
Devan kembali duduk, ia merenung agak lama. Kemudian berdiri setelah beberapa menit berlalu. “Siapkan obat bius sekarang!” perintah nya sebelum berjalan ke ruang rahasia.
Langkah Devan kini menghiasi ubin-ubin putih di sepanjang jalan ke ruang rahasia. Tak begitu jauh melangkah dari tempat duduk itu, sang dokter menyusul nya.
Hingga tibalah mereka di ruang rahasia, dimana di dalam ruangan itu terdapat obat-obatan ilegal milik si dokter. Atas perintah Angga, sang dokter pun mulai meracik bahan-bahan kimia untuk dijadikan obat bius.
“Untuk apa obat ini?” tanya nya setelah racikan nya itu berhasil.
Belum sempat menjawab pertanyaan sang dokter, gawai Devan tiba-tiba berdering. Mengakibatkan ia menerima panggilan telepon itu terlebih dahulu.
“Gawat Van, Riki berhasil mendeteksi posisi Angga. Kata nya Angga menuju ke Indonesia sekarang. Dia pasti mau merebut Alisha lagi, Van.”
“Baguslah kalau begitu. Memang itu yang kumau.”
“Aku tidak salah dengar kah? Tumben kamu tidak takut kehilangan Alisha.”
“Alisha bukan siapa-siapa lagi di mataku Roy. Kali ini dia akan kujadikan umpan untuk menangkap Angga. Sudah dulu ya, aku mau menyusun strategi dulu. Kabari saja kalau ada pergerakan Angga yang mencurigakan!”
“Ok, siap Van!”
Devan menyimpan kembali gawai nya di saku baju. Lalu dengan cekatan mengambil obat bius yang baru saja diracik dokter itu.
Ia pun keluar dari ruang rahasia untuk melangkah ke kamar Alisha. Setibanya di kamar, Devan langsung membius Alisha yang lengah.
Kemudian mengangkat tubuh Alisha yang tak sadarkan diri itu ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan teka-teki. Ruangan itu telah lama ia rancang guna melakukan perlawanan pada Angga.
Setelah hitungan jam, Alisha akhirnya tersadar. Ia spontan menatap ke depan, mulut nya menganga tak percaya kala melihat perempuan yang berpakaian dokter tadi itu ternyata Nila.
“Kamu pasti kaget kan karena aku masih hidup?” ujar Nila lalu tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa kamu mengurungku di sini Nila?” gertak Alisha.
“Jangan macam-macam padaku Nila! Aku akan minta Devan untuk mengeluarkanku dari sini. Kamu pasti akan dimarahi habis-habisan nanti.”
“Devan tidak peduli sama kamu lagi Alisha. Berdoa saja supaya si Angga, suami bodohmu itu bisa menyelamatkanmu dari sini.”
Tak lama setelah hinaan itu terlontar dari mulut Nila, Devan pun menghampiri Alisha.
“Apa maksud dari semua ini Van? Kenapa kamu mengurungku?” tanya Alisha dengan tatapan sayu nya.
“Aku tidak membutuhkanmu lagi Alisha. Mulai sekarang, hanya Nila satu-satunya perempuan yang ada di hatiku.”
“Kamu jahat Van! Ternyata kamu lelaki yang tidak punya hati.”
“Semua juga karena kamu, Sha. Andai saja kamu tidak mengandung anak Angga. Aku pasti tidak akan tega memperlakukanmu seperti ini.”
Di saat yang sama, Angga sudah berhasil menemukan tempat penyekapan Alisha atas bantuan Miland. Tanpa menunggu lagi, Angga langsung melompat dari jet dan berlari ke gedung yang ada di depan nya.
Terlalu cinta membuat nya jadi tidak was-was di situ. Yang ia pikir hanyalah bisa menyelamatkan Alisha, jadi tak mempertimbangkan lagi sisi negatif dari perbuatan nya itu.
Angga pun tiba di suatu ruangan berdindingkan kaca yang transparan. Sehingga dengan jelas ia bisa melihat istri tercinta nya disekap di dalam.
Angga pun bergegas membuka pintu ruangan itu dengan menggunakan kunci yang tergantung di dekat pintu.
Baru saja melepaskan ikatan tangan Alisha di dalam, tembakan langsung mengenai dada Angga. Membuat lelaki ini tersungkur seketika.
Alisha langsung menoleh dengan cepat ke arah tembakan berasal. Betapa tak percayanya ia saat melihat Devan, lelaki yang ia jamin kebaikan hatinya selama ini tengah memegang senapan.
Jika saja bukan karena masih memiliki sedikit rasa kasihan untuk Alisha, Devan pasti sudah menembak nya juga. Tapi karena masih memiliki rasa iba, Devan dan Nila meninggalkan gedung itu tanpa melukai Alisha juga.
Saat akan keluar juga, ruang rahasia itu kembali terkunci. Sehingga Alisha dan Angga tak bisa keluar dari nya.