SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Kehilangan Redolf



Aroma pepohonan dan udara yang dingin disubuh hari terasa begitu sangat segar. Sebagian pelayan dan prajurit sudah terbangun sejak tadi untuk berganti shift berkerja begitu juga dengan Aya.


Aya sudah melakukan ritual paginya membersihkan diri lalu membuka jendelanya agar dapat menghirup udara yang sangat segar. Tetesan embun didedaunan sisa sisa hujan kemaren menambah suasana yang begitu enak dipandang mata.


"Whooooooosh..." Aya melesat dengan cepat dari jendela menuju tempat Redolf.


"Redolf...." Teriak Aya pelan.


"Redolf...." Aya menoleh sekeliling sambil memanggil nama Redolf berulang ulang kali namun Redolf tidak kunjung menampakkan dirinya.


"Redolf, kamu dimana?" Aya melesat dengan cepat untuk mencari Redolf ditiap sudut namun tidak mendatangkan hasil. Redolf tidak ada dimana mana.


"Apa kalian ada melihat Redolf?" Ucap Aya kepada prajurit yang berjaga dengan panik.


"Tidak. Bukankah kemaren sore kamu bersama Redolf. Kami tidak ada melihat Redolf sejak itu." Jawab prajurit tersebut.


"Apa ada seseorang yang datang kesini?"


"Tidak ada. Tidak ada tamu yang datang sejak kemaren sore." Ucapnya lagi.


Aya kemudian bertanya dengan pelayan yang lain namun semua jawaban sama. Semua mengatakan hanya melihat dirinya bermain dengan Redolf.


"Redolf kamu dimana? Apa kamu baik baik saja?" Aya terduduk ditempat dirinya menyimpan Redolf setelah bermain bersama sore kemaren.


"Apa dia terluka? Apa dia bernasib sama seperti Yoena? Apa dia diculik oleh pangeran Fathur atau dirinya diculik oleh iblis itu?" Batin Aya lesu.


"Redolf...." Teriak Aya lagi. Aya memutuskan untuk mengintip diperkarangan rumah peristirahatan pangeran Fathur.


"Whoooooosh..." Aya melesat di atas pepohonan dari pohon yang satu dengan pohon yang lainnya. Suasana subuh yang masih gelap membuat Aya tidak terlihat oleh prajurit yang berjaga ditambah lagi kemampuan Aya meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain tidak perlu diragukan. Dirinya tidak menimbulkan suara sedikitpun.


Akhirnya Aya sampai diperkarangan pangeran Fathur. Aya melihat sekelilingnya tidak ada tanda tanda Redolf di sana. Aya menyelinap masuk kepenjara bawah tanah. Aya mengerti seluk beluk penjara tersebut dikarenakan dia pernah memasukinya.


"Tidak ada juga." Batin Aya lalu kembali melesat dengan cepat untuk pergi sebelum matahari keluar. Aya menarik nafasnya setelah sampai dipenginapan pangeran Zein.


Aya melangkahkan kakinya dengan hati yang sedih. Dirinya ingin sekali menangis dan menjerit namun air matanya benar benar telah habis karena akhir akhir ini sering kali menangis karena menghadapi permasalahan yang tidak kunjung selesai.


"Aya darimana saja kamu?" Ucap Lexdo melihat Aya berjalan dengan lunglai.


"Apa tuan melihat Lexdo?" Aya menatap Lexdo dengan penuh harap.


"Kenapa? Apa dia kabur? Aku melihatnya baik baik saja tadi malam." Ucap Lexdo. Karena dia memang melihat Redolf baik baik saja waktu mengantar pangeran Zein.


"Benarkah? Kapan anda melihatnya?" Ucap Aya bersemangat.


"Iya. Aku melihatnya berjalan keluar. Seperti nya dia kelaparan lalu aku beri dia makan setelah itu aku tidak tau Aya."


"Oh baiklah tuan." Aya berlalu pergi dengan raut wajah sedih.


"Aku lupa memberinya makan? Apa karena itu dia kabur dariku atau dia kembali kepada majikannya pangeran Fathur." Batin Aya. Aya memijit mijit kepalanya yang tidak pusing lalu permisi untuk masuk kedalam. Aya memutuskan hari ini untuk kembali bekerja seperti biasa karena dia merasa badannya sudah kembali bugar.


Aya menarik nafasnya lalu membuangnya kembali. Aya mencoba untuk menenangkan hatinya yang sedang tidak baik baik saja.


"Kenapa kamu bekerja? Bukankah kamu saya suruh untuk istirahat dahulu."


"Tidak apa apa kepala pelayan. Aku sudah sehat."


Aya melakukan pekerjaan seperti biasanya namun dirinya tidak begitu bersemangat. Ingin rasanya ia pergi keluar mencari Redolf namun ia tidak tahu harus pergi kemana. Ditambah lagi dirinya yang sudah terlalu banyak membuat masalah di kerajaan ini. Ia takut diusir dari tempat peristirahatan pangeran Zein sementara dia masih punya janji dengan Redolf.


