SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Kerajaan Andromela



Pangeran Fathur keluar dari hutan belantara bersama segerombolan singa. Suara singa menggema diseluruh hutan. Si Elfis sang mata mata Selena meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain untuk mengabari kepada Selena. Selena yang mendengar kabar dari Elfis langsung menjadi murka.


"Doaaaaaaar... Doooaaaaar... Dooaaar..."


bunyi halilintar menggelegar di dalam hutan.


Langit yang awalnya cerah mendadak berubah menjadi gelap gulita. Hujan deras turun membasahi hujan belantara. Petir menggema saling bersahut sahutan. Seluruh hutan berubah menjadi bentuk yang sama sementara bintang sang penunjuk arah yang menjadi harapan sang pangeran pun sudah tidak ada lagi. Selena betul betul murka dengan putri Carraya yang meninggalkannya dan menghianati perjanjiannya.


Pangeran Fathur yang ikut turun andil dalam menggagalkanp rencananya juga ikut menjadi amukan kemarahan Selena. Fathur yang melihat suasana hutan menjadi mencekam, bersiap siap untuk menghindari segala macam ancaman begitu juga dengan dua orang pengawalnya.


Gerombolan singa mengelilingi pangeran Fathur dan dua orang pengawalnya seakan akan singa tersebut ingin memberi tau jangan ganggu tuan kami.


"Dooooar... Doaaaar... " Bunyi bola api datang dari segala arah, rumput dan pepohonan ikut menjadi sasaran Selena. Pangeran Fathur berlari dengan gesitnya menghindari bola bola api begitu juga dengan pengawalnya namun singa singa yang bergerombol mulai mengeluarkan suara suara kesakitan akibat terkena bola api dan merekapun mulai berjatuhan satu per satu.


"Hhihi... Hihi... Hi... " Suara ketawa Selena menggelegar ditelinga rombongan pangeran Fathur.


"Tidak akan ada yang keluar dengan selamat dari hutan ini. Termasuk kamu pangeran. Ini wilayahku. Kamu terlalu lancang mencampuri urusanku."


"Keluar kamu." Teriak pangeran Fathur.


Pangeran Fathur terpelanting sangat jauh dari pengawalnya, pengawalnya yang ingin mengejar tiba tiba ditarik oleh akar akar pohon. Macron melihat pangeran Fathur terpelanting ke arah sana dan kesini hingga membuat darah segar keluar dari mulut pangeran Fathur. Macron dan pengawal lain yang melihat merasa iba.


Mereka mencoba menebas akar pohon namun semakin mereka potong semakin banyak cabangnya. Hingga akhirnya seluruh tubuh mereka dari kaki hingga sampai ke leher dalam genggaman sang akar. Tubuh mereka rasanya remuk perlahan lahan karena cengkeraman akar yang semakin lama semakin kuat.


Macron dan temannya hanya bisa pasrah menunggu kematian sambil melihat pangeran Fathur disiksa.


Pangeran Fathur bangun ingin menyelamatkan pengawalnya namun disaat dia berlari sebuah akar menariknya lalu membantingnya.


"Keluar kamu Selena, jangan bersembunyi seperti pecundang." teriak pangeran Fathur.


"Whooosh... " Selena berlari secepat kilat mengelilingi pangeran Fathur kamudian dia berhenti tepatnya didepan pangeran Fathur.


"Kenapa? Apa kamu ingin melawanku dengan sebilah pedang?" ucap Selena mengarahkan telunjuknya ketubuh pangeran Fathur sambil mengeluarkan percikan api kecil dan melempar ketubuh sang pangeran. Kemudian Selena mengeluarkan pisau lalu melemparkan kearah pangeran dan dengan gesitnya pangeran berlari menghindari namun karena pisau yang dilempar Selena semakin lama semakin banyak, tubuh pangeran Fathur tidak mampu untuk menghidari lagi. Sehingga beberapa pisau mengenai tubuhnya hingga membuat tubuhnya tersayat sayat dan banyak mengeluarkan darah.


"Ha ha ha... "


Selena menghentikan aksinya kemudian tersenyum menyeringai seperti iblis. Tatapan matanya menatap tubuh pangeran Fathur dengan liar seakan akan ingin menyobek isi perut milik pangeran.


"Ayo hadapi aku." Teriak Selena sambil tertawa.


Selena menghampiri pangeran Fathur dan mengambil darah dengan jarinya. Darah yang menetes diatas rerumputan tersebut diciumnya dan dijilatnya dengan rakus sehingga mengeluarkan bunyi kecapan.


"Hem, manis." Lirih Selena.


Bau amis darah membuat Selena sudah


tidak mau ingin bermain lagi. Ia ingin segera menghabisi pangeran Fathur sekarang juga untuk menikmati hatinya dan memakan seluruh tubuhnya.


"Ucapkan selamat tinggal kepada teman temanmu pangeran." ucap Selena tersenyum bengis.


Selena mengangkat belatinya ingin menyobek jantung sang pangeran namun tiba tiba datang angin yang sangat kencang dan belatinya terpelanting melesat diudara. Hutan yang tadinya gelap gulita berubah menjadi terang benderang dan hujan yang deras mendadak berhenti. Langit mulai mengeluarkan bulan dan bintang.


