
Pagi menyapa. . .
Di rumah mewah miliknya, Angga terbangun dengan perasaan tidak karuan. Ia duduk seraya mengucek matanya selama beberapa detik. Lalu bangkit dari ranjang empuk itu saat teringat pada diary Alisha yang ia simpan.
Mafia berdarah dingin ini kemudian mengarahkan kakinya ke garasi. Membuka mobil favoritnya untuk mengambil diary milik Alisha.
Ia membacanya di dalam mobil berwarna gelap itu. Itu lebih menenangkan baginya, ketimbang masuk ke dalam rumah. Bisa saja, Anabel merampas diary itu sebelum habis ia baca.
Lembar demi lembar ia buka. Perasaan sakit hati Alisha tertera sepenuhnya di situ. Perasaan yang tak pernah Alisha beberkan padanya.
Perasaan bersalah kini menjalari pikirannya. Bayang-bayang Alisha kini bercokol di pikirannya. Tanpa mandi, tanpa mengganti pakaian, ia melajukan mobil ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Alisha tersenyum manis. Sebentar lagi, penderitaannya akan berakhir. Seiring berakhirnya pernikahannya dengan Angga. Lelaki yang beberapa bulan ini telah menjadi suami rasa musuh baginya.
Mengingat itu, kondisinya membaik dengan cepat. Terlebih, registrasi rumah sakit juga telah Devan selesaikan. Ia dengan senang hati meninggalkan ruangan beraroma obat-obatan itu.
Di jalan, Angga ngebut-ngebutan. Tapi percuma, karena ia tiba beberapa menit setelah Alisha pergi.
Angga yang tak tahu Alisha sudah keluar, melangkah cepat ke ruangan tempat istrinya itu dirawat semalam. But zonk, tak ada lagi Alisha di dalam.
Ia pun berjalan dengan cepat ke parkiran. Masuk ke mobil, lalu mengemudikan kendaraan favoritnya itu dengan kecepatan abnormal menuju rumah Alisha.
Angga sudah tiba, dengan cepat ia mendekat ke arah Alisha dan yang lain sedang duduk. Hanya pak Radit saja yang menyapanya. Mertuanya itu menyuruhnya duduk di samping Alisha yang bahkan menatapnya saja pun enggan.
Tak lama setelah sesi diam-diaman itu, pak Sean dan bu Salsa juga datang. Angga menarik naik kedua alisnya melihat kedua orang tuanya datang. Buat apa papa dan mama ke sini juga?
Pak Sean dan bu Salsa menghampiri. Senyum terpatri di wajah mereka berdua, yang tak tahu bahwa Alisha nekad mengakhiri hidup karena perbuatan anaknya.
“Tumben panggil pagi-pagi. Ada acara apa ini, Radit?”
“Angga, papa, dan mamanya sudah ada di sini nak. Silakan kamu jelaskan ke mereka alasanmu mau bercerai dengan Angga,” ucap ibu Alisha.
“Cerai? Kamu mau kita cerai?” hardik Angga.
“Iya, kenapa?” balas Alisha dengan intonasi yang tak terkontrol.
Emosi, Angga menarik baju Alisha. “Kenapa cerai? Bukannya kamu cinta sama aku? Hah?”
“Kata siapa aku cinta sama kamu?”
“Amanda, dia sudah jelaskan semua yang terjadi waktu kita masih SMA dulu. Aku juga sudah baca diarymu.”
Melihat itu, Devan bangkit dari duduknya. Ia mendorong Angga dengan keras, menyebabkan Angga terjatuh dari duduknya. “Yang sopan dong bro,” umpatnya kemudian.
Alisha meneteskan air mata. “Lihat sendiri kan kak Angga sekasar apa ke aku? Apa mama dan tante bisa bertahan dengan suami yang ringan tangan seperti kak Angga?”
Pak Sean bergegas menghampiri Angga. Tanpa aba-aba, ia menampar kuat pipi kanan anak semata wayangnya itu.
“Papa tidak pernah mengajari kamu mengasari perempuan, Angga. Puluhan tahun papa membina rumah tangga dengan mamamu, sekali pun papa tidak pernah mengasarinya.”
Sementara bu Salsa, ia menggenggam tangan bu Renata. “Tolong maafkan anakku. Aku janji akan mengajarinya cara bersikap baik ke istri. Jangan sampai karena masalah ini, rumah tangga anak kita berakhir di meja hijau Rena.”
“Aku mengikut ke Alisha saja, Sa. Yang menjalani rumah tangga dengan anakmu itu dia, bukan aku. Kalau dia mau bercerai, aku tidak akan melarang. Lebih baik bercerai, daripada hidupnya menderita jadi istri anakmu.”
Pak Sean kembali angkat bicara. “Begini saja, kalian tinggal serumah dulu selama sepekan. Kalau masih tidak cocok, aku ikhlas kalian bercerai.”
Air muka kecewa tergambar jelas di wajah lelaki berusia senja itu.