
Miland menarik nafas, dalam sekali. Kemudian menghembuskan nya perlahan. Detak jantung nya kini berdegup dengan normal lagi.
Tangan nya kembali meraih gawai yang terjatuh dengan refleks tadi. Jemari nya langsung membuka kontak dan mengetikkan nama Murad.
“Arahkan semua anggota ke rumah Angga. Kita akan memakamkan nya hari ini.” Tanpa sadar, air mata Miland membasahi pipi saat memberikan informasi duka itu.
Dengan tangis yang tertahan, ia memboyong tubuh Angga yang sudah kaku ke mobil. Bergegas melajukan kendaraan pribadi nya itu ke rumah Angga.
Tangisan Alisha, Murad, dan yang lain pun menghiasi pemakaman pilu itu. Miland sesekali menepuk bahu Murad demi memberikan kekuatan.
Ingin rasa nya ia melakukan hal yang sama pada Alisha, yang juga amat terpukul. Apalah daya, Alisha seorang perempuan yang tak boleh sembarangan ia sentuh.
Sejak kepergian Angga dari muka bumi, Miland jadi lebih aktif memegangi gawai nya. Melacak keberadaan Devan dengan melihat lokasi akses internet nya, setiap saat.
Tentunya untuk memastikan kapan kiranya ia bisa melakukan pembalasan pada polisi biadab itu.
Hingga tibalah hari yang dinanti-nantikan oleh nya. Hari dimana Devan terlihat sedang berada jauh dari keramaian.
“Arahkan semua anggota ke Gunung Kemiri sekarang juga! Kita eksekusi Devan di sana.” Begitulah bunyi chat yang ia kirimkan pada Murad.
Gawai yang bergetar, membuat Murad segera memeriksa nya. Ia pun membalas chat yang masuk itu dengan cepat. “Siap!”
Usai itu, Murad langsung mengerahkan pasukan nya ke spot yang Miland perintahkan. Sesampainya di sana, ia meminta mereka untuk berpencar.
Baru saja akan membuang barang bukti pembunuhan nya, Devan tiba-tiba dikagetkan oleh sebuah suara dari arah belakang.
“Angkat tangan mu sebelum senjata ku ini membidik kepala mu itu.” Murad berkata sembari memegangi pelatuk senapan nya.
Tanpa aba-aba, Devan bergegas menggulingkan tubuh dari atas gunung yang tidak begitu curam itu. Setibanya di kaki gunug, ia berlari sekencang-kencang nya guna menghindari rombongan bertopeng tadi.
Segera, Miland menuruni gunung usai memberikan tembakan melumpuhkan pada Devan. Ia pun menyeret paksa tubuh abdi negara itu ke markas yang telah ia persiapkan selama sepekan ini.
Devan kini duduk di bangku yang berada di salah satu ruangan. Tangan dan kaki nya terikat dengan erat. Ia berteriak sekencang mungkin. Namun percuma, lantaran ruangan penyekapan itu kedap suara.
Miland yang memakai topeng, meminta
Devan mengakui kesalahan nya. Di tangan nya juga sudah ada ponsel untuk mengabadikan pengakuan Devan tersebut.
“Cihhh, berani-beraninya kamu menyuruh ku. Kamu pikir kamu siapa? Hah!”
Tak menggubris ocehan Devan, Miland langsung memberikan komando baru pada Murad. “Tembak tangan nya sekarang.”
Dorrr. Satu tembakan berhasil membuat tangan Devan berdarah. “Sialan kamu!” umpat lelaki yang telah tertembak itu.
“Akui sekarang, atau tangan kanan mu juga ku tembak.” Murad kembali mengarahkan pistol nya ke arah Devan.
Tak ingin terluka lebih parah, Devan terpaksa mengikuti arahan Murad. Ia mengakui tindakan nya yang telah membunuh Angga di ruang rahasia milik nya.
Barulah Miland mau melepaskan ikatan tangan pembunuh karib nya itu. Setelah melakukan itu, ia langsung membawa pistol yang hampir dibuang Devan tadi, ke salah satu dokter forensik.
Fakta pun tak dapat dipungkiri. Memang terdapat bekas darah Angga juga sidik jari Devan di pistol itu. Tanpa berlama-lama, Miland kembali ke markas dengan membawa bukti nyata dari dokter forensik itu.
“Yang sudah menikah, panggil istri kalian untuk ke sini sekarang!”
Tak butuh waktu lama untuk itu. Sekarang sudah ada tujuh perempuan di tempat itu. Miland kembali memberikan perintah.
“Sekarang kalian ke stasiun TV. Berpura-puralah jadi cleaning service. Terus masukkan obat tidur ke minuman para crew yang bertugas malam ini.”