
Suasana diruangan tamu mendadak menjadi sunyi setelah Rezya memberi ceramah kepada dua makhluk ganteng yang ada dihadapannya. Rezya memandang pangeran Zein dan juga Lexdo yang tidak menjelaskan apapun padanya.
"Ayo kita berkuda untuk menyegarkan fikiran kita." ucap pangeran Zein kepada Rezya dan juga Lexdo.
"Apa kalian tidak mau menjelaskan kepadaku apa pun tentang gadis itu?"
"Tidak ada yang kami tau tentang dirinya. Kamu sudah disini. Kamu boleh mencari tahu tentangnya Rezya." ucap Zein lembut seraya menarik Rezya untuk menuju kandang kuda.
Sepeninggalan mereka bertiga Aya yang sedang berdiri didepan jendela kamarnya tidak sengaja melihat kepergian pangeran Zein.
"Hm, Akhirnya dia pergi juga. Aku harus pergi dari istana ini sebelum aku dibunuh oleh mereka semua. Aku harus mencari botol yang berisikan rambut ratu Alexa. Aku yakin botol itu ada pada pangeran Zein."
Aya mengganti pakaiannya dan mengikat rambutnya lalu membaca beberapa mantra untuk membuat dirinya menjadi makhluk yang tidak bisa dilihat lalu menuju kamar pangeran Zein.
Sesampainya dikamar pangeran Zein Aya kembali menjadi normal. Karena sihirnya tidak bisa terlalu lama. Kini Aya kembali bisa terlihat. Aya mencoba mencari sesuatu yang dicarinya. Botol yang berisikan rambut ratu Alexa tersebut tidak ditemukan dimanapun.
"Dirinya pasti memiliki tempat rahasia seperti pangeran Fathur. Tapi dimanakah itu?" Batin Aya.
Hampir satu jam Aya berada dikamar pangeran Zein namun dirinya masih belum juga mendapatkan apa yang diinginkan. Akhirnya dirinya memutuskan untuk keluar dari kamar.
Disaat dirinya ingin keluar dari kamar ia tak sengaja melihat ada ruangan kosong yang tidak begitu menarik. Aya memasuki ruangan tersebut. Diruangan tersebut ada sebuah kasur seperti kamar tidur pada umumnya namun di sisi tempat tidur tersebut ada sebuah ukiran.
Aya meraba ukiran tersebut dan membaca mantra. Lalu terbukala sebuah pintu.
"Hm, Disini rupanya." batin Aya.
Aya melangkahkan kaki untuk masuk keruangan tersebut. Didalamnya banyak terdapat barang barang unik dan Aya tidak begitu mengerti fungsinya.
Disebuah sudut Aya melihat sebuah lukisan yang sangat dikenalinya. Aya terkejut dan tidak berkedip sedikitpun karena tidak menyangka ada lukisan dirinya dan juga keluarganya digantung disisi tembok. Aya berjalan menghampiri lukisan tersebut namun dirinya tidak sengaja terjatuh dan melihat ada tumpukan buku yang banyak tentang kerajaaan orang tuanya.
"Ternyata disini semua bukunya. Pantas saja semua buku ini tidak ada lagi di perpustakaan?" gumam Aya kesal lalu menendang buku tersebut.
Aya kemudian mengambil beberapa buku untuk diambil lalu mencoba mencari botol kaca. Aya mencari ditiap sisi dan juga sudut. Aya tidak menyadari jika dirinya sudah cukup lama berada didalam kamar milik pangeran Zein.
"Ini dia. Benar prasangkaku aku yakin ia ada disini." gumam Aya sambil tersenyum bahagia.
"Apa dia mencurigaiku atau dia sudah tahu aku adalah putri Carraya anaknya raja Alexandro dari sebuah kerajaan yang dicari selama ini untuk dibunuh? Aku harus segera pergi dari sini?"
Aya menarik nafasnya lalu meletakkan botol kaca didekat sebalik gaunnya. Aya menarik gaunnya tinggi tinggi hingga sampai sebatas paha. Terpampang dengan jelas kaki nya yang jenjang dan kulitnya yang putih bersih. Di bagian pahanya terdapat sebuah tempat penyimpanan pisau belati dan disitu juga diletakkan botol tersebut.
Aya memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Dirinya memandang sekeliling lalu membalikkan badannya.
"Brakkkk...." Aya menabrak sesuatu akibat terkejut.
"Pangeran..." Mata Aya melotot seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Apa kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan?" ucap pangeran Zein sambil bersandar dipintu masuk ruangan yang dimasuki Aya.
"Aku...Aku.. Aku hanya melihat saja pangeran. Aku... Aku.. tidak sengaja menemukan tempat ini." ucap Aya terbata bata sambil meremas jari jemarinya.
"Benarkah? Bagaimana bisa kamu tidak sengaja?" Pangeran Zein mengambil pisau belati yang ada di sebalik kaki kirinya lalu memainkan dikedua tangannya lalu melemoarkan kearah Aya.
"Tekkk..." Pisau belati tertancap dialmari tepatnya disamping Aya berdiri. Kaki dan tangan Aya kini bergemetaran akibat ketakutan dan merasa bersalah.
"Aku sedan membersihkan ruangan ini pangeran. Disaat aku membersihkannya. Aku tidak sengaja menemukannya." jawab Aya panik.
