
"Kamu mau kemana nona." Macron melihat penampilan Aya yang berbeda dari biasanya.
"Berlatih pedang bersamamu tuan Macron." Aya menyunggingkan senyumannya. Ia kelihatan sangat bersemangat.
"Gadis ini tidak bisa ditebak."
"Apa pangeran Fathur sudah memberikanmu izin."
"Dia saja belum bangun tuan, bagaimana aku ingin memberitahu dirinya dan meminta izin."
"Kalau gitu kamu tidak bisa ikut berlatih denganku" Macron meninggalkan Aya dan Ela namun tanpa Macron sadari dua gadis tersebut berjalan dibelakang punggungnya.
"Kalian.... Apa tidak dengar kata kataku. Kalian tetap tinggal selagi pangeran belum memberi izin." bentak Macron memberikan peringatan kepada Aya dan ela.
"Kenapa anda suka sekali mempersulit sesuatu tuan. Bukankah bagus saya memiliki keinginan untuk berlatih pedang agar makin mudah saya melindungi pangeran Fathur dan tidak membuat orang semakin curiga kepada saya." Aya melangkahkan kakinya meninggalkan Macron yang masih mematung.
"Ayo, cepat. Saya masih belum tau seluk beluk istana ini. Apa anda mau saya sesat menuju kamar raja."
"Kamu... "Macron menggantungkan kata katanya lalu berjalan kedepan untuk menunjuk arah namun baru berjalan 4 langkah, Macron menghentikan langkahnya.
"Kenapa pelayan ini ikut." Macron memandang kearah Ela yang sedang menunduk.
"Bukankah dirinya ditugaskan untuk membantuku tuan, aku hanya ingin pelayan yang ada disampingku bisa belajar menggunakan pedang agar bisa melindungi diriku dan dirinya."
"Maksudmu?" Macron membuka mulutnya lebar lebar seakan tidak percaya apa yang dikatakan oleh gadis yang baru ditemuinya di hutan belantara beberapa hari yang lalu.
"Kamu berbicara layaknya seorang putri raja saja."
Aya tidak menggubriskan ucapan Macron. Ia berjalan dengan anggun melihat setiap sudut istana. Beberapa pasang mata melihat dirinya. Tidak sedikit yang mengagumi dirinya namun banyak juga yang tidak menyukainya.
Panglima Eben yang melihat seorang gadis bersama Macron langsung menebak jika gadis itu adalah Aya, wanita yang ingin disingkirkan oleh ratu Alexa.
"Cih, apa tidak ada pria lagi diistana ini hingga seorang gadis kamu bawa didalam istana ini untuk dijadikan seorang pengawal." cicit panglima Eben kepada Macron.
"Apa kamu cemburu," ucap Macron sambil tersenyum menyeringai lalu melewati Eben untuk mengambil posisi melatih prajurit yang sudah berkumpul. Latihan dibagi dalam 2 kelompok berdasarkan hari. Kelompok singa dan kelompok kancil. Kelompok singa adalah pasukan yang kemampuannya diatas rata rata berbeda dengan kelompok kancil. Kelompok kancil berisikan dengan prajurit prajurit pemula. Hari ini yang berlatih adalah kelompok singa.
"Ayo Ela, kita masuk kedalam kelompok itu. Kamu dan aku ikut gerakan mereka."
"Baik nona."
"Haha.. kamu melatih pelayan juga Macron?" Eben tertawa dengan keras hingga membuat beberapa orang yang ada dipihaknya ikut ketawa.
"Ech cupu ?" ucap panglima Eben kepada Ela.
"Ada apa tuan?"
"Bersihkan sepatuku." Ela menoleh ke sekelilingnya lalu duduk besimpuh dilantai.
"Minggir, biar aku saja." Aya mendorong tubuh Ela dengan lembut lalu berdiri di hadapan Eben.
"Jangan ganggu orangku." Aya menatap Panglima Eben dengan tatapan tidak suka.
"Ha Apa...? orangmu? kamu berbicara layaknya seorang bangsawan dan seseorang yang terlahir sebagai putri saja. Kamu hanya seorang pengawal dan kamu tidak memiliki jabatan apapun. sekarang kamu bersihkan sepatuku untuk menggantikan sicupu itu agar dirimu tersadar dari tidur panjangmu.
Prajurit yang ada hanya menggelengkan kepalanya melihat Aya yang berani menghadapi Eben berbeda halnya dengan Macron. Ia terlihat sangat santai.
Aya yang melihat Macron sudah melakukan sebuah gerakan pemanasan langsung berjalan menuju kelompok tersebut namun tiba tiba tubuhnya tersungkur ditendang oleh Macron.