Setelah selesai melakukan pekerjaannya Aya menuju sebuah taman.


Aya duduk disebuah kursi sambil meletakkan wajahnya diatas meja. Aya menangkupkan seluruh wajahnya lalu tanpa sengaja embun embun bening dari kelopak matanya mengalir.


"Ibu, Ayah... aku rindu. Kenapa kalian tidak membawaku sekalian pergi bersama. Kenapa meninggalkanku sebatang kara. Aku seperti perahu yang ditinggalkan oleh nakhoda terombang ambing di tengahnya samudra." Lirih Aya getir.


Setelah puas menenangkan dirinya Aya kembali ke tempat peristirahatan. Dari jauh Aya melihat prajurit yang begitu ramai di halaman depan tempat peristirahatan pangeran Zein. Tiba tiba seorang prajurit berteriak.


"ITU DIA...." Ucap salah seorang prajurit. Prajurit tersebut langsung berlari mendekati Aya lalu dengan cepat menangkap Aya. Aya hanya diam disaat dirinya ditangkap. Dirinya sedikitpun tidak melawan. Aya sudah mulai kehilangan separuh jiwanya.


Aya dibawa pergi kehadapan keluarga kerajaan kecuali ibu suri dan raja Abraham tepatnya diruang tamu pangeran Zein. Disana ada ratu Alexa, pangeran Fathur dan juga putri Liana serta pangeran Zein.


Lexdo dan Rezya menatap aneh kearah Aya yang hanya diam disaat dua orang prajurit tersebut mendorong dirinya kehadapan keluarga kerajaan. Aya berdiri menghadap mereka semua lalu memandang satu persatu. Pandangan matanya berhenti dihadapan pangeran Zein yang hanya menatap dirinya tajam. Aya menundukkan pandangannya.


"Dimana kamu sembunyikan Redolf?" Ucap ratu Alexa. Aya menatap tajam kearah ratu Alexa disaat nama Redolf diucapkan.


"Sepertinya mereka juga tidak tau dimana Redolf. Berarti Redolf memang kabur dari istana ini." Batin Aya.


"Hei... Kenapa kamu diam. Apa kamu mendadak menjadi tuli dan bisu? Ratu Alexa mendorong Aya hingga terjatuh kelantai. Semua orang menatap Aya namun Aya hanya menarik nafasnya lalu membuang kembali. Aya terlalu lelah untuk berdebat dengan mereka semua.


"Ayo bawa dia. Masukkan dia kedalam sel penjara. Berikan saja tulangnya kepada serigala yang kelaparan." Ratu Alexa begitu murka dengan Aya yang hanya diam seribu bahasa.


"Kenapa dia tidak melawan. Bukankah biasanya dia senang sekali menjawab ucapan orang lain walaupun itu raja sekalipun!" Batin pangeran Zein dan juga pangeran Fathur.


Beberapa prajurit maju untuk membawa Aya. Aya hanya pasrah disaat dirinya diborgol. Aya menatap pangeran Fathur dwngan tatapan yang sulit diartikan.


"Hentikan. Lepaskan saja dia. Dia tidak bersalah. Bukankah yang melukai putri Liana adalah Redolf." Ucap pangeran Fathur membuat semua orang terkejut.


"Apa maksudmu sayang? Bukankah singa itu adalah miliknya?" Redolf telah membuat diriku terluka dan meninggalkan jejaknya ditubuhku." Putri Liana menatap pangeran Fathur murka.


"Aku sendiri yang menemukan Redolf dihutan. Aku yang membawanya hingga sampai kesini dan aku pula yang menjaganya di tempat peristirahatanku Liana." Ucap pangeran Fathur emosi.


"Tidak. Aku tidak mau tau itu. Aku ingin dia dibawa." Rengek putri Liana.


"Buat apa kita bawa dia? Bukankah kamu sudah membuat Redolf terluka juga. Siapa tau dia kabur dan sekarang sedang sekarat dan sudah mati diluar sana. Kamu sudah impas. Malahan tidak sebanding dengan lukamu." Ucap pangeran Fathur murka.


"Kenapa kamu tiba tiba berubah Fathur?" Ratu Alexa menatap pangeran Fathur dengan penuh tanda tanya.


"Aku tidak berubah Alexa. Aku hanya menyesal sudah terlalu jauh menghukum Redolf. Redolflah yang menyelamatkanku disaat aku diserang oleh Selena. Ayo kita segera keluar dari sini." Pangeran Fathur keluar dari tempat peristirahatan pangeran Zein dengan raut wajah sedikit sedih.


"Tunggu! Apa maksudmu diserang oleh Selena? Apa hubungannya Redolf dan Selena?" Teriak ratu Alexa terkejut.


"Kenapa anda begitu terkejut ratu Alexa mendengar nama Selena? Bukankah itu sahabatmu. Tanyakan saja pada dia. Dia tau semuanya." Ucap Fathur lalu melangkahkan kaki dengan cepat.