SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Pergi Dari Pangeran Fathur



Setelah rombongan raja Abraham melakukan perjalanan hampir tujuh jam lamanya dari kerajaan Zimba menuju kerajaan Andromela. Kini akhirnya mereka sudah sampai di gerbang istana kerajaan Andromela.


"Ela, nanti bereskan kamar tamu yang ada di lantai atas. Minta Aya merapikan barangnya." ucap pangeran Fathur setelah sampai di tempatnya raja Abraham.


"Bagaimana dengan nona Aya pangeran?"


"Biarkan saja dia kembali kelantai bawah atau mana tau ia ingin kembali ketempatnya berasal.


"Baiklah pangeran." ucap Ela lirih. Ela terkejut mendengar jawaban pangeran Fathur yang seakan melupakan semua kejadian dirinya dengan nona Aya.


"Mengapa pangeran Fathur begitu cepat berubah. Padahal kemaren beliau sendiri yang meminta nona Aya untuk menempati ruang tamu." batin Ela.


Elapun melangkahkan kakinya untuk kembali ketempat peristirahatan. Disaat ia melewati kereta kuda milik pangeran Zein, Ela tak sengaja bertemu dengan Aya yang baru saja turun.


"Selamat siang pangeran Fathur. Bisakah saya bicara sama nona Aya sebentar."


"Silakan."


"Nona Aya, bisakah kita bicara sebentar." Ela memandang Aya dengan tatapan sendu.


"Bisa. Dimana kamu ingin bicara?" Aya merasakan akan ada firasat buruk yang terjadi dari tatapan Ela yang tidak biasa.


"Kenapa harus berbicara jauh. Disini saja. Apa kamu ingin membicarakan saya." Ucap pangeran Zein menatap tajam kearah Ela dan Aya seakan akan ia ingin mencabik tubuh mereka berdua.


"Oh tidak pangeran. Ini hanya tentang nona Aya." Jawab Ela sungkan dan merasa serba salah.


"Disini saja." Ucap pangeran Zein sambil melipat tangannya. Elapun hanya menarik nafasnya sambil melihat tatapan pangeran Zein yang membuat tubuhnya menggigil.


"Nona Aya. Maafkan saya. Pangeran Fathur meminta nona untuk membereskan barang barang yang ada dikamar tamu." ucap Ela perlahan lahan dan sedikit ragu karena merasa bersalah kepada Aya.


"Oh begitu. Tidak perlu Ela. Aku datang tidak membawa apapun. Maka akupun akan keluar tanpa membawa apapun." ucap Aya tenang.


Pangeran Zein yang mendengar pembicaraan mereka berdua hanya tersenyum getir.


"Katakan kepada pangeran Fathur, Aya akan bekerja denganku dan tinggal ditempatku."


"Pangeran Fathur tidak mengusir Aya pangeran Zein. Ia hanya meminta Aya pindah ke kamar yang ada dilantai bawah." Ucap Ela terkejut mendengar ucapan pangeran Zein. Ia takut pangeran Fathur akan murka kepadanya. Hampir semua orang yang ada diistana tau jika pangeran Fathur dan pangeran Zein adalah musuh bebuyutan.


"Bukankah kamu kemaren mendengar dan melihat sendiri pangeran Fathur mengusir Aya waktu kita berada di kerajaan Zimba dan sekarang ia meminta Aya untuk membereskan barangnya lewat dirimu. Itu sama saja ia mengusir secara halus. Katakan padanya. Jika ada sesuatu minta dia untuk berbicara padaku."


Aya yang mendengar ucapan pangeran Zein hanya menatapnya bingung namun ia tidak bisa membantah apapun yang dikatakan oleh pangeran Zein karena yang dikatakan semuanya benar.


"Ayo Aya."


"Saya harus ke tempat peristirahatan pangeran Fathur terlebih dahulu pangeran Zein."


"Kamu menolak saya dan ingin tetap disana."


"Tidak. Saya tidak menolak." ucap Aya cepat hingga membuat pangeran Zein tersenyum penuh arti.


"Terus kenapa kamu kembali kesana."


"Ada urusan yang harus saya selesaikan. Saya akan ketempat anda setengah jam lagi."


"Hm... baiklah." Pangeran Zein meninggalkan Aya dan Ela dengan gaya santainya.


Sepeninggalan pangeran Zein, Ela memeluk tubuh Aya. Ia rasanya tidak ingin pisah dengan wanita yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.


