
Pangeran Zein menoleh kearah Aya sambil tersenyum sinis. Ia melihat raut wajah Aya yang berubah dan terlihat sangat gelisah. "Tinggalkan kami berdua kepala pelayan."
"Baik pangeran." ucap wanita separoh usia tersebut lalu berlalu pergi meninggalkan taman belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Apa kamu dengar ucapan kepala pelayan itu?"
"Dengar pangeran."
"Aku jelaskan kepadamu tentang cara kerja kepadaku. Aku memperkerjai orang berdasarkan keahlian jika ada sesuatu yang tidak sempurna aku akan menghukummu dan juga dia karena sudah gagal mengajarimu. Apa kamu setuju?"
"Iya. aku setuju." ucap Aya lirih karena tidak memiliki pilihan.
"Mengenai kebutuhanmu, semua akan disiapkan seperti pelayan yang lain begitu juga dengan upahmu tiap bulannya. Jika ada yang tidak kamu pahami kamu tanyakan kepada kepala pelayan."
"Baiklah." ucap Aya malas.
"Ucapkan dengan kata baiklah pangeran lalu tundukkan wajahmu. Kamu mulai sekarang bekerja padaku sama dengan pelayan yang lain jadi prilakumu tidak boleh memancing rasa cemburu dan iri hati prajurit dan pelayan yang telah lama mengabdi denganku." bentak pangeran Zein.
"Baiklah pangeran Zein." ucap Aya dongkol sambil menundukkan kepalanya.
"Pelayan.....!" teriak pangeran Zein hingga membuat Aya terkejut dan bertanya akan terjadi apa dengan dirinya.
"Ada apa pangeran?"
"Katakan kepada kepala pelayan. Siapkan wanita ini untuk melakukan tugasnya. Satu jam lagi aku akan pergi makan malam ketempat pangeran Fathur bersama keluarga inti."
"Baiklah pangeran." Pelayan berlalu pergi dan meninggalkan mereka berdua.
"Pergilah aku sudah selesai denganmu dan bersiaplah mulai detik ini kamu akan mulai bekerja."
"Baiklah pangeran." Aya membungkukkan tubuhnya dengan gaya elegan dan sangat berbeda dengan yang lain. Pangeran Zeinpun menyeruput teh hijaunya kembali sambil menikmati pemandangan taman. Acaranya masih sekitar satu jam lagi.
Malam ini langit sedang suram. Bulan dan bintang sedang tidak menampakkan batang hidungnya. Angin yang berhembus lumayan kencang hingga membuat dahan dahan bergoyang dan dedaunan beterbangan di atas udara. Pangeran Zein memejamkan matanya menikmati angim malam yang menyapu kulit tubuhnya.
"Ayah, ibu, Dimanakah kalian berada? Apakah kalian masih hidup? gumam pangeran Zein sambil menahan rasa rindu yang teramat dalam. Hatinya terasa begitu hampa, kosong dan sepi.
Hampir setengah jam pangeran Zein memejamkan matanya sambil bersandar di kursi goyang kesukaannya sambil memikirkan sesuatu. Matanya masih enggan untuk terbuka. Namun disaat dirinya mencium aroma parfum yang sangat lembut dan menenangkan menusuk indra penciumannya. Naluri alaminya langsung spontan membuka mata. Ia melihat dihadapannya kini berdiri seorang gadis yang sangat cantik. Pangeran Zein menatapnya dengan mata sayu.
"Hm, apakah kamu tidak menyukainya. Aku sudah katakan kepada kepala pelayan untuk tidak menggunakan gaun ini? Tapi dia memaksaku." ucap Aya sungkan dan takut pangeran Zein marah.
"Kepala pelayan lebih mengerti darimu. Dengarkan dan turuti saja perintahnya jika kamu tidak ingin menimbulkan masalah. Kamu hanya perlu bekerja sesuai permintaannya." Pangeran Zein bangun dan melangkahkan kakinya.
"Baiklah pangeran. Maafkan saya." Ucap Aya menundukkan kepalanya lalu bersikap seperti perintah kepala pelayan.
"Aku harus menyiapkan segala keperluannya, tidak boleh jauh darinya. aduch aku lupa sebagian. Apalagi ya?" Aya sibuk menghapal semuanya tanpa ia sadari Lexdo dari tadi memperhatikannya dan tersenyum melihat dirinya yang begitu gelisah. Pangeran Zein yang penasaranpun menoleh sekilas kearah Aya lalu mengernyitkan dahinya melihat tingkah Aya.
"Apa sesulit itukah tugas ini menurutmu?"
"Iya ech gak. Jika aku boleh memilih Aku lebih senang disuruh untuk bertarung daripada melakukan ini."
"Heh gitu aja sulit?" ucap pangeran Zein sinis lalu berjalan dengan santai.
Sesampainya ditempat peristirahatan pangeran Fathur, Aya menghentikan langkahnya. Ia merasakan canggung untuk masuk karena semua mata prajurit dan pelayan yang biasanya menatap ramah kini menatapnya seperti ingin membunuh.
"Bugh..." Aya menabrak dada pangeran Zein yang sedang membalikkan badan.
"Maaf pangeran." Aya menatap pangeran Zein dengan sorot mata bimbang.
"Apa kamu merasa takut berhadapan dengan orang yang kamu sayangi makanya kamu menabrakku." ucap pangeran Zein kesal sambil menepuk pakaiannya. Pangeran zein paling tidak suka pakaiannya disentuh orang lain.