"Nona Aya...!" teriak Ela hingga membuat Macron menghentikan latihannya.
Aya berdiri dan mengelap bibirnya yang berdarah lalu menatap sekilas kearah panglima Eben yang sedang tertawa. Aya menarik nafasnya lalu menarik tangan Ela untuk menjauh namun lagi lagi Eben melayangkan tendangannya hingga membuat Ela sekali lagi terjerembab jatuh. Beberapa prajurit yang ada berlari kearah Aya ingin membantu.
"Kamu... apa maumu?" teriak Aya.
"Aku mau kamu membersihkan sepatuku menggantikan dia. Apa kamu tuli." Eben tertawa keras. Aya terlihat begitu murka.
"wah, gadis cantik sedang marah. Kenapa sayang apa kamu ingin memohon permintaan maaf dariku." ucap Macron yang ingin membelai pipi mulus Aya namun dengan cepat ditepis oleh Aya.
Lagi lagi Aya tidak menggubrisnya, ia melangkahkan kakinya kembali, Eben yang melihat Aya yang tidak takut sama sekali dengan dirinya mengambil sebuah pedang ingin memberikan sedikit goresan luka di punggungnya namun disaat ia mengangkat pedangnya Aya terlebih dahulu membalikkan badannya lalu dengan gesitnya menjatuhkan pedang hingga terlempar jauh dari Eben.
"Kamu... Berani beraninya kamu melawanku."
"Hya...Eben mengarahkan sebuah pukulan kepada Aya, dengan lihainya Aya menggeser tubuhnya kekiri dan kekanan.
"Segitukah kemampuanmu panglima Eben?" Macron dan prajurit yang sedang melakukan pemanasan menghentikan aktivitasnya ingin melihat sebuah tontonan yang sangat menarik.
Eben meloncat kearah Aya ingin memukul tubuhnya namun dengan mudahnya Aya melayangkan sebuah tendangan hingga membuat tubuh panglima Eben terpental.
"Kamu mesti berlatih dahulu untuk mengahadapiku." ucap Aya melangkahkan kakinya meninggalkan Eben yang terpental jatuh di tanah sehingga dibantu oleh beberapa pengawal yang lain.
"Ayo Ela." Aya menarik Ela untuk mengikuti gerakan Macron, Macron hanya menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan latihan bersama dengan yang lain. Beberapa prajurit melihat kearah Aya dan Aya menatap mereka dengan senyuman ramahnya hingga membuat prajurit terpesona.
"uh, senyumnya membuatku gila." kata seorang prajurit yang paling ganteng bernama Rey disana.
"Jangan memandangnya lama, nanti matamu bisa dikeluarkan olehnya." oceh temannya yang lain.
"Benarkah."
"Apa kamu lupa apa yang barusan dilakukannya kepada panglima Eben." Rey melihat kearah temannya lalu langsung bergidik ngeri.
"Hahaha..." teman temannya langsung ketawa melihat ekspresi Rey yang langsung berubah pucat.
Setelah selesai berlatih pedang Aya beserta yang lain kembali ke peristirahatan. Aya bertemu dengan pangeran Fathur di tangga. Aya tersenyum kepada pangeran Fathur yang sedang berdiri lalu dirinya menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Fathur melihat punggung Aya sampai Aya menutup pintu kamarnya.
Pangeran Fathur menarik nafasnya lalu menuruni tangga untuk menikmati sarapan pagi. Biasanya dirinya hanya sarapan pagi sendiri namun dikarenakan Aya ada ditempatnya sebagai seorang tamu. ia meminta Ela untuk memanggilkan Aya.
Aya turun dengan menggunakan dress selutut berwarna putih tulang. Aya tidak menyadari perubahan yang ada didalam dirinya. Kini dirinya sudah kembali riang seperti dulu lagi.
"Kenapa kamu begitu bahagia, apa kamu melakukan sesuatu hal lagi."
"Tidak pangeran, saya hanya merasa segar saja setelah berolahraga pagi ini." ucap Aya sambil tersenyum.
Fathur berniat mengambil piringnya namun dengan gesitnya Aya mengambil lebih dulu lalu dengan santainya ia mengambil sarapan untuk pangeran dan menyajikannya dihadapan Fathur.
"Tidak bagus seorang pangeran mengambil makanannya sendiri? kamu bisa katakan kepadaku apa saja yang ingin diletakkan didalam piringmu." Aya melanjutkan mengambil sarapannya lalu menuangkan air minum untuk pangeran dan dirinya.
Setelah pangeran Fathur menyuapkan makanan kedalam mulutnya barulah Aya ikut melahap makanannya juga.