
Sejak hari itu, Angga terus mengurung Alisha di kamar. Ia juga melampiaskan hasrat nya setiap hari pada nya.
“Kenapa kamu mengurung ku terus? Apa salah ku?” tanya Alisha dengan tetesan-tetesan air mata yang jatuh di pipi nya.
“Masih bertanya apa salah mu? Dasar munafik! Bisa mu hanya menangis, air mata buaya. Dasar istri tukang selingkuh,” hujat Angga sebelum keluar kamar.
Dua bulan pun berlalu, Angga mengutus pengacara ke Indonesia untuk mempercepat pembebasan Miland.
Demi membebaskan Miland, ia rela mengorek kantong cukup dalam untuk membayar pengacara profesional itu.
“Ini bayaran mu. Bebaskan dia, kalau tidak berhasil, nyawa mu taruhannya.”
“Tenang saja, Tuan! Aku tidak pernah gagal dalam menangani kasus. Kalau pun gagal, aku sendiri yang akan menyerahkan diri ke Anda.”
“Bagus, aku sangat suka kepercayaan diri mu,” tutur Angga seraya menempelkan segepok uang ke dada si pengacara.
Bersama dengan Angga, sang pengacara terbang ke Indonesia. Alpa nya Devan di kantor polisi, sangat mempermudah langkah pengacara ini untuk membebaskan Miland.
Kendati demikian, Miland tetaplah seorang buronan di mata Roy. Rekan Devan ini masih terus menguntit kemana pun Miland pergi.
Miland yang menyadari itu, mulai memainkan trick. Ia berjalan menuju keramaian, membuat Roy kehilangan jejak. Segera, Miland bersembunyi di salah satu rumah warga yang ada di sekitaran situ.
Miland lalu memberikan pakaian yang ia pakai tadi ke si empu nya rumah. Menyuruh nya keluar dengan memakai pakain nya tadi. Dengan imbalan berupa uang bergepok-gepok untuk misi itu.
Sesuai dengan arahan Miland, sang pemilik rumah pun keluar. Langsung saja ia menaiki Taxi, meminta si supir ke sembarang tempat.
Dari belakang, tampak sebuah mobil yang terus mengikuti nya. Dimana, di dalam mobil itu ada Roy dan beberapa intel yang telah ditugaskan untuk mengawasi pergerakan Miland.
Di saat yang sama, Miland bergegas keluar dari rumah warga tadi. Ia meminta tukang ojek yang mangkal di dekat rumah itu untuk membawa nya ke arah yang berlawanan.
Tak lama berkendara, tibalah mereka di suatu tempat. Di situ sudah ada Angga dan Murad yang menunggui nya.
Bapak tukang ojek itu pun terbelalak seketika saat menerima nya. “Ini kebanyakan Nak. Bayaran ku cuman sepuluh ribu.”
“Ambil saja Pak. Tapi tolong, kalau ada yang tanya-tanya tentang aku nanti. Bapak jangan bilang-bilang ya pernah antar aku!”
“Baik, Nak.”
Belum sempat si mengucapkan terima kasih, Miland sudah menaiki jet yang dikemudikan oleh Angga.
“Welcome back brother,” sambut Angga dengan perasaan yang menggebu-gebu.
“Thank you bro. Kamu sudah membantu ku keluar dengan cepat. Kalau pengacara itu aplikasi, sudah kukasih bintang lima. He is so brilliant, like you.”
“Itulah fungsi sahabat, membantu sahabat nya di saat susah. Kalau aku yang di posisi mu, aku yakin kamu pasti akan melakukan hal yang sama untuk ku. Sebenarnya, aku ingin minta maaf Miland.”
“Minta maaf untuk apa?”
“Maaf, aku terlambat membantu mu keluar dari penjara. Di Jepang terlalu banyak masalah yang harus diatasi. Aku jadi lupa menyelamatkan mu juga.”
“It’s okay, justru bagus kamu lambat membebaskan ku. Aku jadi lebih tahu pergerakan polisi-polisi di sana. Aku juga dapat banyak informasi dari napi-napi di sana.”
Di tempat yang tadi, terlihat bapak gojek itu sedang sujud syukur. “Terima kasih ya Allah. Engkau telah mengirimkan orang yang baik untuk membantu hamba,” ujar nya.
Ia berdiri, dan bergegas memasukkan uang itu ke dalam tas dompet nya. Ia langsung saja melajukan motor butut nya untuk kembali ke rumah.
Ada nya pemberian dari Miland itu, membuat nya memutuskan untuk tidak mengojek dulu selama beberapa hari ini.
Ia akan memeriksakan istri nya yang sakit terlebih dahulu, dan memfokuskan diri untuk penyembuhan istri nya itu.