Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Alisha Vs Angga



Seperti tawanan yang tertangkap, begitulah kondisi Alisha saat masuk ke mobil Angga. Baru juga sehari melarikan diri dari Angga, dia sudah tertangkap.


Mereka kini dalam perjalanan pulang ke rumah. Beberapa menit kemudian, mereka tiba. Angga meminta satpam untuk membawa barang-barang Alisha ke kamar.


Angga yang memiliki banyak urusan di luar, kembali melajukan mobilnya. Sementara Alisha masuk untuk beristirahat.


Di kamar yang hening itu, Alisha mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Tapi tak satu pun momen yang dia ingat.


“Itu berarti ada kemungkinan saya akan hamil anaknya kak Angga. No, kalau saya hamil pasti lebih susah lagi untuk pisah dari dia. Saya harus ke apotek pulang kuliah nanti.”


Alisha mengecek jam. “Masih lama, mending tidur dulu.” Alisha menyetel alarm, lalu tidur.


Di kamar lain, mbok Murni menerima panggilan dari Angga. “Alisha ngapain sekarang mbok?” tanya Angga.


“Kurang tahu tuan.”


“Dia tidak kemana-mana kan?”


“Tidak, tuan.”


“Pantau terus pergerakannya ya mbok. Nanti saya hubungi lagi.”


“Iya, tuan.”


Dua jam berlalu, alarm yang disetel Alisha berbunyi. Dia segera bersiap-siap untuk ke kampus. Saat keluar dari kamar, mbok Murni menghampirinya.


“Mau kemana nyonya?”


“Kampus mbok. Kenapa ya tanya-tanya?”


“Saya disuruh tuan mengawasi nyonya.”


“Oh begitu, bilang ke dia saya ke kampus. Tidak kemana-mana kok.”


“Baik, nyonya.”


Alisha melenggang keluar dari rumah. Mbok Murni segera menghubungi Angga untuk memberitahukan informasi terbaru tentang Alisha.


“Terima kasih untuk informasinya mbok.”


Angga memutuskan panggilan ke mbok Murni dan mulai menghubungi Murad. Dia memintanya untuk mengawasi pergerakan Alisha.


“Baru kali ini bos kasih tugas begini. Biasanya juga memata-matai target,” ujar Murad setelah Angga memutuskan panggilan teleponnya.


Siang ini Alisha hanya memiliki satu kelas. Jadi Murad juga tidak harus berlama-lama menunggui Alisha pulang dari kampus. Saat ini, Murad melihat Alisha bersama dengan seorang perempuan.


“Yakin tidak mau ditemani?” tanya Rembulan.


“Iya Lan.”


“See you!”


Alisha melangkah ke apotek yang jaraknya tak jauh dari kampus. “Mau beli apa dek?” tanya si pemilik.


“Pil KB bu.”


“Tunggu sebentar ya! Saya ambilkan.”


Tidak lama setelahnya, si pemilik apotek memberikan pil yang diinginkan Alisha. Alisha mengambil pil itu, kemudian memberikan uang ke owner apotek tersebut.


Tak lama setelah Alisha pergi, Murad juga masuk ke apotek. “Perempuan yang tadi beli apa bu?”


“Pil KB.”


“Terima kasih ya untuk informasinya.”


“Sama-sama.”


Murad kembali ke mobil. Dengan sigap dia menghubungi Angga dan memberitahukan barang yang baru saja Alisha beli.


Berani sekali dia tidak mau hamil anakku. Alisha, Alisha, kamu benar-benar menantangku ya?


Di malam hari, Angga yang sudah selesai dengan urusannya langsung melajukan mobil ke rumah. Dia bergegas ke kamar.


Saat itu, Alisha sedang makan malam. Jadi Angga menggunakan kesempatan emas itu untuk mencari keberadaan pil yang dibeli Alisha tadi siang.


Pertama-tama, Angga membuka tas milik sang istri. Ternyata benar yang Murad bilang. Angga memasukkan lagi pil itu ke dalam tas.


“Kenapa kakak memegang tasku?” tanya Alisha. Mampus lah aku kalau kak Angga melihat pil itu.


“Pinjam buku dan pulpenmu ya.” Belum sempat Alisha melarang, Angga sudah mengeluarkan pil itu.


“Kenapa kamu beli pil KB? Kamu tidak mau melahirkan anakku?”


Alisha mengangguk, Angga mendekatinya. “Kenapa?” bentaknya.


“Saya tidak mau hamil anak kamu,” balas Alisha dengan suara meninggi.


“Awas saja kalau kamu minum pil ini. Foto telan-jangmu akan kusebar.”


“Jangan mengancamku terus kak!” teriak Alisha yang sudah benar-benar muak.


Angga memperlihatkan foto Alisha yang dia abadikan tadi malam. “Masih berani kamu macam-macam?”


“Hanya itu? Saya juga punya video kakak dan kak Anabel sedang bereproduksi.”


Berarti hari itu dia melihat semua yang kulakukan dengan Anabel. Dia juga mendengar percakapanku dengan Murad. Alisha tidak boleh kuremehkan, dia ternyata lebih licik dari yang kukira.