
Bugh..." Zeya menabrak sebuah tubuh pria hingga membuat lukisan yang dipegangnya terjatuh kelantai dan terlihat oleh pria tersebut. Zeya mendongakkan kepalanya untuk melihat pria yang menabrak dirinya.
"Bagaimana kamu jalan? Apa kamu tidak memiliki mata?" ucap pria tersebut.
"Maaf. Maaf pangeran Zein. Saya terburu buru." Zeya mengambil lukisan yang ada dilantai dan meletakkannya disebalik pakaian seperti semula.
"Lukisan siapa itu?"
"Saya tidak tau pangeran. Saya menemukannya didalam kamar yang pernah ditempati oleh nona Aya. Saya ingin memberikannya kepada panglima Eben. Mana tau ini penting." Zeya menjelaskan kepada pangeran Zein secara rinci bagaimana ia menemukannya karena ia beranggapan pangeran Zein berada dipihak ratu Alexa.
"Serahkan kepadaku dan kembalilah. Jangan ceritakan kepada siapapun. Jika kamu ingin mata dan mulutmu tetap bisa digunakan." Pangeran Zein melemparkan satu bungkus kepingan emas kearah Zeya. Dengan cepat Zeya menangkapnya.
"Terimakasih pangeran. Saya pastikan tidak akan menceritakan kepada siapapun. Saya akan melupakannya."
"Tidak perlu kamu memastikannya. Kamu hanya perlu membuktikannya." Pangeran Zein mendekatkan tubuhnya ketubuh Zeya sambil membisikkan sesuatu.
"Kamu pasti tau bagaimana saya memotong anggota tubuh seseorang jika orang itu mempermainkan saya." Bisik pangeran Zein ditelinga Zeya hingga membuat Zeya merinding ketakutan dan pergi berlalu.
"Hei kamu tunggu!" teriak pangeran Zein sambil melambaikan tangannya kearah Zeya agar wanita tersebut kembali keposisi semula.
"Ada apa pangeran?"
"Jangan katakan kepada panglima Eben dan ratu Alexa juga. Aku takut panglima Eben tidak bisa menyimpan rahasia. Aku akan mencari tahunya dan mengabari langsung kepada ibuku."
"Baik pangeran Zein." Zeya tersenyum tanpa curiga sedikipun kepada pangeran Zein. Iapun kemudian kembali ketempat pangeran Fathur dengan berjalan sambil menyanyi dengan wajah berbinar.
"Lebih enak menyerahkan segala sesuatu kepada pangeran Zein. Aku langsung mendapat imbalannya. Lain kali aku akan memberi kabar langsung kepada pangeran Zein daripada kepada panglima Eben dan ratu Alexa." batin Zeya namun kemudian dirinya membuang keinginannya jauh jauh untuk mengurungkan niatnya melakukan hal tersebut.
"Jangan, aku tidak boleh berurusan dengan pangeran Zein. Walaupun aku dapat imbalan yang banyak namun nyawaku taruhannya. Siapa coba yang tidak kenal dengan kekejamnya pangeran Zein?" gumam Zeya.
Sepeninggalan Zeya, pangeran Zein melihat lukisan yang ada ditangannya. Ia mengamati dengan cermat lalu menentengnya untuk kembali ke tempat peristirahatan.
Pangeran Zein baru saja selesai menemani raja Abraham, ratu Alexa dan putri Liana minum teh ditaman. Sejak kepulangan dari kerajaan Zimba pangeran Zein belum ada sama sekali pulang ke tempat peristirahatannya.
Disaat melihat kedatangan pangeran Zein, semua Pelayan berbaris menyambut kedatangannya dan kemudian bergegas menuju bath up untuk menyiapkan air hangat dan perlengkapan pangeran Zein dan menyiapkan semua peralatannya.
Pangeran Zein berbeda dengan pangeran Fathur. Pangeran Zein lebih senang disiapkan segalanya kepada yang ahli baik itu wanita maupun pria. Yang paling terpenting bagi pangeran Zein semuanya dikerjakan dengan sempurna dan cermat.
"Panggilkan Lexdo keruanganku." ucapnya kepada pelayan wanita yang sedang menyiapkan pakaiannya.
"Baik tuanku."
Tidak berapa lama Lexdopun muncul dari sebalik pintu.
"Keluar kalian semua." ucap pangeran Zein kepada pelayan yang sedang ada dikamarnya. Pelayanpun dengan bergegas keluar dan menyelesaikan pekerjaannya. Mereka sudah terbiasa bekerja dengan cekatan dan lihai.
