
Hampir satu jam pangeran Zein melakukan perjalanan kini dirinya sudah tiba ditempat persembunyian miliknya yang sangat aman. Tempat persembunyian ini hanya diketahui oleh Rezya dan juga Lexdo. Pangeran Zein duduk sambil membuatkan api unggun untuk menghangatkan tubuhnya seraya menunggu Rezya dan juga Lexdo.
"Redolf... Kamu disini untuk sementara waktu. Aku pastikan tidak akan lama hanya dalam kurun waktu seminggu. Setelah itu kamu akan kujemput. Tujuan kamu bersembunyi disini agar orang tidak curiga kepada Aya jika ia sebenarnya memiliki kekuatan sihir. Dirinya berbeda dengan yang lain Redolf." ucap pangeran Zein sambil membelai Redolf dan menatap matanya.
"Baiklah pangeran Zein. Aku mengerti maksud dan tujuanmu." Jawab Redolf dengan bariton khas nya hingga membuat pangeran Zein terkejut.
"Kamu bisa berbicara." Pangeran Zein tertegun mendengarnya.
"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu pangeran Zein karena kamu tidak menyakitiku." Ucap Redolf sambil berlalu pergi beranjak menjauhi pangeran Zein lalu duduk di tempat yang menurutnya sangat nyaman dan juga hangat. Tatapan mata Redolf yang sendu menandakan dirinya sangat kesepian saat ini.
Pangeran Zein menatap Redolf sekilas lalu menarik nafasnya dan membuang nafasnya kembali lalu kembali membolak balikkan kayu yang ada diapi unggun agar apinya membesar.
"Kenapa kamu sampai dikejar oleh pangeran Fathur dan ingin dihukum olehnya?" ucap pangeran Zein sambil menikmati api unggunnya.
"Aku melukai putri Liana." Sorot mata Redolf menampakkan ketidaksukaannya terhadap putri Liana.
"Ooh... Kenapa berlari ketempatku?" Ucap pangeran Zein lagi sambil menoleh kearah Redolf.
"Aku mencium aroma Aya di sana. Hanya dia yang bisa membantuku karena aku ingin meminta dirinya menepati janjinya kepadaku jika terjadi sesuatu kepadaku." Redolf kemudian menatap pangeran Zein dengan tatapan sendu.
"Hm.. begitu. Bukankah kamu singanya ratu Ishna. Kenapa kamu tidak bisa meminta bantuan pangeran Fathur untuk menyelamatkanmu? Harusnya kamu lebih dekat dengan beliau?" Pangeran Zein sengaja bertanya untuk menjebak Redolf. Pangeran Zein ingin mengetahui apakah benar Redolf adalah singanya ratu Ishna seperti yang Aya katakan.
"Sepertinya pangeran Fathur tidak mengenaliku sepertimana Aya mengenaliku. Fathur berbeda dengan ibunya yang penuh kasih sayang dan kelembutan." Ucap Redolf sedih.
"Jika begitu kenapa tidak menjauh saja dari pangeran Fathur. Bukankah kamu memiliki kekuatan Redolf?"
"Aku terikat sebuah janji. Kembali kebangsakupun aku sudah tidak bisa kecuali janjiku sudah ditepati baru bisa aku kembali." Ucap Redolf dengan tatapan kosong yang sedikit terdengar putus asa.
Tidak berapa lama terdengar suara rigkikan kuda. Pangeran Zein melihat keluar siapa gerangan yang berada disana. "Apakah kamu menunggu kami terlalu lama Zein?" Rezya muncul dari sebalik pepohonan lalu tersenyum kearah Zein.
"Tidak juga." Jawab pangeran Zein kepada Rezya dan Lexdo yang baru saja tiba.
Lexdo dan Rezya langsung menuju api unggun yang masih tetap menyala. Mereka berdua mulai menghangatkan badannya didepan api unggun yang dibuat oleh pangeran Zein. Tubuh mereka berdua basah akibat hujan yang masih setia membasahi bumi.
Pangeran Zein sesekali menoleh kearah Redolf. Tidak tau kenapa hati pangeran Zein tersentuh dengan tatapan Redolf ditambah lagi Redolf mau ditunggangi dan berbicara padanya.
"Ayo. Jika sudah hangat kita rapikan tempat ini agar Redolf nyaman disini." Pangeran Zein berdiri merapikan tempat tersebut hingga membuat Lexdo dan Rezya saling pandang.
"Buat apa dia merapikan tempat ini untuk Redolf? Bukankah Redolf hanya seekor binatang Lexdo?" lirih Rezya.
