SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Pangeran Fathur membuka rahasia Aya



"Ayo Zein kita kembali. Kamu harus istirahat agar badanmu kembali bugar." ucap ratu Alexa kepada pangeran Zein.


"Baiklah ibu."


Pangeran Zeinpun mengikuti langkah kaki raja Abraham dan ratu Alexa untuk pulang. Lexdo dan Aya mengikuti mereka dari belakang dan diikuti oleh prajurit yang lain. Kemudian mereka berpisah setelah sampai dikediaman raja Abraham. Karena arah tempat peristirahatan pangeran Zein berbeda.


Selama dalam perjalanan pangeran Zein hanya diam dan tidak menoleh kebelakang sedikitpun.


"Lexdo, panggilkan kepala pelayan menghadapku di ruang kerja dan kamu ikuti aku." ucap pangeran Zein sambil menunjuk jari telunjuknya kearah Aya dengan tatapan tajam.


"Baik pangeran." ucap Lexdo berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Sementara Aya hanya mengikuti langkah kaki pangeran Zein dari belakang tanpa bicara. Pangeran Zein memberhentikan langkahnya lalu menoleh kearah Aya.


"Apa yang akan dilakukannya kepadaku?" batin Aya.


"Jelaskan padaku apa yang dimaksud pangeran Fathur mengatakan bahwa kamu adalah seorang penyihir?" Pangeran Zein kini menatap manik mata Aya kedalam.


"Itu hanya omong kosong. Mana mungkin aku seorang penyihir. Jika aku punya kekuatan tentu aku sudah membalas perbuatannya." ucap Aya berbohong sambil menggenggam jari jemarinya karena merasakan gelisah.


"Oh ya benarkah?"


"Terus bagaimana bisa kamu dikendalikan oleh iblis? Apa kamu menuntut sebuah ilmu hingga membuat perjanjian dengan iblis tersebut? ucap pangeran Zein sinis.


"Akupun tidak tahu dengan apa yang terjadi tadi. Terimakasih sudah membantuku.


"Hm baiklah. Jika kamu tidak mau jujur. Aku akan memberimu waktu untuk memilih mengatakan semua padaku. Jika kamu berani beraninya mempermainkanku. Kamu akan menerima segala resikonya."


Pangeran Zein melangkahkan kakinya untuk masuk keruang kerjan. Ia berdiri di jendela dan melihat pemandangan taman dari dalam ruangan. Tidak berapa lama kepala pelayan sudah muncul dari daun pintu.


"Masuk." ucap pangeran Zein tanpa menoleh sedikitpun kepada Aya dan kepala pelayan.


"Baik pangeran."


"Berikan hukuman kepada gadis yang baru kerja ini hukuman yang biasanya kamu berikan kepada pelayan yang lain karena ia sudah menggagalkan rencanaku dan membuat aku terlambat di acara makan malam."


"Baik pangeran." ucap kepala pelayan dengan tatapan tajam kepada Aya. Kepala pelayan orang yang adil dalam memberi hukuman dan penilaian. Ia tidak berpihak kepada siapapun.


"Dan kamu kepala pelayan, tidak akan mendapatkan bonus bulan ini." Aya yang mendengarnya melihat kearah kepala pelayan dan menjadi merasa bersalah.


"Pangeran Zein, maafkan aku. Jangan memotong bonus kepala pelayan tapi berikanlah hukuman kepadaku berkali lipat." ucap Aya penuh harap.


"Heh... Apa kamu fikir kamu bisa mengaturku?" Pangera Zein mendekati tubuhnya dan mengangkat dagu Aya. Kini manik mata mereka saling bertemu. Tidak berapa lama pangeran Zein melepaskanya


"Keluarlah kalian. Aku sudah selasai." Pangeran Zein meninggalkan ruang kerja tanpa menoleh sedikitpun kepada Aya. Aya menarik nafasnya dan terduduk di atas kursi dengan menutup wajahnya karena merasa begitu lelah.


"Ayo ikuti aku Aya. Pangeran Zein orang yang tegas. Dia tidak suka dengan sebuah kegagalan dan kesalahan. Bukankah saya sudah memperingati kamu?" ucap kepala pelayan dengan tatapan tajam.


"Maafkan saya kepala pelayan. Ini betul betul diluar kendali saya. Saya tidak berniat melakukan kesalahan tersebut." ucap aya dengan tatapan sayu. Kepala pelayan menatap kedalam manik mata Aya dan melihat sebuah kejujuran.


"Tidak apa. Ini hari pertamamu. Tapi aku harap kamu akan melakukan yang terbaik lain kali. Ayo kamu harus menerima hukumanmu membersihkan setiap sudut ruang peristirahatan ini malam ini.


"APA...?" Aku harus membersihkan semua ruangan ini. Apa maksud anda aku harus menyapu dan mengepel? ucap Aya membelalakkan matanya.


