Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Marriage



Di langit sana, bulan dan bintang saling melengkapi. Tak seperti Alisha, yang hanya berkawan sepi, meski telah menyandang status sebagai pasangan Angga yang resmi.


Di bawah paparan purnama yang membulat sempurna, ia bersikeras menambal asa yang sudah kesekian kali menganga karena perlakuan Angga.


Suara jangkrik yang bergemuruh, tak mampu lagi menyamarkan isaknya yang tumpah. Kekejaman, pengkhianatan, hinaan, semua itu masih bisa ia pikul sendiri. Tapi ketahuan Rembulan, sungguh melukai maruahnya sebagai seorang istri.


Kendati itu hanya pernikahan yang berlandaskan pembalasan. Di lubuk hati yang terdalam, ia tetap ingin mengambil peran. Tapi apalah daya, ia hanyalah seorang istri yang tertawan.


Di depan danau yang tak selapang rasa sabarnya itu, Alisha menyeka bulir-bulir bening yang terus menetes di bawah netranya. Sembari berharap, hari esok akan lebih indah.


Usai menumpahkan semua gundah yang melekat di relung sukmanya, Alisha kembali ke kamar yang seharusnya Anabel lah yang bersemayam di situ.


Suara dua insan yang tengah memadu kasih di kamar sebelah, masih terdengar jelas di rungunya yang mulai jengah. Entah sampai kapan ia akan bertahan, menanggung penderitaan yang mulai tak layak untuk ia maklumkan.


Perlahan, kantuk membuai netranya yang sendu. Hingga ia terlelap di kamar, yang sebenarnya diperuntukkan untuk pengunjung sementara. Bukan untuk seorang pemilik sepertinya.


Di subuh hari, nyenyaknya terkalahkan oleh merdunya lantunan adzan dari arah surau. Tubuhnya yang ringkih mendekat pada air, meyucikan diri yang berlumur dosa.


Usai menyucikan diri, Alisha mengambil mukena yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya. Meski begitu, menurutnya mukena itu adalah kain ternyaman yang pernah ia kenakan.


Di atas sajadah berwarna coklat pekat, ia mengetuk pintu langit. Bersimpuh di hadapan Sang Pemilik Langit untuk meminta belas kasih. Barangkali ada sedikit kebahagiaan untuk ia cicipi hari ini.


Alisha mengangguk, mungkinkah itu jawaban Sang Kuasa untuk pintanya barusan? Entahlah, tak ada jaminan, bahwa sesuatu yang tampak membahagiakan akan benar-benar memberi kebahagiaan.


Angga melenggang keluar setelahnya. Alisha juga langsung mandi, berpakaian indah, dan tak lupa merias diri. Agar layak mendampingi sang mafia di perhelatan kakak anggotanya.


Tampak jelas, senyum Alisha berbinar saat menunggui Angga di ruang tamu. Mengalahkan sinar mentari pagi ini. Namun, senyum itu redup seketika. Tatkala Angga menghampirinya, dengan menggenggam tangan Anabel.


Lagi, ia memang perempuan strata pertama dalam pernikahannya. Tapi ia tetaplah yang kedua di hati Angga.


Angga menautkan tangan pada Anabel saat berjalan ke garasi. Sementara Alisha, ia menautkan tangan pada dada sendiri. Mengelus bagian luar rongga tubuhnya itu, agar bisa senantiasa bersabar.


Yang kedua, begitulah selalu posisinya. Di dalam mobil mewah itu, sang pangeran duduk di jok depan bersama selirnya. Sementara ia yang merupakan putri, duduk sendiri di jok tengah.


Di mata Angga, Alisha hanyalah perempuan biasa. Kalau pun menarik, mungkin hanya karena Alisha licik. Berbeda dengan mata lelaki lain seperti Miland. Bagi Miland, Alisha adalah perempuan cantik dengan kepribadian menarik.


Tidak adanya media yang meliput di pernikahan itu, membuat Angga dan Anabel bebas untuk terus bermesraan di khalayak. Tinggallah Alisha duduk seorang diri.


Miland yang jatuh hati, tak menyiakan kesempatan itu. Dia menghampiri Alisha untuk berbincang. Tak hanya percakapan, tawa pun tercipta di antara mereka. Semakin Alisha tertawa, semakin senang pula lah hati Miland.