"Semenjak kapan kamu membersihkan ruanganku? Aku baru tahu saat ini. Kalau begitu lanjutlah membersihkan ruanganku. Aku akan melihatnya." Pangeran Zein melangkahkan kakinya menghampiri Aya. Aya pun spontan mundur kebelakang melihat pangeran Zein yang sedang memegang belati yang baru diambilnya lagi.
"Kenapa kamu mundur? Bukankah aku bilang bersihkan ruanganku."
"Aku ingin kamu membersihkan ruangan ini seperti gaya yang barusan?" Bisik pangeran Zein ditelinga Aya hingga membuat Aya merinding.
"Maksud anda pangeran?"
"Apa kamu lupa gayanya? Aku akan membantumu?" ucap pangeran Zein tersenyum sinis lalu dengan cepat mendorong tubuh Aya ketembok.
"Apa yang ingin kamu lakukan pangeran?" Aya menatap pangeran Zein dengan kesal.
"Membantumu!" Pangeran Zein meletakkan tangan kirinya ditembok lalu tangan yang satu lagi dalam diam menarik rok Aya hingga sebatas paha.
"Hentikan."
"Kenapa? Bukankah kamu tadi seperti ini?" Pangeran Zein tersenyum sinis lalu mendekati wajah Aya hingga deru nafas mereka berdua saling terasa diwajah. Dalam diam tangan pangeran Zein sudah berhasil mengambil botol yang diambil oleh Aya di paha gadis tersebut.
Setelah berhasil pangeran Zein tersenyum kepada Aya lalu mundur kebelakang.
"Apa ini?" Pangeran Zein menunjukkan botol kaca di depan wajah Aya. Lidah Aya tersekat tidak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun. Aya mencoba meraba bagian pahanya dan ternyata benar botol yang disimpannya sudah berada ditangan pangeran Zein.
"Sejak kapan dia mengambil botol itu? Berarti dia dari tadi melihatku." Batin Aya ketakutan.
"KENAPA KAMU DIAM? APA KAMU FIKIR AKU TIDAK TAHU APA YANG KAMU LAKUKAN DARI TADI?" Bentak pangeran Zein.
"KAMU TERLALU LANCANG MEMASUKI KAMARKU." Pangeran Zein mendorong tubuh Aya dengan kuat ke tembok hingga membuat tangan Aya yang terkena tusukan pisau ikut terbentur.
"Argh...." Lirih Aya pelan.
Aya melihat pangeran Zein dengan tatapan mata berkaca kaca sekalian juga kesal.
"KATAKAN!" pangeran Zein menekan kedua pundak Aya dengan tangannya.
"Argh. Sakit. Kumohon Lepaskan." Lirih Aya memelas. Pangeran Zein melepaskan pundak Aya. Dia lupa Aya terluka dibagian pundak.
"KELUAR! KELUAR KAMU SEKARANG JUGA."
"Aku akan pergi dari istana ini pangeran tanpa kamu minta. Tapi bisakah kamu mengembalikan botol kaca itu padaku?" ucap Aya memelas.
"Apa? Kamu fikir kamu siapa meminta sesuatu padaku setelah mencuri barang barangku?"
"Itu milikku. Siapa bilang itu milikmu. Aku yang memilikinya. Aku mendapatkan barang itu mempertaruhkan harga diriku hingga aku dibenci dan diusir oleh pangeran Fathur." ucap Aya dengan emosi yang berapi api.
"Hm, Akhirnya kamu mengakui juga itu barangmu. Berarti benar yang dikatakan ratu Alexa dipenginapan itu. Kamu telah mengambil barangnya. Berarti ini adalah rambut ibuku." Pangeran Zein tersenyum sinis hingga membuat Aya tidak berdaya.
"Hukuman apakah yang pantas untukmu Aya? Haruskah dirimu kuserahkan kepada raja Abraham dan ratu Alexa? Agar mendapat hukuman yang pantas." Ujar pangeran Zein mencengkeram kerah pakaian Aya.
"Ma..af... Maaf, Maafkan aku." Ujar Aya sambil berkaca kaca. Tanpa Aya sadari air matanya tumpah dengan deras dipelupuk matanya. Tidak tau kenapa mendengar dirinya ingin diserahkan ke raja Abraham dan ratu Alexa membuat Aya merasa kecil.
Aya merosot duduk bersimpuh dilantai sambil menangis histeria. Tidak tau kenapa saat ini dirinya begitu ingin menumpahkan segala kesedihan yang ada. Dirinya begitu lelah.
"Hiks.. Hiks.." Aya menangis sesugukan. Hatinya begitu tersayat pilu.
"Kenapa kalian semua jahat padaku? Apa salahku? Aku tidak menganggu kalian? Aku kesini hanya ingin mengetahui kematian orang tuaku?" ucap Aya sesugukan.
"Kenapa kamu menghilangkan dan menyembunyikan segala tentang kerajaanku disini dan mengambil sesuatu yang sudah kudapatkan dengan sulit? Kenapa? Kenapa? Jika aku jujur siapa aku. Apakah aku bisa hidup? Aku pasti juga dibunuhkan di kerajaan ini? Apakah aku tidak memiliki hak untuk hidup?" Aya menggigit bibirnya dan menatap pangeran Zein yang masih berdiri.
Kini mata mereka saling bertatapan. Pangeran Zein tidak bisa menjawab ucapan Aya. Karena semua yang dikatakan Aya benar. Pangeran Zein merasa iba dengan Aya.