Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Bos Mafia



Setelah mendekati terowongan, “Kak Angga stop dulu!” titah Alisha.


“Mau apa kamu Alisha? Kita buru-buru ini. Temanku sudah menunggu dari tadi,” umpatnya.


“Saya mau maju ke depan kak.”


“Aduh, kamu itu ya. Merepotkan saja, makanya jangan sok berani!”


“Terowongannya ternyata seram kalau malam begini kak.”


“Ya sudah, cepat maju ke depan!” hardik Angga. Alisha pun keluar dari mobil.


Suasana di terowongan yang gelap itu, mengingatkan Angga pada kejadian delapan tahun yang lalu bersama Alisha. Saat itu, Angga adalah pribadi yang sangat penakut.


Jahatnya, Alisha si junior yang sangat dia cintai mengajaknya masuk wahana rumah hantu. Karena terlalu penakut, Angga menangis saat bertemu hantu bohongan di wahana itu. Menyebabkan orang-orang tertawa melihatnya. Lebih sialnya lagi, hanya Angga saja lah lelaki yang menangis.


Saking takutnya, Angga juga muntah-muntah setelah keluar. Membuatnya tidak hanya ditertawakan, tapi juga dipandang jijik oleh orang-orang di sekitar wahana rumah hantu itu.


Mengingat itu semua, rasa dendam di hati Angga seakan dipupuk kembali. Tanpa pikir panjang, dia langsung melajukan mobilnya. Membiarkan Alisha sendirian di terowongan yang sangat gelap itu.


“Kak Angga, tunggu! Saya belum masuk kak,” teriak Alisha. Tinggallah Alisha ketakutan seorang diri di terowongan minim cahaya itu.


Setelah beberapa menit berlalu, Angga baru kembali ke terowongan. Dia mendapati Alisha sedang meringkuk. Air mata berhamburan di wajahnya.


Di lubuk hati Angga yang terdalam, dia sebenarnya kasihan pada Alisha. Tapi rasa dendamnya jauh lebih besar dibanding rasa iba itu. Rasakan kamu Alisha, siapa suruh dulu kamu jahat sekali ke saya.


“Kak Angga, kenapa tinggalkan saya?” tanya Alisha yang tengah sesenggukan.


“Maaf saya lupa,” jawabnya datar. Tak ada raut kesedihan di wajahnya itu.


“Kak Angga sengaja kan? Masa’ bisa lupa.”


“Tidak, saya benar-benar lupa. Ayo cepat masuk! Atau kamu masih betah di sini?”


Alisha menggeleng, dia yang sudah sangat ketakutan bergegas masuk ke mobil. Dengan cekatan Angga memberinya tisu. Nangis saja terus Alisha! Semakin kamu menangis, semakin aku bahagia sayang.


Alisha sudah agak lama berada di dalam mobil bersama Angga, tapi dia masih saja terisak hebat tanpa henti.


“Jangan menangis terus! Make up-mu bisa luntur nanti. Teman-temanku pasti akan bilang istriku jelek,” ujar Angga lembut. Berbanding terbalik dengan kata-kata yang yang bersemayam di kalbunya.


Perlahan, tangis Alisha mulai reda. Mereka juga sudah tiba di markas milik Angga. Alisha segera memperbaiki penampilannya yang amat berantakan sebelum masuk.


Saat baru saja masuk, mereka berdua disambut oleh anak buah Angga. Alisha memperhatikan dengan seksama suasana di tempat itu.


Ternyata begini penampilan mereka kalau di acara informal. Badannya dipenuhi tato yang menyeramkan.


Bos dari rombongan itu memulai pembicaraan. “Sorry for not coming to your marriage this morning brother.”


“It is okay bro. Don’t worry about that. Anyway, this is Alisha, my wife.”


“Hi Alisha, I am Mateo.”


“Alisha.” Alisha menundukkan kepalanya sebagai pengganti dari berjabat tangan.


“You are so lucky brother. Your wife is so beautiful.”


“Are you sure?” tanya Angga yang berhasil membuat Alisha memanyunkan bibirnya karena kecantikannya diragukan oleh suami sendiri.


“Yeah, sure.”


“Thanks for your compliment. Nice to hear that.”


“Don’t mention it.”


“Well guys, let’s drink together.”


Alisha bak patung di situ. Angga yang menyadari kejenuhan Alisha, meminta Murad untuk membawa Alisha ke ruangan tempat para istri dan pacar dari mafia lain sedang berkumpul.


“Ayo masuk kakak istri bos.” Begitulah para perempuan yang ada di situ menamainya.


Alisha merasa sangat senang mengetahui


ternyata ada perempuan lain juga di situ. Walau penampilannya berbeda, dia tetap bergabung dengan perempuan-perempuan super sexy itu. “Panggil saja saya Alisha.”


“Okay kak. Mari minum kak Alisha,” ucap Nila. Pacar bang Murad.


“Terima kasih sebelumnya, tapi saya tidak minum alkohol.”


Alisha terus berbincang-bincang dengan para perempuan setengah mabuk itu. “Kalau boleh tau, kak Angga bos apa sih?” tanyanya penasaran.


“Bos mafia,” balas Nila.


Hah? Pantas saja penampilan mereka seperti berandalan. Minumnya juga alkohol. Ternyata memang mafia.


“Terus, ini tempat apa?”


“Markas.”