Semua orang yang ada menatap ke sekeliliing namun tidak ada sosok seorangpun yang terlihat. Selena mencari sesuatu di sekelilingnya kemudian melemparkan ratusan anak panah kesetiap penjuru hingga keluarlah sosok wanita diudara menggunakan jubah merah. Pangeran Fathur dan pengawal terpesona melihat kecantikan wanita didepan mereka layaknya bidadari surga. Rambut yang panjang, kulit yang putih bersih, mata yang biru dan body yang sempurna.


"Selamat malam Selena."


Putri carraya menatap selena tajam kemudian melihat sekeliling.


"Lepaskan mereka. Kenapa kamu menyiksa mereka yang tidak bersalah? Ayo kita selesaikan urusan kita!" ucap Aya tenang.


"Ha Ha Ha....Tidak. Dia adalah tawananku begitu juga dengamu." ucap Selena angkuh.


"Benarkah?" ucap putri Carraya.


"Jika itu maumu maka aku akan ikut campur!" Balas Aya lagi.


"Ha...Ha...Ha... Apa kamu seyakin itu ingin melawanku?" ucap Selena sinis dan merendahkan kemampuan putri Caraya.


"Apa taruhanmu jika aku mampu mengalahkanmu?" jawab putri Aya.


"Kamu lepas dariku tapi jika aku menang kamu dan mereka berhak menyerahkan hatimu kemudian menjadi budakku." ucap Selena.


"Baiklah." jawab Aya


Selena dan putri Carraya mengeluarkan pedang yang tidak tau dari mana datangnya.


"Whooshhh... Whooooshhh..." Pedang putri Carraya dan Selena berkibas di udara. Mereka saling menyerang, sesekali mereka terbang diudara. Rombongan Pangeran Fathur melihat dengan penuh antusias. Mereka sangat berharap Selena kalah agar mereka lepas dan kembali keistana dengan selamat.


"Bugggh....." tubuh Aya terbanting ditanah dan mulutnya mengeluarkan darah segar.


"Cih, segitu saja kemampuanmu."


Selena tersenyum melihat putri Carraya terjatuh. Selena menghampiri Aya ingin menusuknya namun disaat Selena semakin dekat Aya berubah menjadi seekor ular besar melilit tubuh Selena dan menggigit Selena. Selena yang sadar tubuhnya sudah digigit langsung melarikan diri untuk mengambil penawarnya yang ada dipondok.


"Kita belum selesai, aku akan kembali."


"Benarkah."


"Kamu akan mati ditanganku." Selena pergi menghilang.


Putri Carraya yang melihat kepergian Selena langsung melesat melepaskan pengawal. Dalam hitungan detik mereka terlepas dari akar yang mematikan itu. Aya memanggil kuda pangeran dengan sebuah siulan. Beberapa menit kemudian kuda sudah sampai dihadapan mereka.


"Ayo... cepat, sebelum Selena datang kembali. Kita harus pergi sekarang." ucap Aya.


Merekapun bergerak dengan cepat namun disaat melewati gerombolan singa yang sudah mati pangeran Fathur berhenti sejenak melihat ada seekor singa yang masih hidup namun ia terluka. Aya kemudian berhenti untuk mengobatinya. Dari tangan Aya keluar cahaya merah dan masuk kedalam luka yang ada di tubuh singa tersebut. Lukanya pun dalam sekelip mata langsung tertutup hingga membuat sang singa kembali sehat seperti keadaan semula.


"Ayo kita pergi, sebelum dia kembali." kata pangeran Fathur sambil memberikan tangannya kearah Aya untuk menyambut Aya agar naik bersama ke atas kudanya. kuda Aya si Elf sudah mati disayat sayat oleh Selena.


"Baiklah."


Walaupun Aya sudah bisa menggunakan kekuatan sihir namun dirinya belum bisa seperti Selena. Semakin banyak kekuatan yang digunakan Aya maka semakin banyak pula Aya kehabisan tenaganya. akhirnya Aya memilih untuk menaiki kuda pangeran. Tubuh Aya sudah merasa sangat lemah akibat serangan yang diberikan oleh Selena dan perlawanan yang dilakukannya.


Aya duduk didepan pangeran Fathur. Pangeran Fathurpun tanpa menunggu aba aba langsung menunggang kuda kesayangannya dengan kecepatan tinggi.


Aroma tubuh Aya tercium oleh pangeran Fathur. Baunya seperti bau bunga melati. Sepanjang perjalanan pangeran Fathur mendekati ceruk leher Aya yang jenjang sambil menikmati aroma tubuhnya.


Setelah hampir satu jam perjalanan merekapun keluar dengan selamat. Aya tertidur didada sang pangeran Fathur. Pangeranpun memang tidak berniat untuk membangunkannya. Ia sengaja ingin membawa Aya kedalam kerajaan. Hampir dua jam mereka melakukan perjalanan akhirnya sampailah di kerajaan Andromela.