
Elusan Angga berhasil membuat Alisha tertidur. Sesaat setelah itu, gawainya bergetar. Rupanya Murad kembali menghubunginya. Angga menolak panggilan itu.
“Lewat chat saja! Kasihan Alisha kalau saya berisik, dia bisa bangun nanti. Ada informasi apa?”
“Anggota lain mendesak saya untuk menanyakan ini bos. Katanya kapan kita akan menculik Dhafa Abraham?”
“Bilang ke mereka nanti malam, kalau Alisha sudah sembuh. Kalau tidak, lain hari lagi. Bilang juga ke anggota yang lain, kalau yang kita hadapi kali ini adalah seorang jenderal polisi. Jadi jangan ada yang bertindak gegabah.”
“Siap, bos.”
Malamnya, kondisi Alisha sudah membaik. Angga yang mengkhawatirkan kondisi istrinya itu, menyuruh mbok Murni untuk menemani Alisha tidur di kamar tamu.
“Kalau ada apa-apa, cepat bilang ya mbok. Saya ada di kamar.”
“Iya tuan.”
Setibanya di kamar, Angga mengaktifkan laptop. Angga juga mengirim perintah pada Murad untuk segera melakukan penculikan malam ini.
Dhafa Abraham merasa sedang dibuntuti di perjalanan pulang. Dia yang ketakutan, mempercepat laju mobilnya. Walau begitu, pengemudi mobil yang ada di belakangnya tetap mengejar.
Sang jenderal terus ngebut untuk menghindari kejaran si pengemudi bertopeng itu. Lagi panik-paniknya melarikan diri, tiba-tiba ada dua mobil yang menghadangnya dari arah depan.
Tak ada jalan lagi bagi pak jenderal untuk melarikan diri. Semua jalan sudah diblock oleh anggota Angga.
“Keluar sekarang juga!” teriak Murad.
Pak Dhafa tidak menghiraukan gertakan itu. Dia malah mengambil pistol, bersiap untuk melakukan perlawanan dari dalam mobilnya.
Murad mengarahkan pistolnya ke arah pak Dhafa. “Jangan coba-coba melawan pak! Anda hanya sendiri di sini, tidak akan bisa mengalahkan kami yang banyak. Jadi silakan turunkan senjata Anda sebelum batas kesabaran saya habis!”
Jenderal polisi itu bergeming, memikirkan cara untuk melarikan diri di tengah-tengah suasana genting itu.
Murad yang sudah teramat murka langsung menembak kaca mobil sang jenderal. “Dalam hitungan ke lima, Anda belum juga membuang pistol itu. Saya putuskan telinga Anda dengan beberapa tembakan. Satu, dua, ti-”
“Tiga, saya menyerah.”
Pak Dhafa keluar dari mobil. Dia membuang pistolnya, kemudian mengangkat tangan ke atas. Murad mendekatinya untuk memborgol tangan.
Sang jenderal segera dibawa ke markas untuk diinterogasi oleh para mafia ini. “Dhafa Abraham sudah kami lumpuhkan bos,” lapor Murad setibanya di markas rahasia itu.
“Langsung interogasi! Jangan segan-segan untuk memukulnya kalau dia tidak mau diajak bekerjasama.”
“Siap, bos.”
“Saya tidak kenal orang itu.”
Murad menghantam kepala pak Dhafa dengan pistol. “Masih tidak kenal?”
Pak Dhafa membisu. Murad lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajahnya.
“Hentikan! Saya akan cerita semuanya.”
Belum sempat bercerita, tiba-tiba terdengar suara dari luar. “Tempat ini sudah kami kepung. Semua yang ada di dalam keluar sekarang juga,” teriak Devan yang geram karena ayahnya ditawan.
Murad mengarahkan anggotanya untuk kabur melalui pintu rahasia, yang hanya anggotanya saja yang tahu. Tak di duga, di depan pintu rahasia itu ternyata sudah banyak polisi yang menghadang.
Murad melemparkan granat untuk mengecoh fokus para polisi yang berjaga di pintu itu. Efek dari ledakan itu cukup membantu bagi Murad dan anggota lain untuk melarikan diri.
Mereka masuk ke mobil dan akhirnya kejar-kejaran dengan polisi. Di kondisi yang terdesak itu, Murad buru-buru menghubungi Angga.
“Kami akan tertangkap bos,” ucapnya lirih.
“Tetap tenang Murad! Kamu tidak akan tertangkap, asal mengikuti arahanku."
Melalui monitor laptopnya, Angga mengarahkan Murad dan bawahannya yang lain menuju markas yang lain.
“Kami harus bagaimana bos?”
“Jalan terus sampai ketemu toko bangunan Ramai dan Berkah.”
“Kami sudah di sini. Belok kanan apa kiri bos?”
“Belok kiri sampai ketemu PT. Walet Urung Berjaya. Setelah itu, belok kanan.”
Beberapa menit kemudian. “Kami sekarang berada di gang SD Luar Biasa, belok kiri atau terus bos?”
“Terus sampai ketemu salon Natural Beauty, belok kanan.”
Murad dan yang lain langsung memasukkan mobilnya ke garasi, yang di depannya telah menunggu salah satu lelaki yang menemani Mateo ke markas malam itu.
Semua mobil sudah masuk. Dengan cepat Miland mematikan lampu di garasi itu. Devan yang melakukan pengejaran akhirnya kehilangan jejak.
“Para bedebah sialan. Kalian bisa lolos kali ini. Di kesempatan lain, kalian lah yang akan bertekuk lutut di hadapanku.”