
Angga keluar dengan perasaan amarah. “Gara-gara kamu, anakku mati.”
Marah dan takut menyelimuti Alisha saat Angga memakinya. Marah karena keguguran Anabel bukan salahnya. Takut karena Angga pasti akan lebih brutal lagi dalam menyiksanya.
Alisha bergeming, dia benar-benar tidak tahu dengan cara apa lagi dia menjelaskan kebenarannya pada Angga. Hingga cercaan demi cercaan Angga lemparkan padanya, yang telah sesenggukan karena ucapan suaminya itu.
Menimbulkan perasaan iba di hati Miland yang turut menyaksikannya. Ia sudah tak tahan lagi dengan penindasan Angga pada Alisha.
“Alisha bilang, Anabel yang mengganggunya duluan. Jadi dia melawan, eh ternyata Anabel yang jatuh. Come on bro, ini bukan salah Alisha tapi Anabel.”
“Jangan mentang-mentang kamu suka sama Alisha, kamu membelanya habis-habisan. Perempuan ini tidak sebaik yang kamu kira, Miland. Dia licik, sampai tega mendorong Anabel karena cemburu.”
“Kata-kata itu seharusnya kamu kembalikan ke dirimu sendiri bro. Cinta pada Anabel sudah membutakan mata hatimu. Kalau kamu memang benci sama Alisha, ceraikan saja dia. Biar aku bisa menikahinya.”
Alisha yang tak sanggup mendengar percekcokan dua lelaki itu, berdiri dari
duduknya. “Mau kemana?” tanya Miland cepat.
“Pulang, kak.”
“Aku antar ya.”
Alisha diam saja. Meski begitu, Miland tetap mengikutinya. Lelaki itu mengambil mobil, lalu memberhentikannya tepat di depan Alisha.
“Masuk! Tidak baik perempuan pulang malam sendirian.”
Ucapan Miland terdengar sangat masuk akal, menyebabkan Alisha membuka pintu mobil. Kemudian duduk di dalamnya.
Menghirup aroma California Car Scents, perlahan menenangkan pikirannya. “Jangan ke rumah kak Angga! Ke rumahku saja kak,” tegurnya saat di persimpangan.
“So, show me your home way!”
Alisha mengarahkan Miland. Tibalah mereka di hunian yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kediaman Angga juga Miland.
“Terima kasih kak.”
“Sama-sama. Kalau ada masalah, hubungi aku ya. Pasti akan kubantu.”
“Iya kak.”
Yang berbeda hanyalah perasaannya. Jika dulunya selalu merasa aman saat di rumah.
Kini was-was, jangan sampai Angga mencelakai keluarganya karena kepergiannya dari rumah.
Awalnya, semua baik-baik saja. Ketakutannya tidak terjadi sama sekali. Sepekan pergi dari rumah, tidak membuat Angga datang mencarinya.
Sayangnya, itu justru menimbulkan kecurigaan di antara anggota keluarganya. “Kamu pergi lama begini, sudah izin suamimu kah Sha?” tanya bu Renata.
“Tidak ma, justru kak Angga yang suruh aku ke sini. Katanya biar tidak stress jadi bumil.”
“Bumil? Kamu hamil?” tanya pak Radit.
“Iya pa.”
“Alhamdulillah, anak kita hamil ma. Semoga jadi anak yang berbakti yah nak.”
Kebahagiaan terpatri di wajah orang tuanya.
Berbeda dengan sang kakak. Amanda menarik tangan Alisha. “Ikut aku ke kamar. Ada yang ingin kubicarakan.”
“Kamu hamil anak Angga?” bentak Amanda di kamar.
Alisha mengangguk cemas. “Ini semua bukan
kemauanku kak,” tuturnya kemudian.
“Bukan kemauanmu kamu bilang? Dasar munafik!” Amanda mendaratkan tamparan pada pipi adiknya itu.
“Aku serius kak. Aku tidak pernah mengingkari janjiku ke kakak.”
“Pembohong. Pergi dari rumah ini sekarang! Sebelum janinmu itu mati di tanganku.”
Alisha terpaksa meninggalkan rumah itu. Perasaannya hancur, sekarang tak ada lagi rumah lain yang bisa ia tuju selain rumah Angga.
Perasaannya makin hancur saat mendapati Anabel dan Angga sedang asyik-asyiknya bermesraan di kamar. Spontan, pikiran Alisha tertuju pada danau di samping rumah.
Dia bergegas ke danau itu. “Lebih baik aku mati saja,” lirihnya yang tanpa pikir panjang langsung menceburkan diri.