
Alisha bergegas ke kamar mandi. Dia harus mandi junub dulu sebelum shalat subuh. Di bawah guyuran air, dia menangis sejadi-jadinya.
Statusnya memang sebagai istri Angga. Tapi dia bukanlah perempuan yang diinginkan Angga dengan setulus hati, melainkan Anabel.
Pernikahannya dengan Angga tidak hanya sebatas di atas kertas. Bahkan lebih menyakitkan dari itu. Selain tidak dicintai, dia juga harus siap menerima perlakuan kasar Angga yang sewaktu-waktu.
Banyaknya bekas kepemilikan yang ditinggalkan Angga di sekujur tubuhnya, semakin menambah luka di hatinya. Sebersih apa pun dia mandi, dia tetap merasa dirinyalah perempuan yang paling kotor di dunia ini.
Alisha menangis keras, dia benar-benar benci pada dirinya sendiri. Tangisannya itu terdengar oleh Angga yang duduk santai di luar.
Bahagia sekaligus sedih menghiasi perasaan Angga secara bersamaan. Hati nuraninya berkata, perbuatannya ke Alisha itu tidaklah benar. Tapi dendamnya berkata, Alisha memang pantas mendapatkan itu.
Usai mandi, Alisha keluar dengan tatapan kosong. Jika orang lain merasa fresh setelah mandi, itu tidak berlaku bagi Alisha. Dia malah tampak lebih nelangsa seusai mandi.
Rambutnya yang tadinya basah, sudah kering. Dia mengambil mukena dan melaksanakan shalat subuh, yang sebenarnya sudah terbilang agak lambat dia lakukan.
Dia menangis sejadi-jadinya dalam shalatnya. Tidak peduli lagi ada Angga yang melihatnya. Semua kesedihannya dia adukan kepada Sang Pemilik Alam.
Bahkan setelah shalat, Alisha masih menangis hingga pagi hari. Dia sungguh tidak sudi dinodai oleh Angga, yang sebenarnya suaminya.
Hanya saja sikap kasar Angga padanya selama ini, telah menanamkan paradigma buruk di benaknya. Dari awal dia sudah menganggap Angga bukanlah suaminya, melainkan penjahat yang siap menyiksanya kapan saja.
Hal yang paling membuat Alisha tak sudi disentuh Angga, lelaki itu tidak mencintainya. Angga bahkan seringkali berhubungan intim dengan Anabel saat ada di sekitarnya.
Perempuan mana sih yang sudi ditiduri oleh lelaki tukang celup ke wanita lain selain istrinya, seperti Angga? Perempuan mana yang sanggup memiliki benih dari musuhnya sendiri?
Perempuan mana yang bisa begitu sabar meladeni lelaki yang jelas-jelas tidak memiliki rasa cinta untuknya?
Angga menyodorkan tisu ke Alisha, bak pelaku
yang meminta korbannya untuk bersabar. Alisha mengambil tisu itu, tapi dengan sangat marah dia melemparnya.
Alisha sudah tidak sudi menerima kebaikan Angga lagi. Dia masih mau berada di sisi Angga, hanya karena tak ingin lelaki kejam itu bertindak jahat pada keluarganya lagi.
Tadi malam saja, dia dengan begitu mudahnya menabrak ayah Alisha. Dan beberapa jam setelahnya, dia mendatangi mertuanya itu tanpa rasa bersalah sama sekali.
Menyampaikan belasungkawa dan juga memberi doa supaya pak Radit segera pulih. Padahal dia sendiri lah yang menabraknya.
Angga keluar dari kost. Dia mencari jajanan untuk sarapan. Setelah membeli beberapa jenis jajanan itu, dia kembali.
Dia masuk dan mendekati Alisha. “Mau apa lagi kak?” tanya Alisha ketakutan. Air mata masih mengalir di pipinya.
“Makan dulu, kamu pasti lapar kan?” tanya Angga dengan intonasi lembut.
Alisha menggeleng, dia yang sudah sangat ketakutan justru menjauh dari Angga. Tak tinggal diam, Angga menyendok makanan lalu mengarahkannya ke Alisha.
“Saya tidak lapar,” ujar Alisha yang enggan disuapi.
“Makan sebelum batas kesabaranku habis!” gertaknya. Mengakibatkan Alisha semakin sesenggukan.
Angga menjauh, dia mengambil barang-barang milik Alisha untuk dimasukkan ke dalam mobil. Sudah selesai, dia menyuruh Alisha untuk mengembalikan kunci kamar.
Alisha menghapus air matanya. Dengan tertatih, dia berjalan ke kamar ibu kost. Mengembalikan kunci kamar yang baru sebentar dia tempati.
“Ada masalah apa nak? Baru sehari kamu di kamar itu, sudah mau pindah saja.”
“Tidak ada masalah bu. Kamarnya nyaman, hanya saja suami saya ternyata tidak mengizinkan untuk ngekost.”
“Syukurlah kalau begitu, saya kira kamarnya kurang bagus. Kalau begitu tunggu sebentar yah nak. Saya ambilkan dulu uang yang kemarin.
“Tidak usah dikembalikan bu. Saya juga harus cepat ke mobil, suami saya sudah menunggu dari tadi.”
“Terima kasih banyak kalau begitu. Hati-hati di jalan yah nak!”
“Iya bu.”