Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Bukan Obat Nyamuk



Berangkatlah mereka bertiga ke Italia. Di pesawat, Angga terus menggoda Anabel. Berharap Alisha akan cemburu saat melihatnya. Alih-alih cemburu, Alisha malah merasa jijik melihat kelakuan dua sejoli yang sok ABG itu.


Tak ingin matanya perih melihat pertunjukan klise di depannya, Alisha memutuskan untuk membaca novel.


Akhir-akhir ini, Alisha sangat suka membaca novel karya author Distinguish yang telah diunduhnya. Mulai dari My Teacher My Mate, Karena Terlambat Menikah, hingga Hipotesis Cinta, semua dia suka.


Dua belas jam berlalu, tibalah mereka di markas. Dengan sigap Angga memboyong Anabel ke kamarnya. Sedangkan Alisha, Angga menyuruhnya ke kamar sebelah.


Baru saja memasuki kamar, suara ber-cinta Angga dan Anabel sudah memenuhi ruangan khusus milik Angga itu. Yang paling menyebalkan bagi Alisha karena itu terdengar di telinganya. Mulai lagi dah tuh manusia-manusia hyper.


Alisha yang tahu betul, tidak akan ada yang berani mendekat ke ruangan Angga jika tidak diminta, tiba-tiba memiliki pikiran iseng. Dia penasaran ingin tahu apakah Angga juga suka memuji Anabel di ranjang.


Alisha yang over curious berjalan ke depan pintu kamar Angga. Dia menempelkan telinganya ke pintu.


Yang agresif malah kak Anabel. Gabutku benar-benar unfaedah kali ini. Bisa-bisanya aku menguping orang yang sedang bercinta. Duhhh, goblok aing.


Alisha kembali ke kamar, tapi suara ******* dua orang itu sungguh mengusiknya. Entah kenapa, dia flashback pada ucapan Angga yang mengira dia mabuk.


Bagaimana bisa gunungku jauh lebih indah dari milik Anabel? Pasti ada yang salah dengan mata kak Angga. Aish, gara-gara mereka bercinta terus, otakku jadi ternodai begini.


Alisha mengalihkan fokusnya dengan membaca novel. Lama-kelamaan dia mengantuk, hingga tertidur lelap. Saking lelapnya, dia sudah tidak mendengar suara lenguhan proses reproduksi Angga dan Alisha.


Setelah puas bercumbu, Anabel langsung mandi. Sementara Angga, dia berjalan ke kamar Alisha. Dia sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi istrinya saat dia memadu kasih dengan perempuan lain.


Sialnya, reaksi Alisha justru berbanding terbalik dengan ekspektasi Angga. Jangankan menangis, bersedih saja tidak. Bagaimana mau bereaksi, Alisha malah asyik tidur.


Rencanaku gagal. Angga kembali ke kamarnya dengan membawa perasaan kecewa karena telah gagal menyiksa batin Alisha.


Tapi kekecewaan itu hanya berlangsung sebentar. Karena Mateo yang tahu Angga ada di Italia, memberikan informasi tentang keberadaan lelaki yang selama ini dia cari.


Angga menunggu Anabel keluar dari kamar mandi, sebelum dia menjalankan aksinya. “Kamu jalan-jalan sendiri saja ya sayang. Ada hal penting yang harus kulakukan sekarang.”


Angga langsung pergi tanpa menunggu jawaban iya keluar dari mulut Anabel. Resiko punya pacar mafia ya gini.


Memang sudah tepat kalau kak Angga lebih memilihku daripada perempuan Meganthropus Paleojavanicus ini. Kalau begini mending aku jalan-jalan sendiri , daripada harus membangunkan makhluk bar-bar ini.


Anabel kembali ke kamarnya untuk memakai masker dan kacamata. Dua benda itu sudah menjadi benda wajib untuk dia kenakan saat keluar. Baik di dalam, maupun di luar negeri.


Dia yang sudah go international kerap kali dimintai foto oleh para fansnya yang berada di luar negeri. Untuk terhindar dari itu, dia harus menyamar agar tak dikenali.


Di tempat lain, Angga sudah menyandera lelaki yang dari dulu ingin dia habisi. Dia membawanya ke pulau tak berpenghuni, pulau Poveglia.


Angga sengaja memilih pulau itu untuk menghabisi lelaki yang sedang diculiknya, karena di situ banyak tulang yang berserakan. Itu akan mempersulit polisi untuk menemukan mayat yang akan dia bunuh itu.


“Katakan dengan siapa saja kamu membunuh kakekku!” bentak Angga setibanya di pulau itu.


“Siapa yang kubunuh?”


“Ulil Kertapati, kamu masih ingat dengan nama itu kan?”


“Bukan salahku membunuh kakekmu. Aku hanya bekerja atas perintah negara.”


“Jelas salah, karena kamu tahu kakekku tidak bersalah. Kamu tahu kalau kakekku hanyalah kambing hitam dari para pejabat negara. Tapi kamu tidak membelanya, kamu malah membunuhnya dengan tragis.”


“Bunuh saja aku! Aku lebih baik mati daripada memberitahumu.”


“Kamu memang akan kubunuh, tapi sebelum itu kuberi dua pilihan. Kamu mau mati dengan jaminan anak cucumu baik-baik saja, atau mati bersama dengan anak cucumu? Jawab sekarang!” teriak Angga yang sudah di ambang batas kesabaran.


Dendamnya begitu besar, karena kakeknya sangat memanjakannya. Angga merasa sangat bahagia memiliki kakek yang penyayang.


Hingga suatu hari, kabar yang tidak mengenakkan datang. Sebuah informasi bahwa kakeknya telah meninggal dengan beberapa bekas tembakan di tubuhnya.


Sejak saat itu, Angga bertekad akan membalas dendam pada orang-orang yang telah membunuh kakeknya.


Angga terus berlatih dengan sungguh-sungguh, hingga bisa berada di posisi sekarang. Menjadi seorang bos mafia yang sangat ditakuti musuhnya.