
“Kenapa lama sekali kak?”
“Sekalian BAB juga,” bisik Angga di telinga Alisha. Membuat Devan yang masih sangat cinta pada Alisha memandang sinis ke arahnya.
“Makan dulu kak!” tutur Alisha seraya menyodorkan makanan ke Angga. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat mesra di hadapan khalayak.
Angga yang paham dengan tindakan Alisha, juga mulai bermain peran. “Suap dong sayang!”
“Iya sayang,” balas Alisha dengan senyum manis. Tapi kakinya menginjak kaki Angga dengan keras.
Selepas menikmati hidangan di perhelatan itu, Angga mengajak Alisha pulang. Tapi Alisha dan Rembulan masih betah di situ.
“Pulang sekarang atau aku buat keributan di sini,” bisik Angga.
Alisha segera bertindak. “Kami pulang dulu ya Van. Thanks untuk undangannya. Sukses terus ya.”
“Aaamiin. Thanks sudah mau datang.”
“Seharusnya kita yang berterima kasih,” balas Rembulan.
Mereka bertiga pun pulang. “Sha, aku main ke rumahmu boleh kan? Bosan di rumah terus,” ujar Rembulan di dalam mobil.
“Boleh dong, whenever you want. Just come, pintu rumahku selalu terbuka lebar tsayyy.”
“Baik banget bestie. What about your husband?” tanya Rembulan khawatir.
“Boleh lah, temannya juga sering datang ke rumah kok. Keep calm Lan, kamu datang setiap hari juga boleh.”
Air muka Angga berubah seketika. Alisha saja sudah merepotkan, apalagi kalau ada temannya. Pasti lebih merepotkan.
Sesampainya di rumah, Rembulan melongo melihat ada Anabel di situ. “Sha, itu kak Anabel yang model ya?” Rembulan seakan tak percaya bisa bertemu langsung dengan Anabel.
“Iya, kak Anabel yang model itu.”
“Ngapain dia di rumah kamu Sha?”
“Dia sering ke sini, coz dia teman bisnisnya suamiku.”
“Aku akan sering-sering ke sini kalau gitu. Lain kali, hubungi aku ya kalau kak Anabel datang. Aku mau ajak keluargaku juga, mereka fans banget soalnya sama kak Anabel.”
“Okay.” Ide bagus itu. Biar mereka tidak bisa main kuda-kudaan ha ha.
Alisha tersenyum kecut. Keren apanya? Model papan atas kok bisnis perlendiran, sama suami orang lagi. Gatalnya minta digaruk pakai garpu.
“Kenapa tidak pernah cerita kalau rumahmu sebagus ini? Kamu selalu bilang suamimu orang yang biasa-biasa saja,” imbuh Rembulan.
“Buat apa juga aku cerita Lan? Lagian kan ini rumah suamiku, bukan rumahku.
Penampilannya memang biasa saja.”
Alisha mengajak Rembulan masuk ke rumah. Angga yang sudah berganti pakaian tampak duduk berdua dengan Anabel di ruang tamu.
“Itu suamimu Sha?” tanya Rembulan tidak percaya.
“Iya, kenapa memang?”
“Baru kali ini aku lihat orang yang keren pas di rumah, tapi culun kalau keluar. Biasanya mah cool di luar, gembel di rumah. Ya ampun, suamimu gagah sekali Sha. Mauuu.”
“Mau?” tanya Alisha yang langsung dibalas anggukan oleh Rembulan. “Ambil saja!” lanjut Alisha dengan santainya.
“Nanti diambil orang, kamu pasti menyesal.”
Sama sekali tidak. Lelaki jenis murah meriah begitu banyak kok di pasaran. “Mau minum apa Lan?”
“Terserah Sha.”
Rembulan kemudian bergabung dengan Angga dan Anabel yang ada di ruang tamu. Sementara Alisha berjalan ke dapur untuk membuatkan minum.
Dia sengaja tidak menyuruh mbok Murni untuk membuatkan minum. Senyum liciknya merekah saat meramu minuman itu.
Dua minuman dia kasih gula. Duanya lagi dia kasih garam. Posisi minuman itu juga dia atur baik-baik. “Rasakan kalian dua ulet keket,” tuturnya lalu tertawa lepas.
Minuman itu kemudian Alisha bawa ke ruang tamu. Dua minuman bergaram dia kasih ke Anabel dan Angga. Sementara yang manis langsung dia minum. Satunya lagi juga langsung diteguk Rembulan.
“Aaahh, segar Sha. Pas banget, minum yang dingin-dingin di siang bolong begini.”
Alisha dan Angga juga minum. Baru meneguk sedikit, mereka langsung tatap-tatapan.
Angga menatap tajam ke arah Alisha setelahnya. Alisha, kamu selalu saja cari gara-gara denganku.