Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Cari Atau Dijodohkan Saja



“Welcome back, Miland! Ku pastikan kamu akan mendekam lama di sini karena ulah mu yang gegabah."


"Ulah ku yang gegabah? Apa maksud mu?" Miland mengernyitkan alis untuk menutupi perbuatan nya.


"Apalagi kalau bukan menembak tangan ku?” Devan memperlihatkan bekas jahitan tangan nya semalam.


“Dan satu lagi. Kamu juga sudah menyebarkan berita bohong tentang ku,” lanjut nya kemudian tertawa terbahak-bahak.


“Sangat disayangkan. Kamu seorang polisi, tapi tidak tahu prosedur hukum yang benar seperti apa. Bisa-bisanya kamu menuduh ku tanpa bukti.” Miland menaikkan sudut bibir kanan nya.


Balasan Miland yang diucapkan dengan intonasi santai itu berhasil menghentikan tawa kemenangan Devan. Di saat yang sama, tiba-tiba gawai Miland berdering.


Tumben daddy menelepon. Ini pasti urgent, monolog Miland setelah menggeser layar gawai nya.


“Kamu hanya boleh menangkap ku setelah tuduhan mu itu terbukti,” ujar nya kemudian berdiri.


Ia lalu melangkah semakin jauh. Meninggalkan para polisi bedebah yang tengah berargumen satu sama lain di situ.


“What’s up Dad?” tanya nya setelah berada di dalam Taxi.


“Daddy mau kamu menikah bulan ini juga,” balas lelaki renta tapi gaul di seberang sana.


Miland seketika batuk dibuat nya, padahal tenggorokan nya sama sekali tidak gatal saat itu.


Mafia berwajah tampan tapi single itu menggaruk kepala nya kasar. “Daddy kan tahu sendiri aku tidak punya pacar.”


Ayah nya tertawa pelan atas jawaban yang ia terima. “Calm down, son. Daddy sudah carikan perempuan yang tepat untuk mu.”


“Tidak mau, Dad. Aku hanya mau menikah dengan perempuan pilihan ku. Zaman sudah semodern ini masih saja dijodoh-jodohkan.”


“It is okay kalau kamu tidak mau dijodoh-jodohkan. Daddy sih terserah kamu saja. Yang penting kamu harus menikah bulan ini juga. Daddy tidak mau tahu, bagaimana pun caranya kamu sudah harus kenalkan calon istri mu ke kami pekan depan.”


Belum sempat melakukan tawar menawar, ayah Miland sudah memutuskan panggilan nya.


Satu-satunya perempuan yang kusuka kan cuman Alisha. Mana bisa aku menikahi dia?”


“Alisha itu perempuan?” tanya sopir Taxi yang sedari tadi menyimak percakapan telepon penumpang nya.


“Iya, Pak.”


Jawaban singkat itu membuat sang sopir semakin penasaran. “Kenapa dia tidak bisa kamu nikahi?”


“Dia istri sahabat ku Pak. Sebenarnya suami nya sudah meninggal. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menikahi nya.”


“Bisa lah, Dek. Dia kan sudah jadi janda. Kalau menurut saya, lebih baik kamu saja yang menikahi dia. Daripada nanti dia dinikahi lelaki lain yang belum tentu sifat nya baik.”


“Lagian mana mau dia jadi istri ku?”


“Kalau saya jadi perempuan, saya pasti mau jadi istri kamu Dek. Bukan cuma ganteng, saya lihat kamu juga sepertinya baik.”


“Bapak bisa saja memuji nya. Aku yakin dia tidak mau, Pak. Apalagi suami nya kan baru meninggal kemarin lalu.”


“Takdir tidak ada yang tahu Dek. Coba saja dulu nyatakan perasaan mu ke dia. Siapa tahu kan dia jodoh mu.”


“Ada-ada saja bapak ini. Lebih baik aku nikah kontrak dengan perempuan lain, daripada menyatakan cinta ke perempuan yang baru saja ditinggalkan suami nya.”


Obrolan itu terus berlanjut. Hingga tak terasa, Miland ternyata sudah sampai di depan rumah Murad. Ia pun menyodorkan uang berjumlah lebih pada sopir Taxi itu sebelum keluar dari mobil.


Spontan si sopir mengembalikan nya. “Ini kebanyakan, Dek.”


“Ambil saja, untuk anak Bapak di rumah.”


“Maa Syaa Allah, murah rezeki mu Dek. Saya doakan kamu berjodoh dengan si Alisha itu.”


Miland hanya mengangguk pelan. Yang ia yakini, sembilan puluh tujuh persen tidak berjodoh dengan Alisha. Tiga persen nya perpaduan antara ketidakpercayaan akan berjodoh dengan Alisha dan penghormatan ke sopir tadi.