Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Bertemu Teman Suami



“Kita berhasil mengelabui mama,” ungkap Angga senang.


Dia berharap Alisha akan menyahutinya, tapi nyatanya Alisha malah diam saja. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut istrinya itu.


Tumben gadis cerewet ini diam saja. Angga lalu mendekatkan wajahnya ke Alisha. Disuruh pura-pura tidur malah tidur beneran. Tapi, anak ini manis juga ya kalau tidur. Apa-apaan ini? Kenapa aku memuji dia?


Angga yang tak ingin khilaf segera menjauhkan diri dari Alisha. Entah kenapa, dia jadi ketularan mengantuk setelah melihat Alisha tertidur pulas.


Angga menutup matanya, dia bersiap untuk tidur. Tapi tidak jadi, karena seseorang menghubunginya lagi.


Sudah mau tidur, masih saja ada yang menelepon. Angga memperhatikan nama si penelepon. Oh, Murad.


“Ada apa Murad?” tanyanya kesal.


“Maaf mengganggu malam pertamanya bos. Saya mau menginfokan kalau di markas ada beberapa anggota yang datang dari Italia. Mereka mau minta maaf secara langsung karena tidak sempat hadir di pernikahan bos tadi.”


“Jamu mereka dengan baik! Bilang, saya akan secepatnya ke situ.”


“Baik bos.”


Murad langsung memesankan makanan dan minuman khas Italia untuk tamu-tamu istimewanya itu. Angga juga tak tinggal santai, dia langsung membangunkan Alisha dengan mengguncang tubuh perempuan itu.


“Hey, bangun!” tuturnya dengan intonasi keras.


“Mau apa lagi kak? Saya sudah melakukan semua yang kakak minta. Please lah kak, jangan ganggu saya terus. Saya capek, ngantuk sekali kak.”


“Saya juga capek. Cepat bangun!” titah Angga. Dengan sengaja dia menarik selimut yang menutupi tubuh polos istrinya itu agar mau bangun.


Alisha yang menyadari itu langsung berteriak. “Aaaa, kak Angga.”


“Makanya, kalau dibilangin langsung mendengar. Cepat kamu pakai baju! Kita keluar, teman-temanku mau ketemu kamu.”


Angga yang sudah sangat terbiasa, langsung melepas celananya tanpa menghiraukan tanggapan Alisha. Hingga yang tersisa saat ini di tubuhnya hanyalah under pantsnya.


“Aish kak Angga, kenapa buka celana di depanku?”


“Lagi buru-buru ini. Sejawatku dari Italia sudah menunggu. Cepat kamu pakai baju juga!”


“Ngapain ketemu teman kakak yang minus akhlak. Sudah tahu pengantin baru, malah diajak meet up.”


“Oh, jadi kamu menolak meet up dengan teman-temanku karena kamu mau kita malam pertama? Okay kalau begitu, ayo kita malam pertama sekarang juga.” Angga berbalik untuk mendekati Alisha.


Refleks, Alisha menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Iya, iya. Saya pakai baju sekarang. Kita meet up dengan teman-teman kakak.”


“Serius mau pakai itu?” tunjuk Angga pada hijab Aisyah.


“Serius lah kak. Seperti tato yang menjadi identitas kakak, hijab adalah identitasku.”


“Kukira hijab cuma dipakai oleh perempuan yang baik. Yang tutur katanya lembut dan menyenangkan saat dipandang. While you, kata-kata yang keluar dari mulutmu tidak ada filternya. Memandangmu juga bikin sakit mata,” ledek Angga.


“Kukira tato cuma dimiliki oleh lelaki yang cool. Yang bodynya seksi dan terlihat misterius di mata orang yang melihatnya. While kaka, tidak ada coolnya sama sekali. Memandang kakak juka bikin mata perih. Dan satu lagi, jangan sok munafik kak! Jelas-jelas tadi kakak melihat buahku terus,” ledek Alisha balik.


Angga tak mau kalah. “Kamu juga melihat dadaku terus.”


“Yeee kePDan, yang kulihat itu tato kakak. Bukan dada kakak, iyyuhh.”


“Tatoku atau bodyku yang seksi?” ujar Angga seraya mengedipkan mata ke arah Alisha.


“Susah ngomong sama kakak.”


“I don’t care. Anyway, kita pergi sekarang.”


Kedua pasangan suami istri yang sering cekcok itu, akhirnya melangkah ke garasi. Sesampainya di situ, Alisha membuka pintu mobil.


“Yakin mau duduk di belakang?” tanya Angga guna menakut-nakuti Alisha.


“Yakin dong,” jawab Alisha mantap.


“Nanti kalau ada makhluk tak kasat mata yang meraba kamu di terowongan, jangan histeris ya!”


“Makhluk? Tinggal panggil Shinbi dan kawan-kawannya untuk menangkap makhluk terkutuk yang ada di terowongan, beres deh masalahnya.”


“Pantas sikapmu kekanak-kanakan, ternyata karena kamu suka nonton kartun.”


“Mending aku lah suka nonton kartun. Daripada kakak, suka nonton penderitaan orang lain.”


“Sarkas terus ya kamu. Cepat masuk! Mau


duduk di depan atau di belakang, terserah kamu saja. Yang penting kamu ikut.”


Alisha tetap kukuh mau duduk di belakang. Dia sungguh enggan untuk duduk di samping suaminya, yang dulu adalah senior yang sering dia bully di sekolah.


Tapi sekarang, Angga benar-benar sudah berubah seratus delapan puluh derajat di matanya. Jangankan membully, menghina Angga saja Alisha sudah tidak seberani saat dia masih SMA dulu.