
"Aya." teriak Fathur sambil menggoncang tubuh Aya dengan kuat namun Aya tetap tidak bergeming.
"Cup.." Sebuah kecupan mendarat dibibir Aya. Ayapun langsung memberontak.
"Plak.." Sebuah tamparan mendarat di pipi Fathur.
"Apa yang kamu lakukan padaku?"
"Aku hanya ingin menyadarkanmu Aya. Kalau aku tahu cara membangunkanmu hanya lewat sebuah kecupan dari kemaren sudah kulakukan." ucap Fathur tersenyum.
"Kamu brengsek, beraninya kamu menciumku setelah apa yang kamu lakukan padaku. Apa kamu sudah puas sekarang melihat diriku menjadi sebatang kara?" Yoena menahan tangisannya.
"Maksudmu." ucap Fathur panik dengan reaksi Aya.
"Oh, sekarang kamu pura pura lupa." ucap Yoena sambil tertawa untuk menutupi kesedihannya.
"Maafkan aku jika kamu marah karena aku membawamu ke istana hingga membuat kamu kehilangan ibumu." ucap pangeran Fathur menebak.
"Akhirnya kamu mengakui juga sudah membunuh ibuku? Kenapa? Apa salah mereka?"
"Aya kamu hanya salah paham. Aku tidak mengatakan seperti itu."
"Kamu sungguh pintar bersandiwara. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri seperti kamu membunuh orang tuaku."
"Brak." Aya menendang meja yang ada disisi ranjangnya.
"Aya, ada apa dengan dirimu." Pangeran Fathur terkejut melihat bola mata Aya bewarna merah.
"Aya, tenanglah." Tanpa menunggu aba aba pangeran Fathur menangkap tubuh Aya dan memeluknya dengan sangat erat. Aya memberontak dengan kuat dan melempar apa yang ada didekatnya.
"Aya, tenang. Aku mohon." pangeran Fathur memeluknya dengan kuat. Setelah Aya tidak memberontak Fathur melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah Aya untuk menatapnya. Dilihatnya bola mata Aya yang sudah tidak bewarna merah lagi dan Ayapun sudah sedikit tenang.
"Aya, tenangkanlah dirimu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan dirimu."
"Hiks, hiks, kamu jahat. Kamu merampas semua yang kusayangi." Aya terduduk lemah dilantai. Pangeran Fathur yang tidak tahu maksud Aya hanya menatap iba kepada gadis malang didepannya.
"Aya, aku Fathur. Tenanglah." pangeran Fathur berlutut agar posisi mereka sama.
"Bagaimana aku percaya kepadamu sedangkan kamu adalah pembunuh ibu dan ayahku."
"Aya, sadarlah." pangeran Fathur mengangkat wajah Aya dan melihat gadis dihadapannya menangis sesugukan sambil mengucapkan hal yang tidak dimengertinya.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan Aya."
"Menjauh dariku." teriak Aya tiba tiba.
"Aya."
"Pergi. Aku benci dengan kalian semua. Hi hi hi." Aya tertawa dengan keras hingga membuat beberapa pengawal yang mendengarnya bergidik ngeri. Sosok iblis yang ada didalam tubuh Aya keluar disaat Aya lemah. Iblis tersebut menginginkan kematian Aya. Aya berdiri lalu menatap kearah jendela. Ia ingin melangkah keluar dari jendela namun ditarik oleh Fathur.
"Aya, tenanglah." bentak pangeran. Pangeran Fathur mendorong tubuh Aya hingga terjatuh ke kasur dan mulai menindihnya. Aya sudah mulai kehilangan kesadarannya. Ia meracau dan meronta ronta tidak jelas dan ingin keluar dari tempat peristirahatannya.
"Cup... " Sebuah ciuman hangat mendarat dibibir Aya sekali lagi. Aya memberontak dengan sangat kuat namun dikarenakan kondisinya yang sudah tidak berdaya lagi dikarenakan belum ada masuk makanan sedikitpun selama dua hari belakangan membuat dirinya kalah dengan kekuatan pangeran Fathur yang sudah menindihnya dengan kuat.
Pangeran Fathur yang melihat Aya tiba tiba diam melancarkan aksinya kembali. Diberikannya sebuah kecupan yang sangat hangat dan dalam secara perlahan lahan agar Aya bisa menikmatinya. Aya memejamkan matanya terhanyut dengan suasana. Hangatnya pelukan dan dalamnya sebuah ciuman yang diberikan oleh pangeran Fathur membuat jiwanya sedikit lebih tenang. Setelah rasanya cukup Fathur melepaskan pagutan bibirnya. Mata merekapun saling bertatapan.
