
Alisha merasa gerah, saking gerahnya dia sampai gagal fokus, kalau cairan yang ada di gelas itu sebenarnya bukan air minum, melainkan alkohol yang belum diminum.
Sialnya, Alisha langsung meneguknya. Dia yang baru pertama kali minum alkohol, langsung terhuyung-huyung dan jatuh ke lantai.
Murad segera mengangkat Alisha, membawanya ke ruangan khusus milik Angga. Alisha kini berbaring di ruangan milik suaminya itu.
Angga yang sudah selesai menelepon, bergegas mendekati Anabel. Pawangnya kini ada di depannya. Dia yang sedari tadi menahan gejolak asmara karena melihat Alisha yang polos, langsung mengajak Anabel ke ruangannya untuk berbuat.
“Kenapa Alisha bisa ada di sini?” tanya Angga keheranan.
“Dia mabuk yang. Dia minum segelas alkohol tadi, mungkin dikira air putih.”
“Dia memang seceroboh itu.”
“Haruskah kita melakukannya di ruangan lain?”
“Tidak usah, di sini saja! Dia pasti mabuk berat, tidak akan bisa memperhatikan apa yang kita lakukan.”
Tanpa Angga tahu, Alisha sebenarnya sudah mulai sadar. Hanya saja kepalanya masih begitu berat. Suami sialan, kusumpahi kamu terkena HIV.
Angga dan Alisha saling melepaskan penutup tubuh mereka. Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua yang sudah sangat berpengalaman dalam hal itu.
Keduanya sudah polos sekarang. Angga langsung menikmati tubuh Anabel. Hingga permainan keduanya jadi semakin panas.
Erangan dari keduanya sungguh menyebabkan telinga Alisha kepanasan. Ingin sekali rasanya Alisha berkata kasar. Benar-benar tidak bermoral mereka berdua. Bisa-bisanya mereka berbuat seperti itu di dekatku.
Saking kesalnya, Alisha mengambil gawai. Dia mengabadikan momen mesum suaminya dengan model papan atas yang angkuh itu.
Angga dan Anabel yang tengah di ambang kenikmatan tidak memperhatikan pergerakan Alisha. Jadi Alisha dengan mudah merekam mereka berdua.
Aku tidak akan begini kalau bukan karena kalian yang memulai duluan. Kalian berdua sudah seenaknya mengkhianatiku. Jadi jangan salahkan aku jika suatu saat nanti, aku juga sangat mudah menyebarkan video mesum kalian di sosmed.
Alisha tak menduga, Angga dan Anabel melakukan kegiatan panas itu sangat lama dan berkali-kali. Gila kali dua orang ini ba.
Alisha menyimpan kembali gawainya. Dia terus berpura-pura mabuk. Hingga Angga dan Alisha pun menghentikan kegiatan bereproduksinya. Akhirnya mereka selesai juga, dari tadi kek.
“Mau kemana sayang?” tanya Angga pada Anabel.
“Mau mandi.”
“Sekalian panggilkan Murad ya sayang, bilang kalau aku mau bicara.”
“Siap yang.”
Anabel lalu mencari keberadaan Murad. Waktu ketemu, “Kakak dipanggil kak Angga, katanya ada yang dibicarakan sama kakak.”
Murad beranjak dari duduknya, ke ruangan bosnya itu. Setibanya Murad di ruangan khusus itu, Angga mulai bicara. “Ada laporan, katanya kamu berhasil membunuh polisi tidak berguna itu.”
Alisha menjadi gemetar mendengar percakapan itu. Dia pikir Angga hanya pria brengsek yang suka main perempuan. Ternyata Angga juga tidak segan membunuh orang.
Salah apa aku? Kenapa nasibku sesial ini? Kalau aku macam-macam lagi ke Angga, dia bisa saja melenyapkan aku seperti polisi itu.
“Kenapa tidak cerita dari tadi?”
“Bagaimana mau cerita, bos kan sibuk dengan Anabel.”
“Iya juga ya.” Angga menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Kerja bagus Murad. Tidak salah aku memilih kamu menjadi anggota. Kamu selalu berhasil menyelesaikan misi yang kuberi.” Murad dan dia terus berbincang-bincang.
“Sayang.” Anabel yang sudah selesai mandi kembali mendekati Angga.
“Murad kamu boleh keluar sekarang.”
“Baik bos.”
“Mau apa sayang? Tas, sepatu, atau mobil?” tanya Angga yang tahu betul sifat Anabel saat manja begitu.
“No one of them.”
“Terus, kamu mau apa sayang?”
“Lain kali kita jalan-jalan ke Italia ya sayang.”
“Boleh, just contact me kalau kamu ada waktu luang. Kita berangkat ke Italia, sekalian meninjau perkembangan kinerja bahawahanku di sana.”
“Kamu baik banget deh sayang.” Anabel kini menghujani ciuman bertubi-tubi ke Angga.
“Antar aku pulang yuk. Besok ada pemotretan pagi soalnya,” imbuhnya.
“Kamu ke garasi duluan ya. Aku angkat Alisha dulu.”
“Kenapa harus kamu sih yang angkat dia? Kenapa tidak suruh Murad saja?” tanya Anabel kesal.
“Murad pasti capek sudah membunuh tadi. Kasihan kalau masih disuruh-suruh lagi yang. Kamu marah karena cemburu sama Alisha?”
Anabel mengangguki ujaran Angga. “Tidak usah cemburu sayang. Aku tidak akan pernah mencintai Alisha. Kamu tenang saja kalau masalah itu.”
“Baguslah, kalau begitu.”
Anabel berjalan duluan ke garasi, dia menunggu Angga di dalam mobil. Tak lama, Angga datang dengan menggendong Alisha.
Tak dapat dipungkiri, jantung Angga berdegub dengan sangat kencang. Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa tiap kali bersentuhan dengan Alisha, hasratku pasti menggebu-gebu? Aneh.