Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Musuh Jadi Cinta



Mentari mulai tergelincir, Alisha memang sengaja tidak bangun subuh hari ini. Menstruasi membuat nya sedikit malas untuk bangun lebih awal, karena ia juga tak harus bangun untuk melaksanakan shalat subuh.


Alisha langsung berbalik ke samping untuk memeriksa keadaan Angga. Di luar dugaan nya, Angga ternyata sudah tidak di situ lagi.


‘Kemana ya dia? Biasanya juga tidur pagi.’


Alisha duduk sebentar, mengumpulkan tenaga untuk melawan rasa malas nya yang kian membuncah kala menstruasi. Mood nya membaik, ia pun berjalan ke kamar mandi.


Ia mandi dengan durasi yang tak begitu lama. Tak lupa juga mengganti pembalut nya yang sudah mulai dipenuhi cairan merah.


Ia lalu memakai baju, tentunya bukan baju Anabel yang diberikan langsung oleh Angga tadi malam. Baju itu hanya akan ia gunakan saat di kamar. Saat keluar, ia akan mengenakan pakaian syar’i nya.


Lagian, menurut nya, ia tidak akan lama memakai gaun milik Anabel. Karena ia yakin, Devan pasti akan menemukan nya suatu hari nanti.


Entah kapan, tapi cepat atau lambat, Devan pasti tak akan menyerah untuk merebut nya kembali dari Angga.


Alisha melangkah keluar kamar, rupanya Angga sedang bermusyawarah dengan anggota-anggota nya. Ia terdengar lugas saat berbicara, namun mimik wajah nya tak bisa menyembunyikan betapa besar kesedihan nya saat ini.


“Kita harus minta bantuan Yakuza bos,” saran Murad.


“Jangan, mau disimpan dimana harga diri kita sebagai mafia? Kalau kasus antar perorangan ini kita selesaikan secara berkelompok.”


“Terus kita harus bagaimana bos?” tanya anggota lain.


“Kita harus membaca situasi di sana dulu. Siapa saja di antara kalian yang punya keluarga di Italia?”


Ada tujuh orang yang mengangkat tangan, termasuk sang koki. “Sally, kali ini kamu yang akan membantuku menyelesaikan misi ini.”


“Aku? Bos sedang bercanda kan?”


“Apa menurutmu aku sedang bercanda?” tanya Angga dengan memasang wajah jengkel nya.


“Tidak, tapi apa yang bisa kubantu bos? Bos sendiri kan tahu, aku memilih jadi koki karena berbeda dari yang lain.”


“Justru karena itu, kali ini kita akan bermain cantik. Tugasmu adalah menjadi mata-mata kami di markas Dominic. Cari tahu, apa sebenarnya hubungan antara Anabel dengan Dominic.”


“Cara masuknya bagaimana bos?”


“Yang bertujuh tadi, siapa di antara kalian yang keluarga nya kenal dengan Dominic?”


Ketujuh anggota itu membisu. “Begini saja, aku kasih kalian waktu sejam untuk tanya-tanya ke keluarga kalian yang tinggal di Italia.”


Tujuh orang itu pun mengambil gawai nya.


Menghubungi keluarga nya masing-masing. Sejam berlalu, Angga kembali bertanya.


“Sally, info apa yang kamu dapat dari keluarga mu?”


“Salah satu pamanku bekerja pada Dominic. Katanya, Dominic butuh koki yang banyak saat ini.”


“Kamu harus daftar, Sally. Pagi ini juga anak buah kita antar kamu ke rumah paman mu itu. Biar dia yang temani kamu daftar jadi koki nya Dominic.”


“Maksud bos, aku harus kerja sama dengan pamanku?”


“Tidak, jangan biarkan pamanmu tau tentang misi kita. Biarkan dia berpikir kalau kamu benar-benar butuh kerjaan itu.”


“Baik, bos.”


“Pakai ini saat kamu bekerja nanti.” Angga menyerahkan sepatu yang telah dilengkapi penyadap ke Sally. Ia juga memberikan beberapa pisau lipat pada nya.


“Kalau pisau ini, fungsi lain nya apa bos?”


“Ini bom, ledakkan setelah kamu dapat info yang banyak tentang hubungan Anabel dan Dominic. Jangan lupa letakkan satu pisau ini di ruangan khusus milik Dominic."


