Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Bunuh!



Murad dan anggota yang lain berpencar. Mereka mendatangi setiap panti asuhan untuk menanyakan tentang Nila. Tapi tak satu pun pengurus panti yang mengenali Nila.


Mereka kira, para penjaga panti itu sengaja menutupi identitas Nila. Jadi mereka menggunakan cara yang lebih tegas.


“Mana buku data diri anak-anak yang pernah tinggal di sini!” ancam setiap anggota mafia itu.


Pengurus panti segera memberikan buku data diri. Dengan cekatan para mafia itu membuka setiap lembarnya, tapi tetap saja tak ada nama Nila di situ. Sudah seharian mencari seperti itu, belum juga ada hasil.


Angga terpaksa meminta anggotanya untuk berhenti sejenak. Mereka kembali bermusyawarah untuk menyusun strategi penyelidikan Nila selanjutnya.


“Bagaimana kabar Nila sekarang?”


“Tidak tahu bos.”


“Bagaimana bisa kamu tidak tahu kabar pacarmu sendiri?”


“Sudah beberapa hari ini, dia tidak menghubungi saya lagi bos. Sosmednya juga tidak aktif semua. Saya coba telepon nomornya, tapi tidak aktif.”


“Sudah jelas Nila adalah dalang dari pembobolan markas kita. Kita harus melenyapkannya, sebelum dia membongkar lebih dalam lagi tentang kelompok kita.”


“Baik bos,” jawab Murad tak bersemangat.


Bagaimana tidak? Sudah berbulan-bulan dia menjalin hubungan dengan Nila. Dan sekarang, Angga memberi perintah untuk membunuh perempuan yang sudah sangat dia cintai itu.


“Dimana alamatnya?”


Murad tertunduk lesu. “Tidak tahu bos.”


“Alamatnya juga tidak tahu. Dimana sebenarnya kamu ketemu dia?”


“Di rumah sakit bos.”


“Ayo, kita datangi rumah sakit itu.”


Angga dan Murad memakai masker terlebih dahulu, sebelum mengemudikan mobilnya ke rumah sakit tempat Nila bekerja.


“Kamu tahu orang ini?” tanya Angga pada salah seorang dokter yang merupakan rekan Nila.


“Tahu, kenapa?” jawab dokter itu judes.


“Ikut kami,” titah Murad sambil menodongkan pistol ke kepala perempuan itu. “Jalan dengan santai ke parkiran. Kalau kamu teriak, peluru di pistol ini tidak akan segan-segan menembus kepalamu.”


Angga berjalan duluan keluar, disusul Murad dan dokter itu. Dia pun mengemudikan mobil ke arah Murad yang sedang berdiri di samping dokter judes tadi.


“Arahkan kami ke rumah Nila!” perintah Angga.


Dokter itu mengiyakan, dia bekerja sama dengan baik. Alamat yang dokter itu tunjukkan serasa tak asing bagi Angga.


Kalau tidak salah ini jalan ke rumah Devan. Apa sebenarnya hubungan Nila dengan keluarga Devan?


“Itu rumahnya,” tunjuk sang dokter.


“Kamu jangan bercanda, Nila yatim piatu. Bagaimana bisa dia tinggal di rumah Devan?” hardik Angga.


“Saya serius, Nila memang tinggal di situ. Dia adik angkatnya Devan.”


“Dimana dia sekarang?”


“Yang saya tahu dia keluar negeri.”


“Negara mana?” ancam Murad. Membuat perempuan itu ketakutan setengah mati.


“Saya juga tidak tahu, Nila tidak pernah cerita. Info keluar negeri itu juga saya dengar dari dokter-dokter lain.”


“Bagaimana ini bos? Kita kehilangan jejak,” ucap Murad frustasi.


“Kita cari solusi lain. Turunkan dokter itu sekarang!”


“Berhubung bos saya sedang berbaik hati hari ini, kamu saya lepaskan hidup-hidup. Jangan sampai kamu membuka mulut. Kalau sampai kamu membocorkan tentang kami barang sedikit pun, siap-siap nyawamu melayang. Paham?”


“Paham,” balas dokter itu dengan suara bergetar.


“Bagus, keluar sekarang!”


Dokter keluar, dan Angga melajukan mobilnya ke markas baru. “Sudah ketemu perempuan itu?” tanya Miland di sana.


“Kami kehilangan jejak. Dia sudah melarikan diri keluar negeri.”


“Sebenarnya saya bisa bantu kalian melacaknya, tapi harus ada rekening banknya.”


“Kamu pernah transfer uang ke dia?” tanya Angga pada Murad.


“Pernah bos,” jawab Murad cepat.


“Perlihatkan nomor rekeningnya ke Miland!”