
Dua bulan kemudian. “Hujan deras mbok,” ucap Alisha bersemangat. Dia lalu berlari keluar.
“Mau apa nyonya?” teriak mbok Murni pada Alisha yang sudah agak jauh darinya.
“Mau main hujan mbok.”
“Jangan nyonya! Nanti nyonya sakit.”
Alisha tidak menghiraukan larangan mbok Murni. Dia terus berlari keluar rumah. Memang sudah lama dia tidak main hujan-hujanan.
“Tuan. Gawat tuan,” lapor mbok Murni pada Angga yang sedang menyeduh teh hangat.
“Tenang dulu mbok!” Mbok Murni pun menarik nafas dalam-dalam. “Sekarang jelaskan, apa yang gawat?” imbuh Angga.
“Nyonya Alisha main hujan-hujanan tuan.”
“Aduh mbok, kirain apa. Memangnya kenapa kalau dia main hujan?”
“Nanti dia sakit tuan,” ungkap mbok Mirna yang sangat khawatir.
Seperti sedang khawatir pada anaknya sendiri. Mbok Mirna memang sudah menganggap Alisha seperti anaknya sendiri.
“Biar saja mbok. Alisha bukan anak-anak lagi. Dia tahu kok hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.”
Dengan berat hati mbok Murni meninggalkan Angga yang tak ingin berkompromi. Mbok Murni bergegas mengambil payung. Kemudian keluar untuk menghampiri Alisha yang sedang asyik bermain hujan-hujanan.
“Nyonya, ayo masuk!”
“Tidak mau mbok.”
“Kalau begitu, nanti langsung mandi yah!”
“Okay mbok,” sahut Alisha sambil tersenyum.
Angga melihat mbok Murni masuk sendirian. Sudah kuduga, mbok Murni pasti gagal membujuknya. Dari dulu sampai sekarang, Alisha tidak pernah berubah. Dia masih suka mandi hujan.
Tiga puluh menit berlalu. Angga bangkit dari duduknya dan melangkah keluar. Dia berdiri di pintu, lalu meneriaki Alisha.
Alisha melihat Angga, tapi tidak bisa mendengar apa yang dikatakan lelaki angkuh itu. Jadi Alisha terus melanjutkan bermain hujan.
“Woyyy kak Angga. Kamu jahat, pacarmu juga jahat seperti kamu. Ha ha ha, kalian berdua pasangan yang hyper. Hyper hyper hyper, hyper hyper hyper.”
Berbagai umpatan Alisha teriakkan. Dia pikir Angga juga tidak bisa mendengar dengan baik di bawah guyuran hujan sepertinya.
Alisha tidak sadar, suaranya jauh lebih besar dari suara Angga. Jadi Angga bisa mendengar semua cercaan yang Alisha lontarkan. “Dasar bodoh!” gerutu Angga lalu menghampiri Alisha.
Mereka berdua kini basah. Angga memperhatikan lekukan tubuh Alisha, itu benar-benar membangkitkan jiwa hypernya.
Angga pun menggendong Alisha dengan paksa ke dalam rumah. Sesampainya di kamar, dia menghempaskan tubuh Alisha yang basah ke atas ranjangnya.
“Kak Angga mau apa?” tanya Alisha ketakutan.
“Menurutmu, orang hyper sepertiku akan apa dengan posisi ini?”
Hyper? Jadi dia mendengar semua teriakanku? Aaaaa, bagaimana ini? Dia pasti murka karena ucapanku tadi.
“Berhubung Anabel ada di luar negeri, jadi kamu yang harus gantikan dia jadi pasangan hyperku.”
“Jangan mendekat! Kalau kakak masih nekat, video mesum kakak dan kak Anabel akan kusebar.”
“Sebar saja! Fotomu juga akan kusebar, biar impas.”
“Mbok Murni bilang saya harus langsung mandi setelah main hujan-hujanan. Minggir kak! Saya mau pergi mandi.”
“Okay kita mandi.” Angga menggendong Alisha masuk ke kamar mandi.
“Saya mau mandi sendiri kak. So please, lepaskan saya sekarang!”
“Egois sekali, saya juga basah karena kamu. So, mari kita mandi bareng.”
“Siapa suruh kelu-”
Belum selesai bicara, Angga langsung melu-mat bibir Alisha. Pagutan itu baru dia lepaskan saat di kamar mandi.
Di dalam, Angga melepaskan pakaiannya di depan Alisha. “What are you doing?” teriak Alisha sambil menutup matanya pakai tangan.
“Aku lagi hyper hyper hyper.” Angga memparodikan gaya Alisha di luar rumah tadi. Setelah itu, dia langsung menerkam Alisha sampai puas.