"Kenapa kamu sedih. Bukankah kita masih bisa bertemu?" Aya menepuk pundak Ela dengan lembut.


"Saya sedih non, hanya nona Aya sendiri yang menganggap saya seperti teman dan keluarga. Kini nona Aya sudah mau meninggalkan saya." ucap Ela sedih.


"Sudahlah. Jika kamu rindukan saya kamu bisa datang berkunjung melihat saya."


"Apa nona Aya yakin ingin bekerja bersama pangeran Zein. Pangeran Zein merupakan orang yang sangat kejam dan licik. Ia juga suka mempermainkan wanita."


"Kamu tenang saja. Jika ia macam macam denganku akan kukuliti dirinya." Canda Aya membuat Ela tersenyum.


"Ayo nona kita ke tempat peristirahatan."


Mereka berduapun kembali ketempat peristirahatan bersama. Setelah sampai ditempat peristirahatan pangeran Fathur Aya langsung menaiki tangga lantai atas dan menuju kamarnya sambil membaca mantra untuk membuka sihirnya. Redolf menatap kamar Aya dari kandangnya. Ia kemudian berlari menuju kekamar Aya setelah merasakan ada kekuatan sihir yang terjadi di kamar Aya. Redolf yakin Aya ada dikamar tersebut.


"Redolf." ucap Aya terkejut karena melihat Redolf sudah berdiri didepan kamarnya disaat ia ingin menutup pintu kamar.


"Jangan lupa janjimu Aya."


"Aku tidak akan melupakannya. Setelah selesai janjiku izinkan aku untuk pergi dari kerajaan ini."


"Baiklah Aya." Redolf meninggalkan Aya dan kembali kekandangnya dengan langkah tegap.


Aya membersihkan semua peralatannya dan menukar pakaiannya dengan gaun merah yang awal dipakainya disaat kedatangannya kemari. Semua yang ada ditinggalnya diruang tersebut. Sebelum ia keluar dari kamar tersebut ia memandang seluruh kamar yang sudah menemaninya beberapa minggu belakangan.


"Ayah, ibu, Kenapa jalanku begitu berliku?" batin Aya sambil menghembuskan nafasnya berat. Dirinya ingin sekali bersandar dan menceritakan semua keluh kesah yang ada didalam hatinya.


Setelah rasanya cukup Aya melangkahkan kakinya untuk turun kelantai bawah dan menitip sebuah surat kepada Ela untuk diserahkan kepada pangeran Fathur. Zeya yang melihat kepergian dan mendengar pembicaraan mereka berdua tersenyum melihat kejadian tersebut.


"Akhirnya tugasku selesai. Aku tidak perlu mengurusin gadis itu lagi." Zeya membalikkan badannya untuk memberikan informasi kepada panglima Zein.


Dalam perjalanan menuju tempat pangeran Zein, Aya bertemu dengan putri Liana yang sedang bersenda gurau dengan ratu Alexa.


"Ech ada nona Aya." ucap ratu Alexa.



note : Putri Liana free image from pinterest.


"Ada apa kamu kesini?" Ratu Alexa menatap sinis kearah Aya. Aya hanya memandang sekilas kearah ratu Alexa tanpa menggubris pertanyaannya. Ayapun langsung melewati mereka berdua. Aya beranggapan akan percuma jika ia meladeni ratu Alexa pasti akan panjang lebar.


"Dasar gadis tidak tau diri. Aku akan mendepakmu dari sini hari ini juga." teriak ratu Alexa.


"Siapa gadis itu?"


"Hanya pekerja yang ada di istana ini. Sebentar lagi dia akan keluar dari sini.


"Hm baguslah. Dia sangat sombong." Putri Liana menoleh sekilas kepunggung Aya sambil tersenyum sinis.


"Pelayan aja belagu." batin putri Liana.


Putri Liana dan ratu Alexa kembali melanjutkan pembicaraan mereka sambil berjalan mengelilingi istana. Mereka berbicara sangat akrab sesekali terdengar gelak tawa mereka.


"Mau kemana kamu." ucap pangeran Fathur yang melihat Aya berjalan dikoridor istana.


"Oh tidak ada."


"Apa kamu ingin melakukan sesuatu lagi?"


"Maksud anda pangeran?"


"Tidak perlu aku jelaskan. Kamu pasti tahu maksudku."


"Aku tidak ingin melakukan apapun disini. Kenapa anda begitu mencurigaiku?"


