Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Ternyata Alisha Tahu



Mereka singgah di mansion Anabel terlebih dulu. Mengambil barang-barang Anabel untuk dipindahkan ke rumah Angga.


Setibanya di rumah, Angga menyuruh satpam untuk mengangkut barang-barang Anabel ke dalam rumah.


Alisha memperhatikan pak satpam bolak-balik. “Angkat apa sih pak?” tanyanya penasaran.


“Barang-barang nyonya Anabel, nyonya.”


Perasaan Alisha jadi tidak karuan. Kenapa kak Anabel bawa semua barangnya ke sini ya? Jangan-jangan, dia mau tinggal lagi di sini. Kenapa jadi tambah rumit begini sih? Kalau benar, akan ada dua orang menyebalkan di rumah ini. Hufttt.


Alisha segera mendatangi Angga di kamar. Di kamar itu, dia mendapati Angga sedang mengelus-elus perut Anabel. Persis seperti yang Angga lakukan padanya kemarin.


“Mau apa kamu ke sini? Mengganggu keharmonisan kak Angga dan anakku saja.”


“Anak? Maksud kakak, kakak hamil anak kak Angga?”


“Iya, bukan cuma kamu yang hamil anak kak Angga. Aku juga,” balas Anabel seraya memperlihatkan perutnya yang sedikit membuncit.


“Dihamili suami orang bukan prestasi yang patut dibanggakan kak. Seharusnya kakak malu, tidak punya suami tapi bisa hamil. Semoga saja informasi ini tidak menyebar ya, karier kakak pasti akan redup kalau tercium publik.”


“Jaga bicaramu Alisha, aku lebih senior di sini.”


“Kakak yang seharusnya jaga bicara. Ini rumah suamiku, kakak hanya tamu di sini. Jadi tolong, tahu diri lah sedikit. Jangan mengambil hak pemilik rumah seenaknya.”


“Mulai hari ini dan seterusnya, aku adalah tamu permanen di sini. Aku bisa tinggal di sini karena izin dari suamimu. Oh ya, masih ada satu lagi. Seharusnya kamu yang tahu diri. Statusmu memang sebagai istrinya kak Angga. Tapi dia tidak mencintai kamu, karena cintanya cuma buat aku.”


“Aku tidak akan hamil anak ini, kalau kak Angga tidak memiliki perasaan ke aku.”


“Kamu terlalu PD Alisha, dia menghamili kamu bukan karena cinta, tapi karena nafsu.”


“Aku jauh lebih cantik dari kamu. Kak Angga pasti lebih tertarik ke aku lah daripada ke kamu.”


“Oh ya? Aku mau kamu Alisha. Sangat ingin kamu sayang. Bibirmu manis sekali Alisha, aku sangat menyukainya. Punya Alisha jauh lebih cantik dari punya Anabel.”


Alisha meniru dengan baik, semua yang dikatakan Angga saat akan mencumbuinya hari itu. Semua kata dia gunakan sebagai senjata, untuk menjatuhkan Angga di depan Anabel.


Angga jadi panas dingin karena kebenaran yang keluar dari mulut istrinya itu. Alisha tersenyum licik, lalu melenggang keluar kamar.


“Apa maksud Alisha kak? Kamu mengucapkan itu semua kan waktu menidurinya?” tanya Alisha kesal.


“Aku tidak ingat sayang. Aku sedang mabuk waktu melakukan itu dengan dia.”


“Walaupun mabuk, kamu tetap tidak boleh bilang punya Alisha lebih cantik dari punyaku.”


“Iya, tidak lagi sayang.” Aku baru ingat. Waktu itu Alisha pura-pura mabuk. Itu berarti dia tahu seberapa nafsunya aku ke dia selama ini. Taruh dimana mukaku ini?


Angga dan Anabel seharian di kamar, seperti pengantin baru yang tak ingin lepas dari pasangannya. Di malam hari, suara lenguhan terdengar lagi dari kamar mereka.


Alisha eneg mendengarnya. Alisha terpaksa ke kamar yang jauh dari kamar itu. “Mau apa malam-malam ke sini nyonya?” tanya mbok Murni.


“Aku mau tidur sama mbok.”


“Di kamar tamu kan lebih nyaman daripada di sini nyonya.”


“Di sini lebih nyaman mbok. Suara kak Angga dan kak Anabel tidak kedengaran di sini.”