Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Demi Susu Sebelanga



“Saya sudah ada di bandara. Bos dimana? Saya tidak lihat bos di sini,” ucap Murad di seberang sana.


“Saya dan Alisha masih di rumah. Tunggu sebentar, kami segera ke situ.”


“Baik, saya tunggu bos.”


Angga mengakhiri panggilan dari Murad. “Cepat sedikit Alisha!”


Alisha mempercepat pergerakannya. Dia juga buru-buru berpakaian lengkap. Beberapa menit berlalu. Akhirnya, dia selesai juga.


Angga kembali mendekatinya. Alisha yang ketakutan, refleks menutup matanya. Dia tidak sanggup menyaksikan kekejaman yang akan Angga berikan lagi.


“Rambutmu kelihatan. Lain kali pakai dalaman ya, supaya rambut indahmu ini tidak kelihatan. Rambut ini aurat kan?” tanya Angga sembari memasukkan rambut Alisha ke dalam hijab.


“Iya kak,” jawab Alisha takut-takut.


Alisha mengambil koper setelahnya. “Biar saya yang bawa,” cegah Angga.


Mereka berdua keluar dari rumah, menuju ke bandara. Bertemu dengan Murad, lalu ke Jepang bersama-sama.


Sepertiga hari mereka lalui di pesawat. Hingga akhirnya, tiba jua lah mereka di Jepang. Ini pertama kalinya Alisha menginjakkan kaki, di negara yang terletak di ujung barat Samudra Pasifik itu.


Salju yang turun tipis-tipis seolah menyambut kedatangan mereka. Di dalam mobil, Angga memasangkan jaket tebal ke Alisha. Dia juga menggenggam tangan Alisha saat memasuki hotel yang dekat dari kuil.


Di dalam hotel, Alisha menyaksikan pemandangan di luar. “Cantiknya,” ujar Alisha saat melihat kuil, taman, juga bunga di sekitaran yang diselimuti salju.


“Temani Alisha jalan-jalan keluar!” suruh Angga pada Murad.


“Bos tidak ikut?”


“Tidak, nanti di lain waktu. Saya mau ke markas Yakuza dulu.”


“Baik, bos.”


Alisha kini menyusuri kuil yang bersalju itu dengan ditemani Murad. Setelah puas melihat-lihat, mereka kembali ke hotel.


“Coba lihat pistol ini!” Angga mengeluarkan pistol yang diambilnya di ruang rahasia jenderal Dhafa Abraham. “Ini keluaran tahun berapa?” lanjutnya.


Yakuza mengambil pistol itu. Lalu memperhatikannya baik-baik.


“Dari bentuknya, kemungkinan ini keluaran tahun 2000. Dari bahannya, ini pasti diproduksi di Italia. Apa yang istimewa dari pistol ini? Sampai kamu datang ke sini untuk menanyakannya.”


“Ini pistol yang dipakai si pembunuh kakekku. Aku ke sini bukan untuk menanyakan ini saja. Misi utamaku yang sebenarnya adalah mencari seorang penyusup. Gara-gara dia, markasku jadi ketahuan polisi.”


“Coba perlihatkan fotonya! Barangkali anak buahku ada yang mengenalinya.”


Angga mengeluarkan foto Nila. Yakuza tertawa kecil. “Pelakunya ternyata perempuan ya. Berani sekali dia. Bagaimana caranya perempuan ini tahu letak markasmu?”


“Dia ikut berpesta, saat kami menyambut Matteo datang.”


“Perempuan ini pasti pacar dari anggota kelompokmu kan?”


“Kenapa kamu bisa tahu?” selidik Angga.


“Kasus yang sama pernah menimpa kelompokku. Sejak saat itu, saya tidak memperbolehkan anggota lagi untuk membawa pasangannya ke markas. Bahkan menyuruh mereka untuk merahasiakan identitasnya yang merupakan seorang mafia.”


“Idemu bagus sekali. Ini akan kuterapkan ke anggotaku juga. Terima kasih untuk ilmu barunya. Aku pergi dulu ya.”


“Kemana?”


“Hokkaido, untuk membunuh perempuan itu.”


“Okay, hati-hati di jalan.”


Di tengah perjalanan, Angga tiba-tiba merasa kasihan pada Nila. Hatinya kini mulai goyah untuk membunuh yang kedua kalinya.


Aku tidak tega membunuhnya, apalagi dia seorang perempuan. Tapi dia telah tega mengkhianati kami. Jika saja hari itu aku tidak bertindak cepat, Murad dan yang lain pasti sudah dihukum mati karena tertangkap polisi. Aku harus membunuh Nila demi keselamatan anggota.