
"Prang..." sebuah gelas kaca dilempar kearah seorang pelayan hingga membuat pipi pelayan tersebut bewarna merah karena benturan gelas dan pakaian yang digunakannya ikut basah.
"Maafkan saya putri Liana," ucap pelayan dengan mata berkaca kaca.
"Bagaimana bisa kamu membuat pakaian yang harus kugunakan terkena noda begini. Aku saja belum menggunakannya. Upahmu seumur hiduppun tidak akan mampu membuat gaun ini." Putri Liana berteriak membentak pelayan yang ada dihadapannya hingga membuat beberapa pelayan yang ada disana ikut menundukkan kepalanya karena takut jadi lampiasan putri Liana.
"Plak...." sebuah tamparan mengenai pipi gadis tersebut.
"Bawa dia kebawah. Berikan dia hukuman sesuka hatimu. Jika kamu ingin mencicipinya pun boleh." Putri Liana tersenyum menyeringai kearah prajurit tersebut.
"Tidak! jangan. Saya mohon Putri Liana maafkan saya. Saya mohon. Saya tidak sengaja melakukannya." teriak pelayan tersebut dengan separo berteriak dan menangis tersedu namun putri Liana sedikitpun tidak menggubrisnya.
Prajurit tersebutpun tanpa menunggu aba aba langsung menarik pelayan tersebut keluar dari kamar putri Liana dan menuju kearah anak tangga. Ia tidak sabar untuk mencicipi pelayan tersebut dengan gratis.
"Menurutlah, bukankah kamu mendengar perintah putri Liana?"
"Ampun, tolonglah saya tuan." ucap pelayan dengan tersedu sedu sambil memberontak agar tubuhnya terlepas dari genggaman sang prajurit.
"Ada keributan apa ini?" teriak ratu Wiena yang tidak jauh dari mereka sambil melihat seorang pelayan wanita lagi bersimpuh dilantai bersama seorang prajurit.
"Lepaskan dia." ucap ratu Wiena.
"Tapi ratu..."
"Lepaskan!" teriak ratu Wiena menatap tajam kearah prajurit.
"Baiklah ratu." Prajurit hanya bisa pasrah jika ratu Wiena sudah menatapnya seperti itu jika tidak ingin berurusan dengan raja.
"Kamu pergilah dari sini dan tinggalkan kami." Ratu Wiena menyuruh prajurit untuk pergi dari sana.
"Baik ratu." ucap prajurit tersebut sambil menundukkan kepalanya dan melangkah kakinya untuk pergi secepat mungkin.
"Terimakasih ratu." Pelayan tersebut mencium kaki ratu Wiena. Jika tidak pasti dia sudah melayani nafsu prajurit bejat tersebut.
"Bangunlah! jelaskan apa yang terjadi." Pelayan tersebutpun menjelaskan semua yang terjadi barusan tanpa kurang sedikitpun.
"Maafkanlah putri Liana. Obatilah lukamu dan istirahatlah dikamarmu.
"Baik ratu."
"Anak itu, makin hari tingkahnya makin liar dan sangat arogan." Batin ratu Wiena didalam hatinya.
Ratu Wiena melangkahkan kakinya menuju kamar tuan putri. Ia melihat Liana yang sedang sibuk mempersiapkan semuanya. Ia memerintah semua pelayan untuk mengurus pakaian, sandal, perhiasan dan perlengkapan yang lainnya yang akan digunakan.
"Liana..." sapa ibunya lembut.
"Ibu, coba lihat ini, baguskan?" putri Liana menunjukkan perhiasan yang terbuat dari berlian.
"Bagus sayang. Apapun yang kamu gunakan pasti semuanya bagus karena putri ibu sudah cantik dari asalnya."
"Ha...ha...ha...! Tentu saja ibu, tidak ada wanita manapun yang bisa mengalahkan kecantikanku.
"Ibu, apa kamu sudah mengundang Selena untuk hadir nanti malam?"
"Kenapa kamu begitu antusias untuk mengundang wanita bernama Selena itu, Liana?"
"Dia adalah teman baruku ibu, aku sangat menyukai dirinya."
"Ibu merasa dia bukan wanita yang baik baik Liana.
"Tidak ibu. Dia gadis yang baik. Dia banyak mengajariku sesuatu.
"Hm baiklah Liana. Ibu akan mengundangnya nanti."
"Terimakasih ibu, aku sangat mencintaimu." Liana langsung masuk kedalam pelukan ibunya dan mencium pipi ratu Wiena.
"Liana, lain kali kamu jangan memperlakukan pelayan seperti tadi ya sayang."
"Ach, biarin aja ibu. Jika kita memanjakan mereka, mereka akan menginjak kaki kita. Lagian kan mereka cuma pelayan ibu. Sudahlah jangan dipermasalahkan ibu." Putri Liana kembali menyibukkan dirinya melihat persiapan dirinya untuk nanti malam.
"Tapi Liana.. "
"Ibu..." Putri Liana menatap kearah ibunya dengan penuh sayu. Ratu Wienapun tidak melanjutkan ucapannya untuk menasehat Liana.
"Aku ingin mempercepat pernikahanku dengan pangeran Fathur ibu. Apa tidak bisa ibu mengusahakannya?"
