Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Nila Setitik



“Yang jelasnya, pelakunya pasti orang dalam.”


“Sejauh ini semua anggota selalu setia bos,” sahut Murad.


“Itu berarti, yang harus kita selidiki adalah anggota yang baru bergabung. Siapa-siapa saja anggota baru kita?”


“Saya,” sahut Miland seorang diri.


“Saya sangat percaya sama kamu. Saya bisa jamin, bukan kamu pelakunya.”


Mereka terus bermusyawarah, dan berhenti sejenak saat Alisha datang membawa minuman. “Apa ini?” tanya Angga sembari memegang gelas.


“Darah naga,” canda Alisha. Angga menatapnya sinis. “Jus buah naga untuk orang-orang bertato naga seperti kalian. Uraa,” lanjut Alisha cepat.


“Uraa,” balas Miland sembari mengangkat gelasnya. Dia tampak sangat bersemangat.


Miland melihat ke sekitar, ternyata cuma dia yang menyahuti ucapan Alisha. Dengan malau-malu, dia menurunkan kembali gelasnya.


“Ha ha ha. Anak baru ini lucu sekali kak,” tutur Alisha lalu duduk di samping Angga.


Dia kembali meneguk jus yang dibuatnya. “Enak kan buatanku?” tanya Alisha sembari memainkan matanya ke arah Murad.


Untungnya Murad mengerti maksud kedipan mata Alisha. Jadi dia segera menyahutinya. “Iya, enak sekali.”


Angga batuk kecil. “Seorang mafia profesional, tidak akan pernah melirik istri temannya. Apalagi sampai bermain mata.”


“Kak Angga sok tahu. Kak Murad tidak main mata ke saya. Justru saya yang main mata ke dia.”


“Kamu terlalu banyak bicara Alisha. Ini urusan lelaki, kamu tidak usah ikut campur. Masuk ke kamar sekarang!” tegur Angga yang sudah sangat kesal dengan tingkah istrinya itu.


Alisha terpaksa mengikuti arahan Angga. Sejauh dia melangkah, sejauh itu juga Miland menatapnya.


Tak dapat dipungkiri, Alisha adalah tipe perempuan yang Miland cari selama ini. Sayangnya, Alisha ternyata milik Angga.


Kehadiran Alisha, menimbulkan suatu ide di benak Angga. “Coba ceritakan tentang pasangan kalian masing-masing! Khusus untuk yang bawa pasangan malam itu.”


Anggota yang paling muda bicara duluan. “Pacarku, guru SMA. Bapaknya insinyur, ibunya guru.”


Anggota lain juga angkat bicara. “Pacarku penjaga toko. Bapaknya supir, ibunya biduan.”


Semua anggota menceritakan tentang pasangannya masing-masing. Kini tiba giliran Murad. “Pacarku dokter. Dia yatim piatu.”


Angga memegangi dagunya mendengar pengakuan Angga. “Serius kamu single?”


“Iya,” jawab Miland dengan singkat, padat, dan jelas.


“Sayang sekali muka gagahmu itu. Gagah begitu ternyata bujang lapuk.”


“Makanya belajar sama bos Angga. Punya dua perempuan di sisinya. Yang satu istri, yang satu pacar. Cantik-cantik semua lagi bro,” saran Murad.


“Saya tidak butuh banyak perempuan. Cukup satu, untuk semua suasana. Dia bisa diajak serius, bisa diajak bercanda juga.”


Entah kenapa, ucapan Miland seakan mengarahkan benak Angga pada Alisha. “Mirip Alisha ya tipemu,” balasnya.


“Iya, persis seperti dia. Kali aja kamu mau hibahkan Alisha buat saya. Dengan senang hati, saya akan menerimanya.”


Angga dan yang lain membisu karena ucapannya. “Bercanda ya Angga. Tapi serius juga boleh,” lanjut Miland cepat.


“Wizzz, bahasamu bro. Hibah, jangan-jangan kamu alumni pesantren ya?” canda Murad.


“Iya, alumnus pesantren. Kok tahu?” balas Miland dengan garis muka seriusnya.


“Cuma bercanda, malah benar. Jangan-janagn kamu shalat lima waktu juga.”


“Shalat lah bro. Shalat kan kewajiban, harus dilakukan. Kalau tidak ya berdosa.”


“Mana ada mafia yang shalat lima waktu Miland?” Murad menepuk dahinya.


“Terus saya apa bro?” tunjuk Miland pada dirinya sendiri.


“Hush, kalian sudah melenceng sangat jauh dari pembahasan awal.”


“Maaf bos, terbawa suasana.”


“Saya curiga sama pacar kamu. Selidiki lebih jauh tentang dia. Jangan sampai karena Nila setitik, rusak susu sebelanga.”


“Sekarang bos?”


“Nanti, setelah author naik level jadi author gold. Ya sekarang lah Murad. Bisa lumutan kita kalau tunggu author naik level dulu untuk bertindak.”