Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Marah



Angga mendekatkan tubuh nya pada Alisha. Menyebabkan perempuan di samping nya itu bergidik hebat.


“Mau apa lagi?” tanya Alisha dengan posisi sedikit menjauh.


Angga terpaksa maju, seiring dengan mundur nya Alisha. Ia menarik paksa tubuh istri nya itu ke dekapan. “I want you sayang,” bisik nya di telinga sang istri.


Lalu mendaratkan bibir nya pada bibir Alisha yang merah merona. Benda kenyal yang sedari tadi ingin sekali ia cicipi.


“Ini masih sakit,” jawab Alisha sembari menunjuk ke arah pintu rahim nya yang sudah tidak tertutup rapat lagi karena perbuatan Angga sendiri.


“I will do it slowly.” Angga meyakinkan nya dengan memasang mimik memelas.


“I beg you, lain kali saja. Please, ini masih perih.” Alisha turut menampakkan eskpresi yang tak kalah memelas nya dari ekspresi Angga.


Angga yang iba, terpaksa mengurungkan niatnya untuk mencumbui Alisha lagi. Kali ini, ia berbesar hati untuk mengalah. Menunggu istrinya sembuh dulu, agar bisa kembali melakukan penyatuan.


Beberapa hari setelah nya, Angga membawa Alisha ke Yomisedosi. Berjalan-jalan, sekaligus mencicipi manju. Si kue tradisional yang memliki varian isi.


Warna merah jambu memenuhi pipi Angga saat menggenggam tangan Alisha. Be happy sayang! Karena setelah ini, kau akan kubuat lelah dengan permainan ku.


“Apa yang lucu?” tanya Alisha.


“Nothing.”


“Kalau nothing, kenapa senyum-senyum terus?”


“Aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang menggembirakan.”


“Memikirkan apa?”


“Bukan urusanmu.” Angga lalu berjalan dengan cepat.


Membuat Alisha harus berjalan cepat juga seperti nya. Dengan begitu, fokus nya jadi bercabang. Ia tidak akan sempat lagi membahas alasan mengapa Angga tersenyum.


Tibalah mereka di salah satu toko yang ada di Yomisedosi. Mereka masuk, dan Angga langsung memesan manju untuk mereka berdua. Di saat sedang asyik-asyik nya menikmati manju. Alisha tiba-tiba pamit ke toilet.


Ia berjalan cepat ke belakang. Namun sebelum melanjutkan aksi nya itu, ia bersembunyi di balik tembok. Memperhatikan sebentar, apakah Angga mengawasi nya atau tidak.


“Yes, dia tidak membuntuti ku. Saatnya beraksi,” monolognya lalu berjalan melewati toilet.


Tujuan nya hanyalah mencari telepon umum. Ia masuk dan langsung memasukkan koin. Seperti biasa, ia melakukan panggilan telepon dengan Devan.


Yang ia tak tahu, Angga sebenarnya membuntuti nya. Betapa terlukanya hati Angga saat melihat Alisha tersenyum manis bukan karena nya. Melainkan karena mengobrol dengan seseorang yang ia yakini itu adalah Devan.


Angga pun kembali ke toko dengan wajah masam nya. Tak lama setelah Angga duduk, Alisha juga sudah datang. Paras nya tampak berseri-seri.


“Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya Angga dengan tatapan tajam.


“Aku senang, perutku sudah tidak sakit lagi.”


Alisha lalu mengambil sepotong manju yang belum ia habiskan tadi. Baru saja akan melahap nya. Angga sudah berdiri dari duduk nya.


“Mau kemana?” tanya Alisha.


“Pulang.”


“Nanti saja, manju ku belum habis.”


“Kita harus kembali ke markas sekarang. Ada hal penting yang harus ku lakukan.”


Mereka berdua keluar dari toko. Di luar, Angga menggenggam tangan Alisha. Kemudian melangkah dengan cepat.


Sesampainya di markas, Angga langsung menyeret Alisha ke kamar. Di kamar itu, satu per satu penutup tubuh Alisha ia hempaskan ke sembarang arah.


Alisha kini polos, Angga pun menghempaskan tubuh Alisha dengan kasar ke atas ranjang. Lalu dengan brutalnya ia melampiaskan kemarahan, sekaligus hasrat nya berkali-kali tanpa ampun.


Serangan tanpa henti itu menyebabkan Alisha letih. Ia terus memohon pada Angga untuk berhenti, tapi tidak berpengaruh.


Angga tetap melanjutkan aktivitas favorit nya itu. Ia telah bertekad, hanya akan berhenti setelah melihat Alisha benar-benar menderita.