"Apa kamu sekarang membentakku."
"Tidak. Mana aku berani. Maafkan saya jika suara saya keras pangeran."
"Ya sudah. Ayo masuk."
Aya melangkahkan kakinya masuk kedalam peristirahatan pangeran Fathur. Pangeran Fathur yang memang sudah tidak sabar bertemu pangeran Zein sudah bersiap dari tadi dan menunggu diruangan tamu yang tidak jauh dari meja makan.
"Prok...prok...prok" Pangeran Fathur memberikan tepuk tangannya yang kuat kepada pangeran Zein dan Aya. Macron yang berada menemani pangeran Fathur hanya menatap Aya dengan iba.
"Selamat malam pangeran Fathur. Terimakasih penyambutannya. Aku jadi terharu. Ucap pangeran Zein sambil meletakkan tubuhnya di sebuah kursi yang tidak jauh dari pangeran Fathur. Aya hanya mengikuti langkah pangeran Zein dan duduk disamping pangeran Zein. Sementara Lexdo berdiri tidak jauh dari Macron.
"Ya sama sama. Aku sengaja menyambut seorang pangeran yang terlahir dari rahim seorang pelacur dan seorang wanita yang terbuang. Kalian adalah pasangan serasi." Pangeran Fathur tertawa terbahak bahak.
"Terimakasih pangeran Fathur atas doanya dan anda juga semoga cepat naik kejenjang pernikahan bersama putri Liana."
"Oh ya tentu saja. Bagaimana dengan kalian?"
"Menurut anda?" tanya pangeran Zein kembali dengan santai.
"Bagaimana menurutmu Aya? Calonmu bertanya padaku?" Pangeran Fathur melemparkan pertanyaannya kepada Aya.
"Hm maksud anda pangeran? Saya tidak mengerti!" ucap Aya sopan kepada pangeran Fathur.
"Yeah, tentang hubungan anda kedepannya bersama pangeran yang terbuang disamping anda ini?"
"Saya tidak tahu pangeran Fathur. Maafkan saya." Aya membungkukkan kepalanya hingga membuat pangeran Fathur menjadi semakin emosi karena melihat Aya terlihat begitu tenang.
"Ha...ha...ha... Dia tidak tahu Macron. Bagaimana mungkin seorang penyihir tidak tahu? Bukankah penyihir bisa saja tahu apa yang terjadi kedepannya? ucap pangeran Fathur ketus dan penuh tekanan.
"Oh, maaf aku lupa. Apakah pangeran Zein sudah tau jika wanita yang duduk disampingnya ini adalah seorang penyihir?" ucap pangeran Fathur lagi dengan berapi api untuk memancing emosi Aya.
Pangeran Zein terkejut mendengar ucapan pangeran Fathur namun dirinya membuat ekspresi setenang mungkin. Sementara Aya membelalakkan matanya seakan tidak percaya dengan ucapan pangeran Fathur.
"Kenapa kamu harus membahas semuanya begitu rinci Fathur? Itu hal yang biasa. Orang yang mengerti sihir belum tentu dia adalah penyihir" pangeran Zein menekan nadanya bicara namun masih duduk dengan tenang.
"Ha... ha... ha... Apa kamu fikir dia mengerti sihir. Dia bisa melakukan lebih dari itu Zein?"Pangeran Fathur menoleh kearah Aya.
Cuaca diluar yang tadi memang sudah mendung dari awal kini menjadi makin gelap mencekam. Angin yang berhembus tiba tiba berubah menjadi kencang sementara dilangit suara petir saling sahut menyahut. menyambar bumi. Macron melihat kearah Aya yang duduk diam namun sorot matanya memancarkan kemarahan.
"Apa kamu marah nona Aya?" Pangeran Fathur membully Aya habis habisan.
"DOOOOAAAAR.... DOOOOOOOAAAAAAR.... " Petir menyambar menghantam pohon yang ada diluar hingga membuat beberapa pohon hangus disambar petir kemudian semua lampu yang ada tiba tiba mati.
Pangeran Fathur dan pangeran Zein terkejut begitu juga kedua pengawal mereka. Mereka berempat spontan menoleh kearah Aya yang masih duduk dengan manis namun manik matanya mengeluarkan cahaya kemerahan.
"Hi...hi...." Aya tertawa renyah namun dari suaranya terdengar bergetar. Pangeran Fathur bangun dari duduknya dan pergi menjauh.
"PELAYAN.... HIDUPKAN LAMPUNYA!" teriak pangeran Fathur menggema diseluruh peristirahatan. Disaat yang bersamaan prajurit yang menjaga pintu depan berteriak " TUAN YANG DIAGUNGKAN RAJA ABRAHAM TELAH TIBA."
Pangeran Zein dan kedua pengawal yang ada menoleh pintu depan sementara pangeran Fathur tidak tahu pergi kemana. Macron berlari kearah Aya dan diikuti oleh Lexdo.
"Aya bangun... Ini aku Macron. Tenanglah." Macron menggoncang tubuh Aya dengan kuat. Aya menepisnya hingga membuat tubuh Macron terjatuh.
Aya pergi berlari melewati jendela dan dikejar oleh Macron. Aya melesat dari satu pohon kepohon yang lain hingga membuat Macron kewalahan. Macron kembali ketempat peristirahatan dengan tubuh lunglai.
Macron melihat lampu sudah kembali normal. Ia menuju meja makan dan berdiri tidak jauh dari sana untuk melakukan tugasnya seperti biasa menemani pangeran Fathur dimanapun berada.