Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Napi



“Data-data pembunuh yang dibebaskan tanpa syarat tidak terkunci lagi. Ada yang sudah meretas laptop ini dari jarak jauh,” ungkap rekan kerja Devan.


“Gawat, jabatan ayahku bisa dicabut kalau sampai dia ketahuan terlibat dalam pembebasan itu. Aku harus bagaimana Roy?”


“Kita harus cari tahu pelakunya, Van. Sebelum dia membocorkan data-data itu ke publik. Kita butuh orang yang handal IT.”


“Kalau tidak salah, napi di ruangan delapan belas itu ditangkap karena membobol akun bupati. Kita bisa memanfaatkan keahliannya. Tunggu sebentar, aku ke selnya dulu.”


Devan beranjak dari duduknya. Ia berjalan dengan cepat ke kamar berdinding jeruji milik si napi hacker.


Ia kemudian membuka gembok sel yang tak layak huni itu. “Kamu, ikut saya!” perintahnya dengan tegas.


Sang napi pun keluar, ia kini berjalan di belakang polisi yang amat mencintai Alisha itu. Tak lama berjalan, mereka tiba di ruangan interogasi.


“Kamu yang baru-baru ini ditangkap karena membeberkan chat mesum pak bupati dengan artis itu kan?” tanya Roy pada sang napi yang kini duduk di hadapannya.


“Iya pak,” jawab tahanan yang masih berstatus mahasiswa di salah satu kampus ternama di daerah itu.


“Tepat sekali, kami butuh bantuanmu. Kalau kamu berhasil menyelesaikan misi ini, kami akan mengajukan ke hakim supaya masa tahananmu dikurangi karena sudah bersikap sopan selama di penjara.”


“Nice agreement. Apa yang bisa kubantu?”


Roy menunjuk layar laptopnya dengan cepat.


“Tolong kamu temukan orang yang sudah membobol data-data ini.”


“Siap.” Tanpa berlama-lama, sang napi langsung mengoperasikan laptop di hadapannya.


“Bagaimana, apa sudah ketemu?” tanya Devan beberapa menit setelahnya.


“Namanya tidak terdeteksi. Tapi bapak tenang saja, aku bisa melacak tempat si pelaku terakhir kali terhubung ke internet.”


“Baguslah kalau begitu, cepat lakukan!”


Beberapa menit kemudian. “Here we go. Tempat si pengakses login terletak di daerah Urung. Lebih tepatnya di sekitaran jalan Brown Rabbit.”


“Kalau kamu benar, kamu akan dikeluarkan dari sini secepatnya,” lanjutnya sebelum meninggalkan sel baru milik napi itu.


“Aku sudah mengerahkan beberapa anggota untuk menelusuri tempat yang ditunjukkan anak tadi. Sekarang tinggal tunggu mereka kasih kabar lebih lanjut,” ucap Roy pada Devan yang baru saja kembali dari sel.


Mereka berdua kini duduk bersama di ruang yang minim cahaya itu. Devan


menggoyang-goyangkan kaki. Sementara Roy, ia menggigiti ujung jari telunjuknya saat menunggu kabar dari rekannya yang tengah beroperasi di gang Brown Rabbit.


Sejam setelah kepergian beberapa polisi ke daerah Urung, gawai Devan pun berbunyi. Tiada yang salah, hanya aku manusia bodoh. Yang biarkan semua ....


Jempol kanannya yang bergeser ke atas pun mengakhiri lirik NSP itu. “Apa ada orang yang mencurigakan di sana?” tanyanya amat penasaran.


“Ada, Van. Di sini ada gudang besar, yang kata warga gudang ini sangat jarang terbuka. Warga di sini bahkan tidak tahu pemiliknya siapa.”


Devan berdecak dalam hati. Itu kan tempat kami kehilangan jejak anggota mafia. Ini pasti ada kaitannya lagi.


“Tetap di situ, kerahkan yang lain untuk kepung gudangnya sekarang juga. Aku dan Roy segera ke situ.” Devan memutuskan panggilan telepon itu dan langsung menuju ke TKP.


Dalam hitungan menit, ia dan Roy tiba di gudang besar yang berada di jalan Brown Rabbit. Ia menggebrak gudang itu, sedikit keras. Namun Miland yang berada di dalam tidak merespon.


Devan yang mulai tersulut emosi pun berteriak. “Siapa pun yang ada di dalam, keluar sekarang juga. Jika tidak, gudang ini akan kami ledakkan.”


Mendengar ancaman itu, Miland terpaksa keluar. “Ada apa ini?” tanyanya dengan menunjukkan ekspresi seolah tak tahu apa-apa.


“Anda dicurigai melakukan pembobolan data. Ikut kami ke kantor polisi sekarang,” balas Roy.


Mau tidak mau, Miland harus kooperatif. Selang beberapa menit, mereka kini tiba di kantor polisi.


Miland digiring ke ruang interogasi dan dihujani


banyak pertanyaan di sana. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan Devan dan Roy, Miland ditetapkan bersalah. Ia dijatuhi hukuman penjara selama beberapa bulan karenanya.