"Cup.." kecupan singkat diberikan Fathur kembali dibibir Aya. ditariknya bibir bawah Aya dengan penuh nafsu lalu dilepaskannya.
"Tenanglah, Aku akan melindungimu selagi kamu berada didekatku."
Aya yang sudah kembali sadar menatap Fathur dengan sayu. Tubuhnya terasa sangat lelah.
"Apa kamu sudah sadar Aya?"
"Maksudmu?"
"Oh, tidak." ucap Fathur berbohong.
"Ayo, makan dulu dibawah."
"Aku tidak nafsu."
"Apa kamu bisa menjauh dari tubuhku?" ucap Aya menyadarkan Fathur yang masih berada diatas tubuh gadis tersebut.
"Oh ya, maaf. Ayo segera turun. Aku akan menunggumu dibawah. Jika tidak aku akan naik keatas dan menciummu kembali." Pangeran Fathur pergi meninggalkan Aya.
Sepeninggalan pangeran fathur Aya memegang bibirnya lalu menggigit bibir bawahnya mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa dia bertanya apa aku sudah sadar?"
Aya berjalan menuju cermin besar dikamarnya lalu membacakan sebuah mantra kemudian dalam sekejap muncullah semua kejadian yang terjadi selama 2 hari belakangan. Dari awal dia pergi berburu sampai sekarang.
"Hiks, hiks, Ada apa dengan diriku? Apa sosok iblis yang ada ditubuhku menagih janji padaku? Apa kematian Yoena dan Elf ada kaitannya dengan perjanjianku dengan iblis terkutuk ini? Kenapa aku melakukan sampai sejauh ini?"
Yoena terduduk di depan cermin lalu melatakkan kepalanya dilutut lalu menangis terisak isak sambil memukul dadanya yang sakit. Pangeran Fathur yang sudah duduk di meja makan masih setia menunggu Aya.
"Kenapa dia belum juga turun?" pangeran Fathur merasa khawatir lalu berlari menuju kamar Aya kembali. Ela dan Macron yang melihat pangeran Fathur merasa aneh.
"Apa yang terjadi dikamar nona Aya?"
"Tidak tau tuan, cuman beberapa saat yang lalu kami semua mendengarkan suara seseorang tertawa sangat keras dari lantai atas. Macron yang merasa khawatirpun langsung menuju kamar Aya.
Pintu Aya yang terbuka membuat suasana didalam kamar bisa langsung terlihat. Macron kembali turun kebawah karena melihat Fathur sedang memeluk Aya yang sedang menangis.
"Aya, tenanglah. Jika kamu seperti ini kamu akan sakit."
"Aku takut." ucap Aya lirih. Dia tidak menyangka sejauh ini dia harus membayar semua kesalahannya. Persekutuan dengan iblis terkutuk untuk menjadi seorang penyihir yang hebat harus dibayar dengan mahal.
"Tenanglah Aya. Kamu bisa melewatinya. Aku akan membantumu. Walaupun aku tidak tahu masalahmu. ucap Fathur menangkup wajah Aya.
"Hiks hiks hiks aku salah, aku yang salah. Aku harusnya tidak melakukannya."
"Sudahlah, yang terjadi biarlah terjadi." Fathur menghapus butiran salju yang jatuh dipipi Aya.
"Ayo kita makan."
"Aku tidak nafsu."
"Bagaimana kamu mau melawan musuhmu, jika kamu lemah." Aya langsung ingat kejadian yang baru saja terjadi. Sosok yang ada didalm tubuhnya mulai ingin mengendalikan dirinya. Ia langsung bangun hingga membuat Fathur terkejut.
"Iya, aku harus makan yang banyak." ucapnya berlari kebawah tanpa menunggu pangeran Fathur yang masih melongo.
"Apa yang terjadi padanya tiba tiba berubah begitu saja." pangeran Fathur menuju ke bawah dan melihat Aya yang sudah makan dengan sangat banyak dan lahap hingga membuat ia tersedak.
"Makan yang pelan." Aya yang mendengar ucapan Fathurpun langsung berhenti makan karena malu. Ia lupa diri siapa dirinya. Seharusnya pangeran Fathur dulu yang makan baru dirinya.
"Tidak apa, lanjutkan saja."
"Terimakasih." Ayapun mulai makan seperti biasanya. Pelayan yang ada didekat mereka merasa heran dengan tingkah pangeran Fathur yang tidak marah sama sekali dengan tingkah Aya.