
Pencarian yang tadinya hanya sebentar, malah jadi melar. Menimbulkan risau di hati Angga. Ia jadi semakin bergejolak untuk menemukan perempuan yang sempat amat ia cintai itu.
Angga, si pemilik IQ di atas rata-rata memutar otak. Itu membuatnya teringat pada langkah Miland saat melacak keberadaan adik angkat Devan.
Ia memfokuskan pikiran, mengarahkan otaknya untuk kembali pada kejadian hari itu. Sebisa mungkin mengingat langkah-langkah yang dilakukan Miland.
Bos mafia ini mendekati komputer yang berada di tengah-tengah ruangan. Ia kemudian mengotak-atiknya, persis seperti yang Miland buat.
Murad sampai melongo melihat bosnya ternyata secerdas itu. Hanya selangkah lagi, keberadaan Anabel akan ia temukan saat ini juga.
Posisi Anabel pun terdeteksi, setelah Angga memasukkan nomor Rekening Bank mantan model populer itu. “Dia ada di di pagoda Italia. Gedung bertingkat dua puluh delapan itu bukannya milik Dominic?”
“Iya, bos. Itu memang punya nya Dominic, bos. Tapi apa gunanya dia menculik Anabel? Di luar sana kan banyak model yang jauh lebih cantik dari dia.”
“Ini pasti bukan karena itu. Tidak mungkin mafia menculik perempuan hanya karena dia cantik. Pasti ada hubungan yang tersembunyi antara Anabel dan Dominic.”
“Iya bos.”
Murad yang mencoba menelaah kembali kata-kata yang diungkapkan bosnya barusan, mengernyitkan alisnya yang hitam legam. Apa yang tidak mungkin sih di dunia ini? Buktinya, bos sendiri menculik Alisha.
Di tingkat dua pagoda Italia, Dominic terus menanyai Anabel. “Angga masih hidup kan?” bentak ketua mafia itu.
Anabel membisu, ia yang amat mencintai Angga tidak akan mungkin membiarkan lelaki yang amat ia cintai itu berada dalam bahaya.
“Bagus sekali Anabel, Kami mengutusmu ke Indonesia untuk membunuh Angga. Tapi kamu malah jatuh cinta sama dia, luar biasa pengkhianatanmu ke Kami.”
Dominic yang amat emosi, melayangkan satu tamparan keras ke pipi Anabel. “Kamu sudah tahu betul dunia mafia seperti apa. Kita tidak akan segan untuk gontok-gontokan demi keselamatan kelompok. Kalau besok kamu masih memilih diam, siap-siap nyawamu melayang.”
“Siap bos.”
“Kamu, bawa istriku ke markas Yakuza. Jaga dia dengan baik. Jangan biarkan dia keluar dari markas! Sampai aku pulang ke sini,” lanjutnya pada pelayan yang sedari tadi pagi menjamunya.
Perasaan sedih benar-benar merambak di hati Angga. Baru saja tiba di Jepang, ia sudah dihadapkan kenyataan pahit dengan diculiknya Anabel. Baru saja bersama kembali dengan Alisha, istrinya itu harus ia tinggalkan lagi untuk ke Italia.
Murad mengoperasikan jet terbaik milik Angga di samping Angga sendiri. Sepertiga hari berlalu, mereka akhirnya tiba juga di tempat tujuan.
Mereka memasuki gedung itu, menekan tombol 2 untuk naik ke atas. Di dalam lift, mata mereka disuguhkan dengan pemandangan gunung kembar milik perempuan di samping yang terlihat seperti cabo.
Perempuan nakal itu bahkan menyentuh pantat milik Murad. Spontan, Murad melirik padanya. Jika saja bukan karena perempuan, Murad sudah pasti membantingnya berkali-kali. Seperti yang sering ia lakukan saat memusnahkan musuh.
Hampir saja perempuan cabo itu melakukan hal yang sama ke Angga. Namun tak jadi, karena Angga yang sudah menyadari gerak-gerik perempuan itu melirik padanya. Memberikan tatapan psikopatnya yang mampu membuat perempuan itu merinding karena ketakutan.
.
.
.
Aku punya novel baru, kali aja ada yang mau mampir😁. Judulnya Pembalasan Perempuan yang Hampir Ternodai.