"Bagaimana aku tidak mencurigaimu? Kamu menyembunyikan kedatangan Selena di saat kita berada dikerajaan Zimba. Belum lagi disaat kamu menyembunyikan sesuatu didalam genggamanmu. Bagaimana bisa aku mempercayai seorang pennyihir?"


"Kamu keterlaluan pangeran Fathur."


"Oh ya benarkah. Seharusnya kamu bersyukur aku menyelamatkan hidupmu dari Selena disaat malam itu? Oh tidak aku sudah dua kali memyelamatkanmu. Apa kamu tidak mengingatnya?"


"Apa maumu pangeran?"


"Tidak ada apa apa. Tapi enyahlah dariku. Bukankah sudah kubilang padamu. Aku benci dikhianati disaat aku mempercayai seseorang."


"Hm baiklah.Terimaksih atas kebaikan anda selama ini." ucap Aya menatap pangeran Fathur dengan sendu. Pamgeran Fathur langsung meninggalkan Aya dengan penuh emosi.


Aya memegang dinding tembok yang ada disampingnya. Jika bisa ia ingin sekali menjerit dan berteriak disaat ini. Kaki Aya tiba tiba saja lemah untuk melangkah namun ia memaksakan dirinya untuk berjalan. Ucapan pangeran Fathur sangat menyayat hatinya. Bagaimana tidak menyakitkan bagi Aya, disaat ia mempercayai pangeran Fathur sepenuh hati dan menggantung harapan yang tinggi kepada lelaki tersebut namun ia dibuang begitu saja.


"Berjalanlah dengan baik? Apa kamu tidak bisa berjalan?" Pangeran Zein yang tidak tahu kapan datangnya kini sedang membantu Aya untuk berjalan. Pangeran Zein memegang lengan Aya untuk membantu Aya yang lemah.


"Aku bisa berjalan sendiri pangeran. Lepaskan!" Aya melepaskan tangannya.


"Hm baiklah."


"Ayo kita ketempatku." Pangeran Zein melambatkan langkahnya mengikuti langkah Aya yang gontai.


"Kenapa kamu seperti sebulan tidak makan? Jalanmu seperti siput."


"Apa kalian semua diistana ini terbiasa mengasari orang lain?" ucap Aya dengan mata berkaca kaca. Dirinya yang lelah dengan semua tekanan terasa sedikit lebih sensitif.


"Kenapa kamu begitu sensi sekarang biasanya kamu ngomong ceplas ceplos juga dan sering menyombongkan diri? Kamu tidak seperti biasa." ucap pangeran Zein santai tanpa menoleh Aya.


"Aku lelah." Gumam Aya lirih hanya untuk dirinya sendiri namun pangeran Zein yang memiliki telinga yang sangat tajam mendengar ucapan Aya. Ia menoleh sekilas kearah Aya lalu tersenyum getir melihat gadis yang ada dihadapannya.


"Kalau kamu lelah, kamu istirahat dulu. Jangan terlalu banyak berfikir." Ucap pangeran Zein. Aya yang mendengar ucapan pangeran Zein terkejut dan langsung berdiri tegak.


"Apa kamu mendengar perkataanku?" Aya menoleh kearah pangeran Zein namun pangeran Zein tidak menggubris pertanyaan Aya. Ia menoleh sekilas lalu melangkahkan kakinya kembali menuju tempatnya.


"Hei pangeran Zein. Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" Aya kembali bersemangat dan mengejar langkah kaki pamgeran Zein.


Pangeran Zein yang tiba tiba berhenti membuat tubuh mereka saling bertabrakan.


"Apa kamu tidak memiliki mata gadis kecil?" Pangeran Zein meletakkan telunjuknya ke jidat Aya.


"Kamu yang tiba tiba berhenti, kamu yang salah bukan aku." Aya menepis telunjuk pangeran Zein.


"Syukurlah kamu sudah kembali. Ayo kita jalan."


"Semenjak kapan kamu disana tadi?"


"Sebelum kamu datang."


"APA....?"


Aya menarik tangan pangeran Zein dan menatap manik matanya dengan serius. Manik mata merekapun saling bertemu. Manik mata Zein sangat unik. Manik matanya bewarna biru terang dan hijau gelap.


"Jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda."


"Apa kamu mendengar semuanya."


"Aku pun tidak tau. Sudah hentikan. Kapan kita akan sampai? Aku sudah lelah." Pangeran Zein memotong pembicaraan Aya agar Aya tidak bertanya lagi.