Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Tidak Sudi



Miland mengoperasikan laptopnya. Tak butuh waktu lama baginya untuk melacak keberadaan Nila. “Dia ada di Jepang.”


“Kamu sudah tahu keberadaan Nila. Bagaimana kalau kamu saja yang membunuhnya? Anggap ini sebagai misi pertama kamu di kelompok kami,” kata Angga.


“Saya tidak bisa membunuh orang.”


“Terus apa tujuanmu bergabung ke kelompok mafia? Kalau membunuh saja kamu tidak bisa.”


“Seperti kamu, saya juga sedang mencari tahu pembunuh kakekku. Saya bisa melacak keberadaan target, tapi tidak bisa membunuhnya. Makanya saya cari kelompok mafia yang bisa diajak kerja sama. Kalau kelompokmu tidak bisa membantu, saya akan cari kelompok lain.”


“Jangan pindah! Di kelompok kami saja. Kasus ini biar Murad yang selesaikan.”


Murad menyahuti tuturan Angga. “Tapi saya juga tidak bisa menjalankan misi ini bos. Saya tidak akan bisa membunuh Nila. Saya harap bos bisa mengerti perasaan saya saat ini. Untuk kali ini saja bos.”


“Okay, kalau begitu misi ini biar saya yang tangani. Tapi kamu harus tetap ikut ke Jepang ya.”


“Untuk apa bos?”


“Jaga Alisha saat saya membunuh Nila.”


“Alisha ikut juga?”


“Iya, dia suka sekali melihat salju. Mumpung kita mau ke Jepang, sekalian bawa dia. Saya juga butuh Alisha di saat-saat panik setelah membunuh.”


“Tapi bos, ini sangat berbahaya.”


“Makanya saya ajak kamu untuk menjaga Alisha.”


“Baiklah, terserah bos saja bagaimana baiknya. Saya mengikut, asal bukan saya yang bunuh Nila.”


“Kami pulang dulu! Pantau terus keberadaan Nila ya,” titah Angga pada Miland.


“Siap. Hati-hati di jalan bro!”


Angga memesan tiga tiket pesawat sebelum kembali ke rumah. “Kita ketemu di bandara,” ucapnya pada Murad sebelum berpisah di persimpangan.


Angga tiba di rumah saat Alisha sedang berbaring sambil membaca novel. “Kenapa belum tidur?”


“Bagaimana dengan Nila?” tanya Alisha balik.


“Apa yang akan kakak lakukan kalau ketemu dia?”


“Menurutmu?”


“Kasih hukuman?”


“Lebih dari itu. Demi melindungi semua anggota kelompok, penyusup sepeti Nila tidak boleh dibiarkan hidup.”


“Jadi maksud kakak, Nila akan dibunuh?” tanya Alisha tidak habis pikir. Terlebih saat Angga mengangguki pertanyaannya.


“Membunuh orang itu dosa besar kak.”


“Kami para mafia bertindak profesional, Alisha. Kami tidak akan membunuh orang secara sembarangan. Yang kami bunuh hanyalah orang yang memang pantas untuk mendapatkannya. Kemasi pakaianmu sekarang! Kita ke Jepang sekarang.”


“Saya memang sangat ingin ke Jepang untuk melihat salju, kak. Tapi saya tidak sudi ke Jepang bersama orang yang telah merencanakan pembunuhan seperti kakak.”


“Ikut! Kalau tidak mau, kamu yang kubunuh. Silakan pilih!”


“Memangnya kakak berani membunuhku?” tantang Alisha.


Rasa lelah membuat Angga jadi lebih emosional. Dia mendekati Alisha, dan langsung mencekik leher perempuan itu. “Menurutmu?”


Angga mencekik leher Alisha agak lama. “Lepaskan kak!” pinta Alisha dengan linangan air mata di pipinya.


“Jangan selalu menentangku Alisha. Jangan sampai batas kesabaranku habis. Kamu bisa saja tidak akan tertolong lagi. Cepat kemasi baju-bajumu, siapkan bajuku juga. Selesaikan sebelum saya berhenti mandi. Kalau tidak, kamu akan menerima hukumannya.”


Angga masuk ke kamar mandi. Dia berendam di bath ub selama beberapa menit. Saat keluar, dia mendapati Alisha belum juga menyelesaikan tugas darinya.


Alisha sangat ketakutan kala melihat Angga sudah keluar. Sementara koper suaminya itu baru terisi setengah. Dia semakin takut ketika Angga mendekatinya.


“Mengurus begini saja kamu tidak becus.”


“Maaf kak,” balas Alisha sesenggukan.


Angga menariknya. “Ampun kak,” ucap Alisha yang berpikir akan dicekik lagi.


Angga langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Alisha. Pagutan itu baru terhenti saat gawai Angga berbunyi. “Manis,” ucap Angga setelah melepaskan bibir Alisha.