zein.


"Hufffffft...." Pangeran Zein menarik nafasnya lalu melihat langit ya sudah mulai gelap. Malam sudah kembali menyapa. Tak terasa perutnyapun sudah mulai keroncongan. Akhirnya ia pun turun kelantai bawah untuk menuju meja makan.


Sementara Aya yang sudah selesai membersihkan diri menatap dirinya didepan cermin. Aya membolak balikkan liontin yang didapatnya dari singa yang ada dibangunan tua tadi siang.


"Liontinnya bagus sekali. Batu permatanya terlihat mengkilap." Batin Aya. Aya meletakkan liontin tersebut didalam bajunya agar tidak terlihat oleh orang lain.


Setelah selesai Aya menuju kepala pelayan. "Kepala pelayan, hukuman seperti apa yang akan kudapatkan malam ini?" Aya menundukkan kepalanya karena merasa telah banyak melakukan kesalahan hari ini.


"Hukuman? Maksud kamu?"


"Ya. Hukuman. Hukuman untukku karena melakukan kesalahan hari ini."


"Oh. Aku tidak begitu tau Aya. Aku akan menanyakan kepada pangeran Zein. Nanti jika sudah dapat perintah darinya hukuman apa yang akan mesti kamu jalani. Aku akan memanggilmu." Ucap kepala pelayan sambil menggaruk dahinya yang tidak pusing.


"Hm. Baiklah jika begitu. Apa yang harus kulakukan saat ini kepala pelayan?"


"Kamu istirahat aja dulu selama dua hari lagi. Biasanya jika ada yang terluka akan mendapat jatah libur tidak peduli siapapun itu."


"Baiklah. Terimaksih." Aya berlalu pergi menuju kamarnya lalu mengunci pintu agar tidak terbuka. Aya ingin menggunakan sihirnya untuk membersihkan kamarnya agar rapi dan harum.


"Zreeek... Zreekkk..." Sapu dan pengepel bergerak sendiri begitu juga dengan barang barang yang berantakan terbang kesana kemari kembali kepada posisinya semula. Sementara Aya baring diatas kasur sambil memejamkan matanya yang lelah.


Satu jam telah berlalu kepala pelayan yang masih bingung dengan pertanyaan Aya tadi langsung menuju dimana pangeran Zein sedang bersantai.


"Ada apa kamu berdiri disana kepala pelayan?" ucap pangeran Zein yang sedang duduk bersantai bersama Lexdo dan Rezya.


"Itu pangeran. Hukuman apa yang harus saya berikan kepada Aya?"


"Hukuman? Maksud kamu? Pangeran Zein mengernyitkan dahinya bingung.


"Sayapun kurang mengerti pangeran. Tadi Aya datang menghadap kepada saya bertanya tentang hukuman apa yang harus dijalaninya?"


"Heh... Gadis itu? Aku fikir dia picik ternyata dia termasuk lugu juga." Batin pangeran Zein sambil tersenyum.


"Biar aku saja yang menghukumnya!" ucap pangeran Zein.


"Zein, Apa yang akan kamu lakukan dengan gadis itu dan singanya? Aku yakin pangeran Fathur akan datang lagi untuk menghukum mereka berdua." ucap Rezya menyadarkan pangeran Zein dari lamunannya.


"Aku akan membawa Redolf ketempat persembunyian disaat semua orang terlelap. Jika mereka melihat Redolf kembali sehat dan tidak ada bekas luka. Aku yakin ratu Alexa akan semakin curiga kepada Aya dan itu akan membahayakan kita semua."


"Bagaimana dengan gadis itu?"


"Katakan saja kepadanya Redolf kabur. Itu lebih baik."


"Hem... Baiklah. Itu ide bagus. Jika semua pihak kerajaan tahu Redolf sembuh tanpa bekas luka maka semua orang akan mencurigai kita. Mereka akan berfikir ada yang memiliki kekuatan sihir diantara kita. Mereka akan mengaitkan dengan luka Lexdo yang sembuh dalam semalam." ucap Rezya lagi.


"Iya itu benar. Orangnya tuan Wind masih mencari orang yang menyerang tempatnya begitu juga dengan ratu Alexa. Dia tidak akan tinggal diam." jawab Lexdo.


Merekapun melanjutkan pembicaraan mereka tentang rencana membawa Redolf ditempat persembunyian yang sangat aman untuk sementara waktu.


Tak terasa Aya yang sedang berbaring dikamar kini sudah terlelap dalam tidur akibat kelelahan. Suasana dingin malam akibat hujan yang tidak berhenti membuat sebagian orang lebih nyaman berada dikamarnya.


Kini suasana sudah lenggang. Lexdo pergi keluar untuk melihat suasana diluar setelah itu ia kembali lagi menemui pangeran Zein dan juga Rezya.


"Keadaan aman pangeran." ucap Lexdo.


"Baiklah. Kita bergerak sekarang. Ingat! Tugas kamu dan Rezya mengalihkan perhatian penjaga pintu gerbang. Aku akan menunggangi Redolf setelah aku menghilang baru kalian berdua menyusul." ucap Zein dengan tatapan tajam.


"Baik. Kami akan melakukannya dengan sebaik mungkin." Rezya dan Lexdopun keluar dengan menggunakan pakaian yang tertutup agar tidak ada seseorangpun yang mengenali mereka.


Aya dan Lexdo menunggangi kudanya menghampiri penjaga istana. Lexdo sengaja terlihat lebih dekat sementara Rezya berada disebalik pohon sedang membidik gerbang dengan busur panah yang ada ditangannya. Setelah rasanya bidikan tepat kini Rezya melepaskan anak panahnya.


"Teeeek..." Anak panah melesat tepat disamping prajurit yang sedang berjaga.


"Siapa itu....?" Teriak prajurit melihat kearah Lexdo. Lexdo yang menggunakan pakaian serba hitam sengaja menunggu prajurit mengejar dirinya. Tiga orang prajurit mengejar Lexdo dan kini tinggalla dua orang prajurit lagi.


"Teeeeeeekkkk....." Anak panah kembali membidik disamping dua orang prajurit yang sedang menjaga pintu gerbang.


"Keluar kamu...? Siapa kamu...?" ucap salah satu prajurit sambil mencari cari orang yang ingin mencelakainya.


"Teeeeeeeek...." Kini anak panah ketiga membidik satu orang prajurit yang tinggal dan Aya mulai menampakkan dirinya yang sedang menggunakan penutup wajah. Prajurit yang tinggal langsung mengejar Aya.


"Whoooooosh..." Pangeran Zein langsung melewati gerbang disaat semua prajurit meninggalkan gerbang. Pangeran Zein sangat merasa aman bersama Redolf. Redolf yang biasanya tidak mau dinaiki siapapun kecuali dengan pangeran Fathur namun dengan mudah ditunggangi oleh pangeran Zein.


"Ayo Redolf. Berlarilah dengan kencang. Aku ingin menyelamatkanmu dan Aya." ucap pangeran Zein ditelinga Redolf dengan membelai pundaknya.


Redolf menoleh sekilas kesamping lalu mengikuti perintah pangeran Zein. Redolf berlari secepat kilat tanpa dilihat oleh siapapun. Pangeran Zein tersenyum melihat kemampuan Redolf yang luar biasa.


"Benar saja kata Aya. Redolf ini bukan singa biasa. Postur tubuhnya saja berbeda dengan hewan sejenisnya." Batin pangeran Zein.