
“Apa solusi nya?” tanya Alisha tidak sabaran.
“Menurut Dr. Dweck cara mengatasi nya adalah dengan menggunakan antibiotik. Bisa juga menggunakan kompres hangat di area tersebut.”
“Aku begini karena ulah mu. So, bantu aku kompres hangat.”
“Manja sekali. Kamu saja sendiri.”
“Bagaimana tidak manja? Aku tidak bisa bergerak ini.”
“Ya sudah, tunggu sebentar! Aku ambil handuk dan air hangat dulu.”
Usai berkata seperti itu, Angga langsung berjalan ke dapur. Ia tiba di ruang mengolah makanan itu, bertepatan saat Sally sedang memasak.
“Cari apa bos?” tanya Sally pada nya.
“Mau ambil air hangat.”
“Oh, bos mau minuman hangat ya. Mau dibuatkan apa bos? Ocha, matcha, atau mugicha?”
“Aku tidak haus. Aku cuman mau ambil air hangat.”
“Tidak haus tapi mau ambil air. Untuk kompres ya bos? Ya ampun, bos sakit yah?”
“Sakit mata mu? Jelas-jelas aku sehat begini, malah kamu bilang sakit.”
Angga yang kesal, langsung ke kamar setelah merasa air hangat untuk mengompres benda sobek milik Alisha sudah cukup.
Ia masuk kamar tanpa mengunci pintu. Lalu dengan cepat merapatkan pantat nya di atas ranjang, yang sprei nya terdapat bercak darah suci.
“Buka se-lang-kang-an-mu! Cepat!!!”
“Untuk apa?”
“Untuk mengompres anu mu.”
“Oh,” jawab Alisha. Sedetik kemudian, ia melakukan perintah Angga.
“Memangnya untuk apa lagi aku menyuruhmu membuka se-lang-kang-an, kalau bukan untuk mengompres ini?”
“KePDan sekali,” balas Alisha ketus. Ia memanyunkan bibir kemudian.
Angga kembali mendaratkan handuk yang telah ia celupkan dalam air hangat, ke gerbong kulit milik Alisha .
“Sobekan nya parah juga ya? Memang kuat sekali kereta ku ini. Sekali melaju, dua tiga lelaki terlampaui.”
Di tengah-tengah percakapan mereka, Sally datang menerobos masuk. Ia pikir Alisha sedang sakit, jadi ia memutuskan masuk. Dengan tujuan, mengetahui kondisi Alisha.
Spontan, Alisha berteriak histeris. “Sally, kenapa masuk tanpa permisi dulu?”
Mendengar nama Sally disebut, Angga
langsung berbalik. “Sally, lancang sekali kamu asal masuk kamar.”
“Maaf bos, pintu nya terbuka lebar. Jadi aku kira, kita semua boleh masuk untuk menjenguk Alisha.”
“Lain kali, kamu harus permisi dulu kalau mau masuk. Ngomong-ngomong, kamu jangan melihat istri ku terus. Lihat sendiri kan dia tidak pakai jilbab sekarang? Cepat keluar!!”
Dengan cekatan, Sally bergegas melenggang keluar. “Karena ketahuan telponan sama lelaki lain, istri nya langsung disosor. Bos, bos, gercep juga dia rupanya.”
“Shut up Sally! Suara mu kedengaran sampai di sini,” teriak Angga.
Lelaki melambai itu pun menutup mulut nya cepat. Ya ampun. Ternyata bukan cuman itu nya yang tajam, pendengaran nya juga. Lelaki luar biasa seperti dia memang sangat pantas jadi bos.
“Auu, sakit. Pelan-pelan dong! Pakai perasaan ngompres nya.”
“Ini sudah pelan kan?” tanya Angga setelah menjalankan arahan Alisha.
“Iya,” sahut Alisha. Masih dengan ekspresi meringis nya.
“Cepat sembuh ya sayang! Biar kita bisa naik gelanggang lagi. Soalnya John Cena ku ini sudah tidak sabar untuk beraksi lagi.”
Angga menatap ke arah bird nya kala menuturkan itu. Mengakibatkan Alisha jadi berkeringat dingin karena nya.
Aku bisa hamil kalau dia minta terus. Kalau hamil, Devan bakal membatalkan rencana pernikahan kami. Huftt, rumit sekali. Tapi kan Devan memang pasti sudah tidak menginginkan ku lagi. Mana mau dia sama aku yang sudah jadi bekas nya Angga?
Waktu berlalu dengan cepat. Mentari terbenam, dan terbitlah bulan. Malam ini, bulan membulat sempurna di langit sana. Seperti gairah Angga yang semakin rigid.