
Angga Menggendong Anabel, melewati ratusan tamu yang membuka jalan secara serentak untuknya. Memboyong ibu dari anaknya itu ke rumah sakit terdekat.
Alisha dan Miland turut menyusul pasangan ilegal itu. Melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, seperti Angga yang mengemudi di depannya.
“Kenapa Anabel bisa seperti itu?” tanya Miland di perjalanan. Pandangannya menatap ke depan, tangan kekarnya tak berhenti mengemudi.
Alisha membisu. “Kenapa diam saja?” tambah lelaki yang tengah duduk di sampingnya itu.
“Percuma juga kucerita.”
“Percuma kenapa?”
“Kamu pasti seperti yang lain kan? Curiga kalau aku yang mendorong Anabel.”
“No, kamu terlalu nethink Alisha. Sebaiknya kamu cerita, biar kubantu jelaskan ke Angga kejadian yang sebenarnya seperti apa. Kalau diam terus begini, orang-orang justru semakin yakin kalau kamu yang mendorong Anabel sampai jatuh begitu.”
“Kak Anabel yang mulai duluan. Dia marah karena kak Angga hampir menciumku tadi, jadi dia berusaha mendorongku. Tapi tidak bisa, karena aku melawan. Dia berniat mencelakaiku, tapi malah dia yang jatuh. Apa aku salah karena membela diri?”
“Tidak, yang kamu lakukan sudah benar. Kalau aku di posisimu, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama.”
“Jadi, kamu percaya sama aku?”
“Yup, of course.”
Selang beberapa menit, mereka tiba di area rumah sakit. Menyaksikan Anabel dilarikan ke ruang gawat darurat. Kemudian duduk di bangku tunggu.
“Kamu apakan Anabel sampai bisa seperti itu?” hardik Angga.
“Tidak usah sok polos Alisha. Aku tahu betul kamu selicik apa. Kamu pasti mendorong Anabel kan?”
“Apa untungnya aku mendorongnya? Aku juga manusia yang punya hati kak. Aku tidak akan melakukan perbuatan sekeji tuduhanmu itu.”
“Hah? Punya hati katamu? Apa kamu lupa semua perbuatan jahat yang kamu lakukan waktu masih SMA dulu?”
“Let bygones be bygones kak! Kita hidup di zaman sekarang, kamu jangan flashback ke masa lalu terus dong!”
“Mudah memang bilang move on, karena kamu tidak berada di posisiku. Coba kalau kamu yang kubully, kamu juga pasti tidak bisa memaafkan aku kan?”
“Kalian jangan bertengkar terus dong! Ini di rumah sakit, tidak boleh berisik. Apa kalian tidak malu bertengkar di sini? Kalau ada masalah bicarakan baik-baik di rumah. Jangan di tempat umum begini.”
Suasana hening kemudian. Sesekali terdengar langkah dokter dan pengunjung yang berlalu lalang. Udara segar yang mereka hirup, telah menyatu dengan aroma obat-obatan. Menambah nestapa penantian panjang itu.
Jarum jam terus berputar. Putaran itu terasa lebih lambat dari biasanya, bagi orang-orang yang tengah menanti seperti mereka bertiga.
Di ujung kejenuhan itu, keluarlah dokter yang menangani Anabel. “Keluarga dari pasien, tolong ikut saya ke ruangan.”
Langkah Angga dan sang dokter berpijak di atas ubin berwarna putih. Hingga tibalah mereka di sebuah ruangan yang tak begitu besar. Yup, ruangan milik dokter itu.
“Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami terpaksa melakukan dilatasi dan kuretase pada istri Anda. Ini kami lakukan karena bayi yang sudah tidak bernyawa di dalam kandungan istri Anda, sangat berbahaya bagi kesehatannya.”
Hancur sudah harapan Angga untuk memiliki jagoan kecil. Tangannya mengepal kuat. Jika saja tidak ada dokter di situ, dia sudah menggebrak meja di hadapannya.
Kalau bukan karena Alisha, Anabel tidak akan keguguran. Dia ternyata tidak berubah sama sekali. Dia justru jauh lebih licik dari sebelumnya.