
Tangan kiri Angga terus memegangi dada nya yang tak henti mengeluarkan darah. Ia pun membaringkan kepala di pangkuan Alisha.
Hembusan nafas nya kini tak beraturan. Membuat Alisha meneteskan bulir-bulir kesedihan karenanya. Air mata pilu Alisha tumpah ruah, membasahi wajah Angga yang kian pucat.
Tatapan Angga semakin tak berbinar, hanya ada sendu juga pantulan wajah Alisha di dalam manik mata nya itu.
Jemari nya yang mulai gemetar, perlahan menyentuh pipi mulus Alisha. Membelai wajah istri tercinta nya itu dengan lembut. Sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selama-lamanya.
“Kak, kak Angga. Bangun kak,” ucap Alisha seraya mengguncang tubuh Angga.
Namun suami nya yang amat ia benci itu tetap membisu. Membuat debaran di hati nya kian melonjak. Bahkan jantung nya serasa memompa dengan begitu cepat.
“Kakak pasti bercanda kan? Aku tahu kakak kuat,” ucap Alisha lalu beralih membuka mata Angga yang tertutup.
“Kak Angga. Kumohon jangan bercanda kak. Aku takut,” ucap nya lagi dengan diiringi tangis yang menggema.
Sayangnya, berapa kali pun ia memohon, Angga tetap mematung. Ia kini mencoba trik lain.
“Kakak pasti bercanda kan,” ujar nya seraya menggelitik tubuh Angga.
Tangis Alisha pun makin pecah. Mengetahui lelaki di pangkuan nya itu benar-benar telah pergi untuk selamanya.
Tepat pada 17 Juli 2022, lelaki yang bernama Angga itu menghembuskan nafas terakhirnya. Ia pergi sebagai sesosok pahlawan bagi Alisha. Ia rela terbunuh, demi melindungi nya.
Kini, tak akan ada lagi lelaki yang bisa mengekang nya sesuka hati. Karena lelaki itu kini telah berpindah dunia. Menyusul Anabel di akhirat sana.
Sementara tak jauh dari tempat persembunyian rahasia Devan itu, tampak Miland yang melangkah semakin mendekat ke gedung itu.
Terlihat Miland tengah berjalan dengan langkah pelan. Pandangan nya terus tertuju pada layar ponsel milik nya. Dimana layar itu menunjukkan titik merah.
Beruntung, ruang penyekapan itu tembus pandang. Menyebabkan Miland sedikit mudah melihat mereka berdua di dalam.
Miland pun bergegas membuka pintu ruangan kaca itu. Sialnya, pintu itu tertutup rapat. Tiba-tiba saja, muncul sederet angka di pintu itu.
1 2 4 7 11 ...
“Benar-benar psikopat kamu Devan,” umpat nya kala melihat angka-angka itu.
Mau tak mau, Miland pun mempelajari pola itu. “1 + 1, 2. 2 + 2, 4. 4 + 3, 7. 7 + 4, 11. Berarti ditambah 1, 2, 3, 4. Yang terakhir ini pasti ditambah 5. Means 11 + 5 \= 16.”
Tanpa berlama-lama, Miland langsung menekan angka 1 dan 6. Pintu pun terbuka.
Sialnya lagi, ternyata masih ada pintu lagi setelah pintu pertama itu terbuka. Seperti sebelumnya, di depan pintu itu terdapat angka-angka lagi.
“Astaghfirullah, apa lagi ini? Manusia macam apa Devan itu?” seru Miland sembari menendang dengan keras pintu itu.
66 x 672 : 42 ...
“Ribet sekali.”
Usai berkata seperti itu, Miland langsung membuka fitur kalkulator di gawai nya. Ia dengan cekatan membagi angka yang ada, kemudian mengalikannya.
“672 : 42 \= 16. 16 x 66 \= 1056,” tutur nya lalu menekan empat angka itu.
Akhirnya, pintu itu terbuka. Miland yang tadinya menggebu-gebu ingin menyelamatkan Angga dan Alisha, kini membelalakkan mata nya. Betapa hancur hati nya melihat lelaki yang telah ia anggap saudara sendiri, sudah tidak bernyawa lagi.
“Awas saja kau Devan. Akan kubalas lebih sadis lagi perbuatanmu ini. Dasar polisi biadab.”