"Apa kamu mengenal orang yang ada dilukisan tersebut?" Pangeran Zein melemparkan lukisan tersebut diatas meja sambil membuka kancing bajunya.
"Sepertinya ini adalah seorang raja dan ratu. Dari mahkota dan singgasana yang didudukinya jelas terlihat ia adalah seorang penguasa. Namun saya tidak mengenali orang tersebut tuanku." Lexdo mengamatinya dengan begitu cermat.
"Cari tau secepat mungkin."
"Baik pangeran."
"Nona Aya ada diruang tamu pangeran."
"Oh ya, aku melupakannya. Sejak kapan dia ada disini?"
"Sudah sekitar dua jam yang lalu pangeran."
"Perintahkan kepada kepala pelayan untuk mempekerjakan dirinya dimana keahliannya."
"Baik pangeran." Lexdo membungkukkan badannya dan keluar dari kamar sambil membawa lukisan yang ada ditangannya.
"Mau kamu apakan lukisan itu?"
"Dibawa pangeran."
"Apa kamu lupa dengan cara kerjaku. Rekam dikepalamu dan catat hal yang menurutmu penting. Jangan bawa sesuatu yang sudah kusentuh." Pangeran Zein menatap Lexdo tajam. Pangeran Zein merupakan orang yang sulit untuk mempercayai orang lain.
"Maafkan saya pangeran." Lexdopun memandang sekali lagi lukisan tersebut dengan cermat lalu mencatat hal yang penting menurutnya. Inisial huruf yang ada ditongkat raja dan juga bentuk singgasana sekalian merekam bentuk wajah dilukisan tersebut. Lexdo memang ahli dalam hal tersebut. Setelah rasanya cukup ia meletakkan lukisan tersebut kembali.
"Saya pamit pangeran."
Sepeninggalan Lexdo, pangeran Zein meletakkan lukisan tersebut didalam brankas yang hanya diketahuinya seorang. Kemudian ia melanjutkan dirinya untuk membersihkan diri.
Hampir satu jam lamanya ia berada didalam bathup untuk berendam sambil menenangkan dirinya dengan minyak essential yang mengeluarkan aroma wewangian maskulin kemudian iapun keluar dan menggunakan pakaian untuk ke tempat peristirahatan pangeran Fathur.
Setelah rasanya cukup rapi pangeran Fathur menuruni anak tangga untuk menemui kepala pelayan dan juga Aya yang akan bekerja dengan pangeran Zein karena masih lama lagi acara makan malam tersebut.
"Pelayan, panggilkan kepala pelayan dan juga pekerja yang baru datang itu untuk menemui saya ditaman belakang."
"Baik pangeran."
Pangeran Zein menyeruput minuman yang dibawa oleh pelayan. Tidak berapa lama kepala pelayan dan Ayapun muncul bersamaan.
"Duduk." ucap pangeran Zein melipatkan kakinya diatas kaki yang lain sambil menatap Aya yang sudah berganti pakaian. Aya tetap terlihat anggun setelah membersihkan diri walaupun hanya menggunakan pakaian sederhana.
"Bagaimana menurut anda tentang wanita yang ada disamping?" tanya pangeran Zein kepada kepala pelayan.
"Wanita tersebut sangat pintar dan ahli dalam segala bidang namun dirinya sangat menonjol dalam hal penampilan dan juga beladiri. Diriya sangat menawan dan juga mempesona pangeran." ucap kepala pelayan tersebut dengan jujur.
"Dibagian manakah dirinya cocok?"
"Jika anda tidak keberatan alangkah bagusnya anda menjadikan dirinya sebagai pelayan yang mendampingi anda setiap kali anda pergi keluar. Gadis tersebut akan sangat membantu anda untuk menyiapkan dan menyelesaikan segala hal."
"Hm, Baiklah. Saya setuju dengan ide anda dan ingat satu hal kepala pelayan jika ia melakukan suatu kesalahan dan kecerobohan anda akan ikut bertanggung jawab karena anda yang telah menilai." ancam pangeran Zein kepada kepala pelayan.
"Baiklah pangeran." kepala pelayan menjawab dengan tenang karena dalam setiap melakukan tugas yang diberikan oleh pangeran Zein pasti selalu diancam dan diberi sebuah tekanan. Hal tersebut sudah biasa bagi orang yang sudah lama bekerja dengan pangeran Zein berbeda dengan Aya dirinya terkejut dengan pembicaraan mereka berdua.
"Sekejam itukah lelaki tersebut? Apa aku tidak salah memilih. Aku keluar dari lubang harimau kemudian masuk kedalam mulut singa." gumam Aya menggelengkan kepalanya membayangkan apa yang akan terjadi jika ia lama di istana tersebut.