"Iya, bukan itu saja. Kamu harus membersihkan dapur sekalian. Sampai benar benar bersih. Itu hukuman untuk semua orang yang sudah melakukan kesalahan." ucap kepala pelayan.


"Kenapa begitu berat?"


Aya mengikuti langkah kaki kepala pelayan dengan lemas karena tubuhnya betul betul lelah dan ingin baring diatas kasur disaat ini.


"Apa aku harus mengerjakannya sekarang kepala pelayan?"


"Tidak. Kamu mengerjakan disaat orang sudah tertidur agar tidak menganggu orang lain yang masih berjaga."


"Terus kenapa kamu menyuruhku mengikutimu?"


ucap Aya pasrah.


"Aku ingin menunjukkan ruangan gudang peralatan


alat yang akan kamu gunakan untuk bekerja nanti." Kepala pelayan menjawab tanpa menoleh ke arah Aya. Lagi lagi Aya harus menarik nafasnya untuk kesekian kali.


Sementara Aya lagi menuju gudang tempat penyimpanan alat kebersihan. Pangeran Zein sedang duduk bersama Lexdo membahas sesuatu.


"Baiklah pangeran." ucap Lexdo.


"Kamu jangan sampai menarik perhatian gadis itu. Kamu harus memperhatikannya tanpa harus dia ketahui. Aku penasaran dengan kemampuan sihirya."


"Akan saya laksanakan pangeran."


"Baiklah kamu bisa pergi."


"Baik pangeran." Lexdo meninggalkan kamar pangeran Zein. Belum selesai tugas lukisan kini dia harus mencari tahu sebesar apa kemampuan Aya dalam menggunakan sihir.


"Hemh, ternyata gadis itu memiliki banyak rahasia. Tidak mungkin dia masuk diistana ini tidak memiliki tujuan. Pasti ada satu tujuannya hingga ia bertahan sampai saat ini. Walaupun diusir oleh pangeran Fathur." batin Lexdo menatap Aya dari jauh.


Aya yang sudah kembali dari gudang duduk di sudut ruangan sambil memangku wajahnya dengan tangan kanan.


"Apa aku harus kabur saja dari sini? Perjanjianku dengan Redolf bisa kulupakan saja. Tapi bagaimana aku bisa tau kematian orang tuaku jika aku cepat pergi dari sini?" Aya menarik nafasnya dengan begitu berat. Fikirannya betul betul buntu.


Jika dirinya memutuskan untuk pergi, pengorbanan yang dilakukannya selama ini akan percuma saja selain itu keluarga kerajaan pasti akan memburu dirinya jika masih berada di wilayah kekuasaan Adromela namun jika dirinya tidak pergi ia akan banyak menghadapi masalah kedepannya.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu kini beberapa orang sudah terlelap hanya tinggal penjaga malam saja. Aya mulai membersihkan setiap sudut ruangan. Aya tiba tiba terduduk disebuah sudut karena tubuhnya betul betul terasa lelah dan mengantuk.


"Argh, aku tidak boleh kalah dari mereka. Aku harus mengatur rencanaku." Aya bangun berdiri dan melihat sekelliling. Setelah dirinya memastikan di sekitarnya tidak ada orang. Aya menggerakkan tubuhnya untuk melesat dan bergerak dengan cepat.


"Whooosh." Aya menghilang untuk sesaat tidak terlihat. Lexdo yang dalam diam memperhatikan Aya dari tadi. Terkejut melihat kemampuan Aya.


"Aku fikir pangeran Fathur berbohong jika dia adalah seorang penyihir." gumam Lexdo. Lexdo melesat dengan cepat mencari sosok Aya namun ia tidak menjumpainya. Ia hanya melihat ada berberapa barang yang bergerak sendiri dengan begitu cepat. Kemudian ruangan tersebut langsung menjadi rapi.


"Dimana gadis itu?" batin Lexdo karena dirinya hanya melihat beberapa barang yang terbang dan bergerak sendiri kemudian dalam hitungan detik semuanya telah bersih sempurna.


"Whooosh....." Aya berkelebat diudara dan melesat masuk kedalam kamarnya. Dirinya membersihkan diri dan membaringkan tubuhnya yang lelah dalam sekelip mata dirinya telah pergi memejamkan mata. Dirinya tidak menyadari jika Lexdo sedang memperhatikan dirinya.


Dilain sisi Lexdo melangkahkan kakinya pelan pelan ingin mencari keberadaan Aya. Lexdo mencari Aya di setiap sudut namun sosok Aya tidak terlihat sama sekali.


"Apa dia sudah kembali ke kamarnya?" batin Lexdo.


Lexdo akhirnya memutuskan untuk istirahat memberikan laporan kepada pangeran Zein besok pagi.


"Menarik. Ada yang aneh dengan gadis itu. Bagaimana ia bisa masuk di dalam istana disaat ia memiliki kekuatan sihir. Bukankah istana tersebut sudah disegel oleh mendiang Ishna agar tidak ada satupun penyihir bisa masuk." batin Lexdo sambil berbaring diatas dipannya.