Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Bikin Anabel Cemburu



Suara keroncongan yang bersumber dari perut Alisha, membangunkan Angga dari tidurnya. “Kamu lapar ya?” tanyanya pada Alisha yang sedari tadi tidak bisa tidur karena menahan rasa laparnya.


“Iya kak,” jawabnya cengengesan.


“Makan nabe mau?”


“Apa itu nabe?”


“Ikut saja! Nanti kamu lihat sendiri.”


“Aku sudah janjian dengan Murad untuk makan ramen kak.”


“Oh, jadi begitu ya. Kalian berdua janjian tanpa seizinku.”


“Kalau kakak tidak mengizinkan, ya tidak jadi.”


“Kita makan ramen saja.”


Mereka berdua kini melenggang keluar dari kamar, Murad turut serta keluar dari hotel. Menyusuri bangunan-bangunan yang diselimuti salju, demi menuju kedai ramen.


Langkah Alisha terhenti di depan sebuah kuil. “Saljunya cantik sekali, foto yuk kak.”


Angga mengangguk, kemudian menyerahkan gawainya ke Murad. “Foto kami,” ujarnya lalu berlari kecil untuk memeluk Alisha.


Alisha yang mendapat perlakuan itu secara tiba-tiba, tersentak kaget. Ini nyata? Kak Angga memelukku di luar? Di depan Murad? Wow.


Angga menegur Alisha yang termenung.


“Kenapa diam saja?”


“Tidak apa-apa kak. Cuacanya dingin sekali ya?”


“Iya. Kamu tidak mau balas pelukanku?”


Alisha membulatkan matanya. “Hah?”


“Cepat! Tidak usah malu-malu!”


Murad memfokuskan gawainya pada pasangan suami istri di hadapannya itu. Bermesraan di depan jomblo yang baru saja ditinggalkan kekasihnya. Another part of akhlakless ini mah.


“Coba lihat hasilnya!” tutur Angga seraya memajukan tangannya ke depan.


“Bagus.”


Lontaran yang keluar dari mulut Angga, bikin Alisha jadi penasaran. Dia ikut memperhatikan hasil jepretan Murad barusan. “Marvelous, aku send ke WhatsAppku ya kak.”


“Iya, jangan diunggah di sosmed ya!”


“Kenapa tidak boleh? Kakak malu ya mengakuiku sebagai istri, di hadapan orang banyak?”


“Bukan begitu sayang. Let me tell you alasannya. Nila adik angkatnya Devan.”


“Adik angkatnya? Masa’ sih kak? Waktu Devan mengadakan syukuran kenaikan jabatan, Nila tidak kelihatan di situ.”


“Mungkin Nila sedang bertugas di rumah sakit hari itu.”


“Di rumah sakit? Nila seorang tenaga medis?” tanya Alisha tidak percaya. Pasalnya, malam itu Nila mabuk-mabukan sesuka hati.


Angga mengangguk. “Terus apa hubungannya dengan tidak boleh mengunggah foto?”


“Devan akan tahu kita di Jepang tepat di hari kematian Nila. Para polisi juga pasti akan mencurigaiku.”


“Oh, begitu toh. Okay, aku tidak akan mengunggahnya di sosmed.” Tapi tetap akan kukirim melalui sosmed.


Tidak hanya mengirim foto. Alisha juga mengirim kontak Anabel ke nomornya. Kamu pasti merasa menyesal pergi ke Bali kak.


Dia pun mengirim foto mesranya bersama Angga ke kontak Anabel. “So sweetnya kekasihmu ini. Dia sangat mencintai istrinya.”


Anabel yang memang sedang berselancar di sosmed, langsung mengecek isi chat dari nomor yang tidak dia save di gawainya itu.


“Foto Alisha dan kak Angga? Ini pasti nomor perempuan sialan itu.”


Tanpa pikir panjang, dia langsung menghubungi Angga. “Kenapa tidak cerita kalau kakak mau ke Jepang? Sengaja ya? Supaya kakak bisa pergi berdua sama Alisha.”


“Aku ke Jepang mendadak sayang. Tidak berdua, ini ada Murad juga.” Angga mengarahkan gawainya ke wajah Murad.


“Sudah dulu ya. Aku lapar, mau makan.”


“Kak Angga, ihhh malah dimatikan. Mentang-mentang lagi sama Alisha. Awas saja kamu Alisha, aku tidak akan tinggal diam. Apa pun yang terjadi, kamu tidak boleh merebut kak Angga dariku.”