"Aku juga tidak mengerti Rezya. Tapi lebih baik kita mengikuti kemauannya daripada pangeran Zein yang mengamuk. Dia lebih mengerikan daripada singa yang ada di hadapan kita." Bisik Lexdo ketawa ditelinga Rezya.
Rezya hanya geleng geleng kepala melihat pangeran Zein yang terlalu bersemangat. Seumur umur dirinya tidak pernah melihat pangeran Zein sedang membersihkan ruangan.
Tak terasa kini ruangan sudah kelihatan sedikit rapi daripada pertama kali mereka datang.Tempat tersebut jarang digunakan hingga banyak sarang laba laba yang menghiasi disetiap sudut.
"Baiklah. Kita istirahat dulu." Rezya terduduk dengan penuh keringat walaupun diluar sana masih hujan namun akibat memberishkan ruangan tersebut keringat mengucur dari setiap pori pori kulitnya.
"Hanya sepuluh menit. Setelah itu kita harus pergi dari sini agar tidak menimbulkan kecurigaan." Ucap pangeran Zein mengingatkan.
"Tentu saja naik...." pangeran Zein tidak melanjutkan ucapannya. Dia lupa jika dia kesini bersama Redolf.
"Aku akan berdua bersama Lexdo."
"Mana bisa. Kamu berat. Kamu bersama Rezya saja."
"Tidak. Aku ringan."
Hampir lima belas menit mereka berdebat. Redolf tiba tiba datang menghampiri pangeran Zein. Redolf duduk didepan pangeran Zein agar pangeran Zein menaiki punggungnya.
"Jangan Redolf. Kamu harus disini." ucap Rezya kepada Redolf namun Redolf tetap duduk menunggu pangeran Zein. Redolf menatap pangeran Zein seakan akan ingin memberi isyarat kepada pangeran Zein namun pangeran Zein tidak begitu mengerti seperti Aya.
"Ada apa Redolf?" Pangeran Zein menunggu jawaban Redolf. Redolf tidak ingin bersuara sama sekali. Dia tidak ingin menjawab.
"Kalian berdua tunggulah aku diluar. Aku akan menyusul." Pangeran Zein melihat kearah Lexdo dan juga Rezya.
"Baiklah."
Setelah kepergian Lexdo dan juga Rezya barulah Redolf mulai berbicara kepada pangeran Zein "Aku akan mengantarmu hingga sampai diluar gerbang setelah itu aku akan kembali." ucap Redolf dengan tatapan teduhnya.
"Aku takut kamu akan terlihat Redolf." Balas pangeran Zein.
"Kamu percayakan saja padaku." jawab Redolf.
"Hm baiklah." Pangeran Zein menganggunk tanda setuju. Dirinya juga takut keburu subuh jika mereka harus naik kuda berbagi.
Pangeran Zein menyusul Rezya dan juga Lexdo lalu mengatakan sesuatu. "Aku akan kembali bersama Redolf. Nanti dia akan kembali kesini."
Rezya dan Lexdo terkejut mendengar pernyataan pangeran Zein namun mereka tidak ingin terlalu banyak bertanya karena jika pangeran Zein sudah membuat keputusan. Berarti itu sudah final.
Pangeran Zein menaiki tubuh Redolf dan langsung meluncur secepat kilat. Rezya dan Lexdo saling tatap melihat kemampuan Redolf yang dalam hitungan menit sudah hilang dalam pandangan.
"Apa dia sudah langsung sampai ke istana Lexdo?"
"Akupun tidak tau Rezya. Aku tidak mengegahui apapun tetang Redolf." Lexdopun memacu kudanya mengejar pangeran Zein diikuti oleh Rezya.
Hampir berjam jam mereka melalui perjalanannya akhirnya kini telah sampai di gerbang istana. Rezya dan Lexdo langsung memasuki istana dari pintu belakang. Mereka mengendap endap dan akhirnya sampai dikandang kuda dan langsung meluncur cepat menuju peristirahatan pangeran Zein.
"Apakah kamu sudah lama sampainya Zein?" Ucap Aya melihat pangeran Zein yang sudah membersihkan diri dan menggunakan pakaian tidur.
"Tidak juga. Ayo kalian segera masuk dan istirahat agar tidak ada yang curiga."
"Baiklah." Rezya menoleh sekilas kearah pangeran Zein yang berlalu pergi menuju kamarnya.
Sementara Lexdo menoleh ke sekitarnya lalu mencoba mencari Redolf namun tidak terlihat dimanapun ia berada.
"Sepertinya ia sudah kembali tetapi kenapa aku tidak melihatnya bukankah hanya ada satu jalan pulang dan pergi menuju tempat persembunyian itu." Batin Lexdo lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan untuk menuju ruangannya begitu juga dengan Rezya.