Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Tidak Bisa Lepas



Angga memasuki kamar kost milik istrinya itu. Pandangan pertamanya tertuju pada mie instant yang tidak sempat Alisha habiskan tadi.


“Kamu makan itu?” tunjuk Angga.


“Iya,” balas Alisha judes.


“Tidak sehat makan mie instant terus.”


“Makan pare over pedas juga tidak sehat.”


“Parenya bisa over pedas karena kamu yang menambahkan banyak cabe.”


“Forget it! Kakak tidur di lantai karena kita tidak muat untuk tidur berdua di sini.”


Alih-alih mendengarkan, Angga justru ikut naik ke tempat tidur. Mau tidak mau Alisha harus terus bergeser untuk menghindari sentuhannya.


“Ini muat kok,” tukas Angga.


Dia berpura-pura tidur setelahnya. Sesekali dia membuka mata untuk memastikan Alisha sudah tidur atau belum.


Ketika Alisha terlelap, dia menyuntikkan obat bius yang diambil di mobil tadi ke Alisha. Menyebabkan Alisha tak sadarkan diri, walau diraba sesuka hati sekali pun.


Dengan sigap Angga melepaskan seluruh penutup tubuh istrinya itu. Saat Alisha sudah polos, dia mengambil gawai untuk memotret Alisha yang tengah polos tanpa sehelai benang pun.


“Saya tidak bermaksud menodai kamu dengan paksa Alisha. Tapi cuma ini satu-satunya cara supaya kamu tidak minta cerai lagi.”


Kini giliran Angga yang membuka seluruh pakaiannya. Dia melemparkan pakaian itu, kemudian melampiaskan hasratnya dengan brutal ke Alisha. Alisha ternyata nikmat sekali.


“Kamu selalu menganggapku brengsek kan sayang? Sekarang rasakanlah kebrengsekan suamimu ini sayang,” ungkapnya pada Alisha yang tak sadarkan diri karena suntikan obat bius yang dia berikan.


Angga terus berpacu pada permainan panasnya. Semakin lama, dia semakin buas dan bergairah. Tubuh Alisha benar-benar dia lahap sampai puas.


Dia baru berhenti melakukan aktivitas menggairahkan itu, setelah mengerang penuh kenikmatan. Pada akhirnya, dia tumbang di samping Alisha.


Malam berganti, adzan subuh berkumandang di langgar dekat kost. Alisha mencoba bangun, tapi kepalanya terasa begitu berat.


Alisha merasa tubuhnya kedinginan, padahal dia telah memakai selimut tebal sebelum tidur. Tak lama, matanya kini membulat sempurna.


Tapi sesuatu yang paling dia takuti setelah menikah dengan Angga, terjadi juga subuh ini. Alisha mengucek matanya untuk memastikan bahwa itu semua hanya bunga tidur.


Tapi berapa kali pun dia mengucek mata, hasilnya tetap sama. Dia memang sedang tidak berpakaian saat ini. Amarah yang membara kini menyelimuti relung hati Alisha.


Rintik demi rintik bertumpahan dari netranya. Semakin lama, rintik itu berubah jadi deras. Terlalu sakit hati Alisha, dia sungguh tidak bisa menerima apa yang dilihatnya saat ini.


“Kenapa nangis subuh-subuh?” tanya Angga seolah tidak tahu apa-apa.


“Apa maksud dari semua ini kak?”


“Kamu masih tanya? Semuanya sudah jelas Alisha. Kamu tidak perlu bertanya untuk tahu jawabannya! Kamu kan sudah dewasa. So, kamu seharusnya tahu apa yang sudah kita lakukan tadi malam.”


“Apa kita bereproduksi?” tanya Alisha dibarengi isak yang tak tertahan lagi.


“Yup, lihat sendiri kan? Kamu polos, saya polos. Apalagi coba kalau bukan telah melakukan hubungan suami istri?”


“Kamu jahat sekali kak!” kutuk Alisha.


“Kok jahat sih? Kita kan suami istri, wajar dong kalau kita begituan.”


“Kamu pasti bercanda kan kak?” Alisha masih berharap semua yang terjadi bukanlah fakta.


“Menurutmu? Apa selama ini saya pernah bercanda ke kamu?”


“Kalau kita memang melakukannya, kenapa saya tidak merasakan apa-apa tadi malam?”


Dengan jahatnya Angga mengambil suntikan obat bius. Lalu memperlihatkannya ke Alisha. “Apa itu?” tanya Alisha lirih.


“Obat bius.”


Alisha semakin tersedu-sedu. “Jahat kamu kak. Kamu seharusnya minta izin dulu ke saya sebelum bertindak.”


“Tidak ada pemilik rumah yang harus minta izin dulu sebelum masuk rumahnya.”


“Rumahmu adalah Anabel, bukan saya. Dasar penjahat!”


“Jangan kasar-kasar dong sayang! Apa jangan-jangan kamu marah karena tidak ingat rasanya? Kalau begitu, ayo kita lanjut lagi!”


Alisha kesal sekali mendengar ucapan Angga. Saking kesalnya, dia tidak segan-segan lagi menampar pipi Angga. Membuat Angga meradang karenanya.


“Istri tidak tahu diuntung.”


Angga kembali menindih tubuh Alisha. Dengan rakusnya dia melahap bibir kesukaannya itu sampai puas. Barulah dia melepaskan Alisha.