Pagi itu juga, Sally dikirim ke Italia. “Aku butuh kerjaan paman,” ungkap nya setelah tiba di Italia.


“Kerjaan? Kamu suka memasak kan?”


“Iya.”


“Tapi apa, paman?”


“Kami ini mafia. Tidak boleh terekspos ke aparat. Aku akan merekomendasikan mu untuk kerja di sana, asal kamu janji tidak akan pernah membeberkan tentang kami ke publik.”


“Siap, paman. Aku janji tidak akan buka mulut.”


“Bagus. Ikut aku, kita ke markas sekarang.”


Sally pun ikut bersama paman nya. Tak lama, mereka tiba di markas yang lebih mirip pagoda itu. Gedung yang merupakan saksi bisu aksi heroic Angga dan Murad melompat dari lantai dua , demi melepaskan Anabel dari belenggu Dominic.


“Apa tujuanmu ke sini?” tanya Dominic setelah Sally dan paman nya tiba di ruangan khusus milik Dominic.


“Begini bos, ini keponakanku. Dia mau melamar jadi koki di sini.”


“Boleh saja, asal dia bisa jaga mulut.”


“Kalau itu, dia sudah menyanggupi nya bos.”


“Masih ada satu lagi. Dia harus dites dulu sama koki senior di sini. Kalau koki seniorku bilang iya, barulah keponakanmu ini kuterima. Bagaimana? Sanggup tidak?”


“Sanggup bos,” jawab Sally cepat.


Sally lalu diantar ke dapur. Di situ, ada koki senior yang tengah memberikan arahan kepada para koki baru. “Mau apa ke sini?” tanya koki itu keheranan pada Sally dan paman nya.


“Keponakanku mau ikut tes jadi koki. Bos menyuruhku mengantar nya ke sini untuk kamu tes.”


“Oh, begitu. Kami hanya kekurangan koki pembuat cake. Kamu bisa buat cake tidak?”


“Bisa madam.”


“Kita tes dulu ya. Kamu harus buat cake yang enak kalau mau lulus. Silakan buat cake apa pun dengan bahan-bahan yang tersedia di sini.”


Sally kini memainkan jari-jemari nya, mengolah bahan-bahan mentah di dapur itu menjadi cake yang disenangi sang koki senior.


Kali ini, ia membuat chocolate cake. Dimana coklat nya adalah venchi, coklat yang memang berasal dari Italia.


Waktu terus berdetik, hingga tak terasa, cake buatan Sally ternyata sudah jadi. Ia bergegas meniriskan nya, lalu meletakkan nya di depan koki senior.


Sang koki memasukkan suapan pertama ke dalam mulut nya. Mengunyah nya perlahan agar tetap terlihat slay, no bar-barly. “Enak, cake buatan kamu ini amazing. Kamu bisa bekerja mulai hari ini. Selamat ya, kamu diterima!”


“Yes, lulus. Terima kasih madam.”


“Don’t mention it.”


Sejak saat itu, Sally menetap di markas untuk menjadi koki khusus membuat cake. Sambil menggali informasi tentang Anabel.


“Kenapa sih kita dilarang ke lantai dua?” tanya nya pada koki lain setelah bekerja beberapa hari di situ.


“Lantai dua itu ruangan khusus untuk menyandera musuh-musuh nya bos.”


“Serius? Masa’ sih?”


“Iya, baru-baru ini saja ada sandera yang berhasil lolos. Untung bos bisa menembak nya saat kabur.”


“Kasihan sekali ya.”


“Hush, jangan bicara begitu. Kalau bos dengar, kamu bisa dipecat dan dibunuh seperti tawanan itu karena dianggap penyusup.”


“Sadisnya, kesalahan tawanan itu apa sih?”


“Katanya si tawanan yang kabur itu dulunya anak buah bos. Dia dikirim untuk memata-matai salah satu cucu mantan mafia. Eh, dia malah berkhianat.”


“Berkhianat bagaimana?” tanya Sally semakin penasaran.


“Dia itu disuruh membunuh cucu mantan mafia asal Indonesia. Bukan nya membunuh, dia malah melindungi nya karena cinta. Begitulah kalau orang sudah dibutakan cinta, logika nya tidak jalan.”


“Tapi hati nurani nya yang jalan,” celetuk Sally. Membuat Angga yang mendengar nya di Jepang, merasa tidak terlalu terbebani dengan aksi Anabel yang melindungi nya dari kejaran Dominic.