"Sabar Liana, semuanya ada proses. Kalian aja belum pernah ketemu."
"Aku pernah melihatnya ibu, aku betul betul menginginkan dirinya menjadi suamiku."
"Kita belum tau bagaimana perasaan pangeran Fathur kepadamu Liana?"
"Aku tidak peduli dengan perasaanya ibu. Aku hanya menginginkan dirinya menjadi milikku. Bagaimanapun caranya. Aku mohon ibu. Bantu aku." Putri Liana menatap ratu Wiena dengan mata berkaca kaca.
"Aku menginginkan dirinya ibu."
"Bagaimana bisa kamu tidak memikirkan perasaannya Liana. Pernikahan itu atas dasar suka sama suka."
"Dia akan menyukaiku ibu. Bukankah ibu bisa lihat sendiri begitu banyak pangeran yang ingin melamarku dan lelaki tergila gila akan kecantikanku."
"Baiklah Liana ibu hanya bisa membantumu untuk mendekatinya." Jawaban ibunya membuat putri Liana sedikit bahagia.
Ratu Wienapun menuruni tangganya menuju aula yang besar. Aula tersebut bisa menampung orang dengan jumlah yang sangat banyak. Disinilah pesta tersebut akan berlangsung. Sebenarnya ratu Wiena tidak ingin mengadakan pesta ulang tahun dirinya. Namun pesta tersebut merupakan permintaan putri Liana agar pangeran Fathur menjejaki kakinya ketempat Istana miliknya.
Setelah melihat semua persiapan sudah selesai dan semuanya kelihatan sempurna. Ratu Wiena kembali kedalam kamarnya melihat sang raja yang sedang berbicara dengan pengawal setianya.
Raja dan ratu merupakan pasangan yang sangat harmonis. Mereka selalu kompak dalam urusan apapun. Raja Barock yang merupakan suami dari ratu Wiena tidak pernah membiarkan istrinya sendiri menyelesaikan masalah apapun.
Raja Barock melihat kedatangan istrinya lalu menghentikan pembicaraan dirinya dengan pengawal setianya.
"Kamu keluarlah dulu. Bidadariku sudah sampai." Raja Barock tersenyum menggoda istrinnya.
"Baik tuan." Pengawal membungkukkan badannya kepada raja Barock dan juga ratu Wiena kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi keluar dari ruangan tersebut.
"Kamu selalu saja begitu. Aku malu. Akukan sudah tua."
Ratu Wiena menoleh kesuaminya yang menghampiri dirinya.
"Dimataku kamu tidak tua ratuku. Kamu selalu terlihat muda." Raja merangkul pinggang istrinya membawa ratu Wiena duduk disamping taman.
"Bagaimana persiapannya?"
"Sudah selesai. Sangat sempurna."
"Hm, baguslah."
"Bagaimana dengan anak kita. Apakah dia menyukainya."
"Dia tidak melihatnya. Ia lebih sibuk berada dikamarnya menyiapkan pakaian yang akan digunakannya. Dia begitu antusias." ucap ratu Wiena melemparkan pandangannya ke taman.
"Ada apa? Kenapa kamu tidak begitu bersemangat ratuku? Raja Barock mendekatkan kursinya ke kursi istrinya.
"Aku melihat akhir akhir ini Liana menjadi orang yang tidak kukenal sayang. Dia berubah menjadi liar dan sangat arogan." ucap ratu Wiena penuh rasa khawatir.
"Itu hanya kekhawatiran kamu saja."
"Tidak. Tadi aku melihat sendiri dia menghukum seorang pelayan hanya karena gaun yang akan digunakannya basah dan ini bukan yang pertama kali. Kemaren dia menampar seorang pelayan ditaman belakang hingga membuat bibir pelayan tersebut terluka.
"Kenapa dia bisa berubah seperti itu?" ucap raja Barock yang terkejut mendengar tingkah putri semata wayangnya berubah.
"Aku tidak tahu. Apa mungkin dirinya dari dulu sudah liar dan arogan. Namun karena aku terlalu sibuk memanjakan dirinya. Aku menutup mata." ucap ratu Wiena penuh penyesalan.
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Aku juga ikut andil. Seorang anak yang liar bukan kesalahan ibunya saja. Aku sebagai seorang ayah juga punya peran penting." ucap raja Barock sambil memeluk istrinya hingga membuat sang istri meletakkan kepalanya dipundak sang raja.
"Mulai hari ini aku akan memperhatikan dirinya dan minta mata mata untuk melihat gerak geriknya. Kita tidak bisa menutup mata. Baik buruk anak kita akan berpengaruh ke hari tua kita kita kelak." sambung raja Barock membelai tangan sang istri.
"Iya, aku setuju. Aku juga akan lebih ekstra memperhatikannya. Walaupun ini sudah telat. Tapi kita harus mencoba.
"Iya sayang. Ya sudah. Jangan cemberut lagi."
"Hm baiklah rajaku. Kamu adalah pemimpin, suami sekaligus ayah yang baik untuk diriku."
"Hm. Makasih sayang." Raja Barock mengecup kening istrinya yang sudah tua.